oleh

Saudara dalam Sejarah, Kisah Eksil 1965 untuk Indonesia

Ilustrasi. (CNN Indonesia)
Ilustrasi. (CNN Indonesia)

JAKARTA I Tahun 1960-an, Soekarno mengirim pemuda-pemudi Indonesia ke luar negeri untuk belajar. Namun ribuan dari mereka kemudian tak bisa kembali ke Indonesia karena tragedi 1965, saat sejumlah perwira tinggi militer RI dibunuh, memicu pembunuhan dan penindasan massal di berbagai daerah di Indonesia terhadap mereka yang dianggap komunis atau ‘kiri’.

Pada masa kelam itu, para pendukung Soekarno ditumpas. Tak jelas betul siapa salah siapa benar. Yang terang, para mahasiswa Indonesia yang disekolahkah Soekarno ke luar negeri mendadak menjadi orang buangan. Paspor mereka dicabut.

Tak bisa pulang, para mahasiswa buangan itu membangun kehidupan baru di negeri asing, berpindah dari satu negara ke negara lain, membentuk ikatan kuat bersama kawan-kawan senasib.

Kisah eksil 1965 itu diangkat dalam film berjudul ‘Saudara dalam Sejarah’ yang diputar di Kantor Indonesia untuk Kemanusiaan, kawasan Cikini, Jakarta Pusat, pada 24 Maret, bertepatan dengan Hari Internasional untuk Hak atas Kebenaran dan Martabat Korban Pelanggaran Berat Hak Asasi Manusia.

Sang sutradara, Amerta Kusuma, berharap film Saudara dalam Sejarah dapat didistribusikan dan ditonton oleh seluruh anak muda Indonesia agar mereka mengerti tentang sejarah kasus-kasus pelanggaran HAM yang terjadi semasa Orde Baru.

“Semakin banyak yang menonton, semakin banyak pula yang tahu soal perjuangan para eksil 1965 ini sehingga bisa terus menjadi bahan diskusi, khususnya bagi kaum muda,” kata Amerta di Jakarta.

Salah satu profil eksil 1965 yang diceritakan dalam film Amerta itu ialah seorang kakek bernama Sarmadji. Saat Gerakan 30 September 1965 pecah di Indonesia, ia sedang menempuh studi di China. Sarmadji tak tahu apa-apa. Tapi paspornya dicabut dan dia dipindah ke Belanda.

Tahun terus berganti, kawan-kawan Sarmadji sesama eksil wafat di pembuangan tanpa bisa menjejakkan kaki kembali ke negeri yang mereka cintai. Untuk mengenang mereka, Sarmadji mengumpulkan ribuan buku tentang para eksil itu. Ia lantas membuat perpustakaan umum yang disebutnya sebagai Perkumpulan Dokumentasi.

Sementara sejumlah eksil yang tinggal di Swedia hingga kini terus berziarah ke makam sahabat-sahabat seperjuangan mereka yang telah meninggal lebih dulu.

Usai pemutaran film Saudara dalam Sejarah, koleksi foto digital tentang para eksil 1965 ditayangkan. Foto-foto itu milik Rosa Panggabean, jurnalis fotografer Antara. Di antara foto-foto itu ialah potret diplomat Ibrahim Isa, Chalik Hamid, dan Sarmadji.

Rosa sempat mengikuti kehidupan sehari-hari eksil 1965 yang tinggal di Belanda seperti Ibrahim Isa dan Chalid Malik.

Menurut Rosa, para eksil itu rindu kepada Indonesia. Meski tinggal di luar negeri, mereka memilih makan panganan khas Indonesia seperti soto. Mereka juga punya kalender yang berasal dari Indonesia.

Sejarawan Bonnie Triyana meminta seluruh anak muda Indonesia untuk belajar sejarah, khususnya tentang para eksil 1965, untuk mencari kebenaran.

Ia menyebut Saudara dalam Sejarah cukup menyentuh. Ia pun berharap karya-karya sastra dan film dapat menceritakan kembali sejarah yang dilupakan.

“Film ini mengajak kita merenung, ke mana saja kita selama ini,” ucap Pemimpin Redaksi Historia itu. (CNN)

Komentar

Berita Lainnya