oleh

Wisata Hiu Paus di Gorontalo Harus Utamakan Konservasi

  • Tanggal 30 Agustus 2020, berbagai eleman masyarakat di Gorontalo memperingati Hari Hiu Paus Internasional. Berbagai kegiatan dilakukan, seperti bersih pantai, lomba mewarnai, pembuatan vlog, testimoni, hingga menggelar webinar dengan menghadirkan para pembicara dari kalangan pesohor, semisal Kaka Slank, Hamish Daud, serta Miss Scuba 2017; Madhina Suryadi.
  • Momen tersebut dijadikan sebagai deklarasi dukungan terhadap pengelolaan destinasi wisata hiu paus di Pantai Botubarani secara mendunia dan berkelanjutan, yang mencakup kelembagaan pengelolaan yang profesional dengan kapasitas yang terus dikuatkan, hingga pengaturan tata ruang laut atau zonasi sesuai penetapan pencadangan kawasan konservasi perairan.
  • Tantangan saat ini adalah menghidupkan kembali wisata minat khusus Hiu Paus di Botubarani agar kembali seperti sediakala, dengan melakukan pembenahan di dalam pengelolaan wisata berbasis konservasi serta menerapkan protokol kesehatan COVID-19.
  • Khusus untuk perilaku pemberian makan, hiu paus dapat berhenti bergerak menuju perairan lain dalam siklus hidupnya karena jaminan mendapatkan makanan. Aktivitas pemberian makan secara langsung kepada hiu paus sangat dianjurkan untuk tidak dilakukan.

Munculnya hiu paus [Rhincodon typus] di pantai Botubarani, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Tak hanya lokal, wisatawan mancanegara ramai mendatangi pesisir pantai itu demi melihat satwa laut tersebut. Fenomena hadirnya satwa yang dikenal jinak itu, membuat salah satu perusahaan suplemen minuman membuat iklan hiu paus di televisi.

Keseruan berenang bersama hiu paus menjadikan Pantai Botubarani dikunjungi ribuan orang selama periode kemunculannya. Bahkan orang-orang rela antri demi berenang atau sekadar melihat hiu paus dari atas perahu. Terlebih, akses ke pantai Botubarani sangat mudah. Jarak dari pesisir ke tempat hiu paus bermain hanya sekira 15 meter, cukup berenang.

Pada 30 Agustus 2020 kemarin, yang diperingati sebagai Hari Hiu Paus Internasional, berbagai elemen masyarakat mulai dari pegawai negeri sipil, TNI Angkatan Laut, Kepolisian, kelompok penyelam, hingga berbagai komunitas ikut merayakannya di Pantai Botubarani.

Berbagai kegiatan dilakukan, seperti bersih pantai, lomba mewarnai, pembuatan vlog, testimoni, hingga webinar dengan menghadirkan pembicara dari kalangan pesohor, semisal Kaka Slank, Hamish Daud, serta Miss Scuba 2017, Madhina Suryadi.

Momen Hari Hiu Paus Internasional yang mengangkat tema besar “Protect Whale Shark for Our Legacy” dijadikan sebagai deklarasi dukungan terhadap pengelolaan destinasi wisata hiu paus di Pantai Botubarani secara mendunia dan berkelanjutan.

Dalam keterangannya, panitia penyelanggara menjelaskan bahwa pengelolaan wisata hiu paus di Gorontalo dilakukan secara mendunia dan berkelanjutan. Kegiatan ini dilakukan secara profesional, berdasarkan zonasi pencadangan kawasan konservasi perairan, terhubung dengan inisiasi geopark Gorontalo, serta ada program yang sinergis dengan masyarakat.

Destinasi wisata hiu paus di Pantai Botubarani ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan stakeholder pariwisata dan berkontribusi dalam pembangunan daerah. Namun yang lebih penting, upaya ini memastikan terpeliharanya ekosistem perairan sebagai habitat nyaman hiu paus dan biota laut lainnya.

Seperti apa tantangan besar pengelolaan wisata hiu paus ini?

Andry Indryasworo Sukmoputro, Kepala BPSPL Makassar menjelaskan, tantangan saat ini adalah menghidupkan kembali wisata minat khusus hiu paus di Botubarani seperti sediakala. Tentunya, dengan pembenahan pengelolaan berbasis konservasi dan tetap menerapkan protokol kesehatan COVID-19.

