pemkab muba pemkab muba pemkab muba pemkab muba pemkab muba
Kesehatan

Mengenal Stunting dan Upaya Menurunkan Prevalensi Stunting di Sumsel

186
×

Mengenal Stunting dan Upaya Menurunkan Prevalensi Stunting di Sumsel

Sebarkan artikel ini
Foto ilustrasi stunting pada anak (WHO)
pemkab muba pemkab muba

BERITAMUSI – Di tahun 2022, kasus stunting di Provinsi Sumatera Selatan berdasarkan hasil data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana atau yang biasa disingkat BKKBN, menunjukan penurunan sebesar 6,2%. Dimana pada tahun 2021 kasus stunting di Sumatera Selatan sebesar 24,8%, turun di tahun 2022 menjadi 18,6%.

Hal ini menjadikan Sumatera Selatan masuk ke dalam 3 provinsi dengan angka penurunan kasus stunting tertinggi di Indonesia.

Secara umum, kasus stunting di Indonesia pada tahun 2023 mengalami penurunan sebesar 21,6%.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo memberikan apresiasi berupa ucapan selamat atas prestasinya yang menjadi provinsi terbaik dan tertinggi angka penurunan kasus stunting di Indonesia.

Ia menargetkan pada tahun 2023 penurunan stunting di Sumatera Selatan dapat turun sebesar 5% agar bisa menyentuh angka 13% kasus.

“Untuk itu, perlu kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam mencapai target tersebut. Sebagai masyarakat, kita perlu mengedukasi diri sendiri mengenai isu stunting,” jelas dia.

Agar bisa mengenal stunting lebih jauh, yuk simak penjelasan lengkap di bawah ini!

Apa itu Stunting?

Menurut Kementerian Kesehatan, stunting adalah suatu kondisi dimana anak tidak dapat berkembang akibat kekurangan gizi yang berkepanjangan. Anak dengan stunting akan memiliki tubuh yang kecil dan perkembangan intelektual yang lambat jika dibandingkan dengan anak-anak normal seusianya.

Pendapat serupa juga diungkapkan oleh Aurima dkk (2021) yang menyatakan bahwa stunting adalah suatu keadaan gizi kronis yang diakibatkan oleh kurangnya gizi dalam waktu yang lama, yang pada akhirnya membuat anak menjadi lebih pendek dibandingkan standar usia mereka.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Stunting

Sari dkk (2023) menyatakan bahwa pengetahuan dan kebiasaan orang tua yang buruk dalam mengasuh anak menjadi faktor secara langsung maupun tidak langsung dari kondisi infeksi dan gizi buruk pada anak khusus dibawah umur 2 tahun.

Kemudian Mitra (2015) dalam artikel jurnalnya berpendapat bahwa tingginya angka stunting pada anak merupakan akibat masyarakat masih belum menyadari betapa seriusnya permasalahan stunting dibandingkan dengan permasalahan kurang gizi lainnya.

Dampak Stunting

Stunting berpotensi memperlambat perkembangan otak, dengan dampak jangka panjang berupa keterbelakangan mental, rendahnya kemampuan belajar, dan risiko serangan penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi hingga obesitas

Upaya Mencegah dan Menurunkan Angka Stunting

Dari penurunan prevalensi kasus stunting di Sumsel, upaya yang dapat ditiru dan diterapkan oleh pemerintah yaitu memasifkan gerakan satu keluarga minimal mengonsumsi dua telur, pengecekan pra nikah, pemeriksaan kesehatan ibu dan anak sejak dini, dan imunisasi posyandu terpadu.

Lalu upaya yang dapat diterapkan dari internal yaitu pemberian TTD (Tablet Tambah Darah) bagi para remaja putri, pemenuhan kebutuhan gizi sejak hamil, pemberian ASI eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan, dan pendampingan ASI dengan MPASI sehat berupa protein hewani pada anak usia 6-24 bulan seperti telur, ikan, ayam, daging dan susu.

Penulis: Kiran Ancela, Yusmanidar, Febina Zahra Maharani, Anissa Novrani, Angelienne Maria P.S

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *