oleh

Sering Terjadi, Konflik Manusia dengan Buaya di Bangka Belitung

  • Sekitar 97 sungai mengalir di Pulau Bangka, Kepulauan Bangka Belitung. Sebagian besar sungai tersebut menjadi habitat buaya muara [Crocodylus porosus]. Perubahan kondisi sungai menyebabkan konflik antara manusia dengan buaya muara tidak dapat dihindari.
  • Berdasarkan data BKSDA Sumatera Selatan Wilayah Bangka Belitung, angka konflik buaya dengan manusia di Bangka Belitung sejak 2016 hingga 24 Agustus 2020 mencapai 72 kasus. Sebanyak 13 orang meninggal dunia.
  • Buaya muara merupakan buaya paling ganas dibandingkan jenis buaya lainnya. Kehilangan habitat dan berkurangnya pakan alami juga berpengaruh besar terhadap terjadinya konflik manusia dengan buaya.
  • Buaya muara mempunyai peran penting dalam sebuah ekosistem, merupakan top predator.

Sekitar 97 sungai mengalir di Pulau Bangka yang luasnya sekitar 1.169.354 hektar. Sebagian besar sungai di wilayah ini merupakan habitatnya buaya muara [Crocodylus porosus]. Perubahan kondisi sungai yang terjadi, menyebabkan konflik antara buaya muara dengan manusia tidak dapat dihindari.

Dokumen IKPLHD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tahun 2019 menunjukkan, sebagian besar kadar total zat padat tersuspensi yang berada di aliran sungai di Pulau Bangka, kondisinya melebihi baku mutu. Hal ini diakibatkan karena berbagai kegiatan alih fungsi lahan serta pertambangan. Keadaan ini juga yang diduga menjadi satu satu pemicu terjadinya konflik antara manusia dan buaya muara.

“Konflik buaya dengan manusia di Bangka, mulai terjadi 10 tahun terakhir. Sebelumnya tidak ada. Masyarakat bisa hidup berdampingan dengan buaya. Berbeda dengan sekarang, sungai di Bangka sudah tidak ada bentuk lagi, yang hampir semuanya tercemar,” kata Admi [62], keturunan ketiga pawang buaya di Desa Kayu Besi, Kecamatan Puding Besar, Kabupaten Bangka, kepada Mongabay Indonesia, Senin [24/8/2020].

Buaya muara [Crocodylus porosus] ini berada di PPS Alobi Fooundation Bangka Belitung. Konflik manusia dengan buaya salah satu penyebabnya adalah rusaknya sungai-sungai di wilayah Bangka Belitung. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia

Desa Kayu Besi adalah lokasi ditangkapnya seekor buaya muara dengan panjang 4,8 meter, berat 500 kilogram, dan umur sekitar 112 tahun, yang sempat viral di sosial media. Buaya ini mati dan kemudian dikuburkan persis di pinggiran Sungai Kayu Besi oleh Admi bersama dua pawang lainnya dari Desa Bukit Layang.

Dalam kepercayaan masyarakat di Bangka, buaya muara adalah hewan yang bertugas menjaga sungai dari niatan buruk orang luar. “Tetapi, kami terpaksa menangkap buaya satu ini. Sudah menjadi hukum turun temurun dalam budaya kami, jika buaya mengganggu manusia, harus ditangkap dan dibunuh. Sejauh ini sudah tiga korban meninggal di Desa Kayu Besi karena diterkam buaya tersebut,” kata Admi.

Dijelaskan Admi, sebelum tiba di Sungai Kayu Besi, buaya tersebut telah menyusuri hampir semua sungai besar di Pulau Bangka, seperti Sungai Batu Rusa, Sungai Kampung Pasir di Sungailiat, Sungai Mapur di utara Bangka, Sungai Layang, hingga Sungai Selan di Bangka Selatan.

“Sungai-sungai yang sebelumnya dikunjungi buaya itu kondisinya sudah rusak akibat tambang timah. Dia menetap di Sungai Kayu Besi karena sampai saat ini masih terbebas pencemaran,” paparnya.

72 kasus konflik manusia dan buaya

Berdasarkan data BKSDA Sumatera Selatan Wilayah Bangka Belitung, angka konflik buaya dengan manusia di Bangka Belitung dari 2016 hingga 24 Agustus 2020 mencapai 72 kasus. Sebanyak 13 orang meninggal dunia.

“Saya menduga aktivitas tambang timah mejadi penyumbang terbesar kerusakan sungai, tetapi perlu dibuktikan kajian lebih lanjut. Hal inilah yang kemudian menjadi penyebab, antara manusia dan buaya tidak ada lagi jarak, karena habitat dirusak, buaya akan mencari tempat yang masih baik, yang kemudian bisa menyebabkan konflik,” kata Septian Wiguna, Kepala Resort Konserasi Wilayah Bangka, BKSDA Sumatera Selatan.