Selain itu, perlu ada lembaga pengelola kawasan konservasi yang kredibel sesuai mandatnya. Dalam hal ini, terkait sektor kelautan dan perikanan, bekerja sama dengan bidang pariwisata.

“Karena ikon wisata di Botubarani adalah hiu paus, satwa liar yang memiliki migrasi sangat tinggi dan mendapat perlindungan penuh,” katanya.

Perlindungan ini berdasarkan Kepmen KP No. 18 tahun 2013 tentang Perlindungan Penuh Hiu Paus. Upaya yang dilakukan dengan mengatur kehadiran wisatawan lokal maupun internasional berdasarkan daya dukung dan daya tampung wisatanya, termasuk untuk kenyamanan hiu paus itu sendiri [animal walfare].

Menurut Andry, kehadiran wisatawan dapat diatur melalui aplikasi online agar tercatat dan terdata serta transparan. Wisatawan tidak harus melihat langsung hiu paus, bisa dilakukan dengan hadir ke Pusat Informasi Hiu Paus [Whale Shark Center] yang diharapkan dapat dibangun Pemerintah Daerah, yang bisa diintegrasikan dengan wisata diving di Pantai Olele dengan keindahan terumbu karangnya.

Andry menuturkan, waktu puncak hadirnya hiu paus mulai Mei hingga Agustus. Hal ini berdasarkan hasil survei dan rekapan data kemunculan penampakan secara visual, photo ID maupun acoustic tagging. Sedangkan di bulan lain, tetap dapat bertemu walaupun lebih jarang muncul.

“Kita berharap wisata minat khsusus hiu paus Botubarani dapat berkualitas dan berkelanjutan,” ujarnya.

Sebelumnya, Sayuti Djau yang merupakan peneliti dan akademisi dari Universitas Muhamadiyah Gorontalo mengatakan, hal penting yang perlu dipahami tentang hiu paus suka adalah sifat bermigrasi jarak jauhnya. “Melihat hiu paus merupakan wisata minat khusus, untuk itu sebaiknya wisatawan dibatasi.”

Menurut Sayuti, diperlukan pemahaman menyeluruh ke stakeholder atau para pihak terkait keberlanjutan habitat hiu paus di Desa Botubarani. Bahkan, jika diamati empat tahun terakhir sejak tahun 2016, ada tiga kendala besar.

Pertama, petunjuk teknis yang rinci untuk perencanaan dan pengelolaan kawasan belum maksimal. Kedua, data dan informasi terkait sebaran, populasi maupun informasi habitat hiu paus minim. Ketiga, ada konflik kepentingan,” tuturnya.

Lokasi pantai Botubarani merupakan salah satu Kawasan Konservasi Perairan Daerah [KKPD] di Kabupaten Bone Bolango seluas 35 hektar. Ini berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Gorontalo No. 141 tahun 2019 tentang Pencadangan Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir dan Pulau Pulau Kecil Provinsi Gorontalo tanggal 16 April 2019.

Data kemunculan hiu paus di Botubarani 2016-2018. Sumber: BPSPL Makassar

Landasan pengelolaan wisata

Dalam buku “Hiu Paus di Pantai Botubarani” [BPSPL Makassar, 2019]dijelaskan bahwa pola kemunculan hiu paus secara alami menjadi landasan pengelolaan wisata. Waktu muncul dan tidaknya dalam satu tahun dapat dimanfaatkan secara baik untuk wisata.

Mempertahankan sisi liar hiu paus menjadi alasan paling penting dalam aturan ini. Hiu paus sebagai hewan bukan peliharaan dan hidup di perairan bebas harus tetap memiliki jarak dengan manusia.

Disadari atau tidak oleh pengelola wisata hiu paus di Pantai Botubarani, pemberian makan terus menerus telah mengubah perilaku hiu paus. Individu yang muncul cenderung kembali karena jaminan mendapatkan makanan.

Pola pergerakan hiu paus pun mulai berubah, dari bergerak aktif di perairan bebas menjadi terpusat di satu tempat yang kecil dengan jumlah banyak dan dalam waktu lama. Selain itu, hiu paus juga menjadi sangat jinak, dan lebih diam.

Patut diperhatikan, adanya pemberian makan dari atas perahu membuat hiu paus selalu mengarahkan mulut ke permukaan perairan. Saat posisi tersebut, mulut hiu paus sesekali mengalami benturan dengan badan perahu yang bisa mengakibatkan luka. (Sumber:mongabay.co.id)

Komentar

Berita Lainnya