oleh

Tepung Ubi dan Sagu Kini Jadi Potensi Ketahanan Pangan Non Beras

BANGKA – PT Bangka Asindo Agri (BAA) yang berada di Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tidak hanya mengolah ubi casesa menjadi tepung tapioka semata. Melainkan juga kini mengolah sagu menjadi berbagai produk.

Hal ini ternyata menjadi daya tarik Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia dan Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi untuk berkunjung ke perusahaan ini.

Melalui Asisten Deputi Pengembangan Agribisnis Holtikultura Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Yuli Sri Wilanti dan Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Antar Lembaga Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Syamsul Widodo, melihat secara langsung proses produksi dari pemilihan bahan baku hingga produk jadi seperti tepung tapioka hingga mi yang terbuat dari sagu.

Yuli Sri Wilanti dalam kesempatanya menjelaskan kunjungan ke PT BAA ini dalam rangka melihat proses pengolahan singkong dan sagu. “Kita melihat bagaimana perusahaan swasta ini mampu mengembangkan pemberdayaan masyarakat dan mengoptimalkan potensi produk unggulan yang dimiliki Pulau Bangka,” kata Yuli.

Diakuinya produk tepung sagu dari singkong dan sagu ini memiliki potensi yang besar untuk ketahanan pangan nasional non beras.

“Perusahaan ini mampu membuat produk zero waste, jadi semuanya terpakai mulai dari di Hong, sagu dan limbahnya pun bisa dipakai menjadi makanan ternak dan biogas , sehingga kebutuhan listrik untuk pabrik ini bisa dipenuhi dari biogas yang dihasilkan dari limbahnya,” ujar Yuli.

Diakuinya produk singkong dan sagu ini sangat bagus sebagai bahan pangan non beras yang diolah menjadi tepung tapioka dan tepung sagu.

“Tepung tapioka dan sagu ini merupakan bahan pangan yang sangat bagus dan sehat karena free gluten, rendah kadar gula dan rendah glikemik, tinggal bagaimana melakukan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya pangan sehat dalam kehidupan,” tukas Yuli.

Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Antar Lembaga Kementrian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Syamsul Widodo mengatakan pasokan ubi/singkong di PT BAA ini masih kurang sekitar 50 persen dan sagu pun masih butuh 50 persen lagi.

“Jadi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) berharap bisa bekerjasama dengan PT BAA untuk menjadi pengepul-pengepul di level Desa. Dan itu bisa memanfaatkan dana desa untuk modal dana BUMD. Jadi hal ini tentunya akan menjadi peluang yang besar untuk membuka pikiran teman-teman dari desa yang ada di Pulau Bangka ini,” harapnya.

Sementara, Direktur utama PT BAA, Firdianto mengatakan kunjungan ini dalam rangka penjajakan peluang untuk bekerjasama atas potensi daerah yang ada. Terutama isu pangan ubi/singkong dan sagu berbasis ini ada di Bangka dan sedang kita kembangkan.

“Apalagi isu pangan berbasis ditingkat nasional ini lagi hot (panas), sehingga banyak sekali tamu yang datang ke Bangka. Nah dengan adanya pangan berbasis tingkat nasional ini, kita mencoba berinovasi terus dan mengembangkannya. Karena hal ini akan menjadi percontohan diberbagai daerah Indonesia,” katanya. (Doni)

Komentar

Berita Lainnya