Hingga saat ini, belum ada angka pasti terkait jumlah populasi buaya muara di Pulau Bangka. Tetapi, data BKSDA Sumsel Wilayah Bangka menyatakan ada 24 kantong habitat yang tersebar di tiga kabupaten, yakni di Kabupaten Bangka, Bangka Tengah, dan Bangka Selatan.

“Penelitian terkait populasi buaya di Pulau Bangka menjadi sangat penting, dan kami terbuka akan hal ini. Jika populasi dapat dihitung, akan diketahui apakah jumlah buaya sudah berlebihan atau justru terancam,” papar Septian.

Terkait konflik, BKSDA sedang menyusun konsep surat edaran kepada kepala desa yang wilayahnya terindikasi dekat habitat buaya. Isinya beupa imbauan, contact center, dan langkah yang harus ditempuh bila terjadi berkonflik. “BKSDA Sumsel Wilayah Bangka bersama Alobi, Dinas Kehutanan, dan PT. Timah juga sedang mengupayakan penangkaran buaya untuk solusi jangka panjangnya,” terangnya.

Langka Sani, Ketua Yayasan Konservasi Pusat Penyelamatan Satwa [PPS] Alobi Foundation Bangka Belitung, dalam diskusi terkait konflik buaya di Pulau Bangka yang diadakan wowbabel.com, belum lama ini menyatakan, setiap kali melakukan evakuasi buaya di lokasi dipastikan terdapat aktivitas penambangan timah yang masih aktif.

“Selain alih fungsi lahan yang menjadi perkebunan skala besar di hulu sungai, musim kawin pada bulan Agustus juga menjadikan buaya lebih agresif,” katanya.

Penyebab konflik dan mitigasi

Helen Kurniati, Peneliti Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia [LIPI] menyatakan buaya muara merupakan jenis terganas di antara tiga jenis buaya yang ada di Indonesia. Sifat ganasnya sudah ada sejak baru menetas dari telur.

“Bahkan, saya pernah digigit ketika berupaya memindahkan telurnya,” tuturnya kepada Mongabay Indonesia melalui telepon, Senin [24/8/2020].

Namun, faktor lain seperti kehilangan habitat dan berkurangnya pakan alami juga berpengaruh besar terhadap terjadinya konflik buaya dengan manusia. “Kerusakan habitat tentu saja menjadi salah satu faktor kuat terjadinya konflik, khusus di Pulau Bangka, kerusakan habitat didominasi adanya aktivitas tambang timah. Selain itu, suara bising yang dihasilkan tambang timah bisa juga menyebabkan buaya-buaya bermigrasi ke wilayah lain hingga masuk ke pemukiman warga. Ingat, buaya muara lebih senang dengan suasana sunyi,” katanya.

Buaya muara juga merupakan spesies dengan ukuran tubuh paling besar dan panjang. Artinya, makanan yang tersedia juga harus berukuran besar, seperti monyet dan kera. Berdasarkan P.106/MENLHK/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi, buaya muara merupakan satwa dilindungi.

“Buaya juga memiliki kecenderungan, jika sudah satu kali memangsa manusia, seterusnya akan memilih manusia sebagai buruannya. Oleh karena itu, jika ada buaya yang menerkam manusia, harus segera ditangkap dan direlokasi,” lanjutnya.

Maraknya pertambangan ilegal di sekitar sungai di Pulau Bangka telah mengakibatkan rusaknya habitat buaya yang memicu terjadinya konflik dengan manusia. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia

Ditambahkannya, berkurangnya pakan alami buaya memang menjadi salah satu faktor pemicau konflik buaya dan manusia di Pulau Bangka. “Hal ini dikarenakan belum ada aturan jelas mengenai penggunaan senapan angin di tingkat masyarakat. Sementara, berburu monyet, kera, dan tupai sudah menjadi hal yang biasa di kalangan masyarakat,” tegasnya.

Menurut Helen, salah satu upaya mitigasi yang dapat dilakukan pemerintah setempat adalah dengan cara memasang papan imbauan, bahwasannya lokasi tersebut habitat buaya, disamping terus memberikan edukasi terhadap masyarakat.

“Karena buaya juga mempunyai peran penting. Kasarnya, walaupun sering dianggap sebagai pengganggu, buaya muara itu memiliki fungsi luar biasa dalam sebuah ekosistem, sebagai top predator,” tegasnya. (Sumber:mongabay.co.id)

Komentar

Berita Lainnya