oleh

Petualangan Sunardi di Jalur Tani Sampai Kini…!

PALEMBANG, – Usianya kini tak muda lagi. Dua matanya pun serasa menahan sakit. Namun, kegigihan menjemput rezeki dari Sang Maha Pencipta tiada pernah lapuk oleh waktu.

Namanya Sunardi. Perjalanan hidup lelaki sederhana, itu dalam menaklukan karang nasib agaknya tak sependek namanya.

Anak perantauan asal Boyolali, Jawa Tengah ini menginjakkan kakinya di bumi Palembang tepat di tahun 1979.

Selulus Sekolah Pendidikan Guru tahun 1971, Sunardi—akrab disapa Mbah Nardi coba mengadu peruntungannya dengan modal secukupnya.

Maklum, kedua orangtuanya hanyalah petani penggarap. Yang sehari-harinya menerima upahan dari tuan tanah.

“Waktu tamat SPG, kebetulan kakak ipar saya menawarkan untuk cari kerja ke Palembang saja. Katanya cari kerja di Palembang gampang. Akhirnya saya penuhi tawaran itu…,” kenang Mbah Nardi di sebuah kesempatan.

Setiba di Palembang. Mbah Nardi, diperkenalkan dengan seorang pejabat di Agraria yang berdomisili di Palembang. Awal-awal merantau di kota ini, Mbah Nardi merasa serba salah. Pergi pagi pulang pagi bahkan seringkali ia jalani.

Dari bercocok tanam ubi kayu, menanam sayuran bayam, hingga membudidayakan cabai keriting. Bukan itu saja. Mbah juga bertahun-tahun lamanya kerja bangunan.

“Dulu, sebelum jadi guru. Gawe apo bae saya coba. Kuli bangunan, cocok tanam ubi, sampai menanam cabai keriting,” Mbah Nardi tersenyum kecil.

Hidup di tanah rantau memang tiada seindah yang dibayangkan. Hari-hari Nardi selalu dihabiskan untuk kerja, kerja, dan kerja. Di kala kebanyakan para kuli lepas selesai kerja langsung istirahat, berbeda dengan Mbah Nardi.

Setiap kali menunaikan kerjaan sebagai kuli, dia pun tetaplah memosisikan dirinya selaku pendidik nan ramah.

“Orang-orang dahulu sering panggil saya dengan nama Ujang. Pernah satu hari saya disuruh ngecat oleh pemilik rumah tempat saya ngontrak. Anaknya kebetulan masih kecil-kecil. Bila ada PR, anaknya saya ajari. Dapat nilai 10 terus. Melihat anaknya dapat nilai 10, orangtua anak itu tanya saya. ‘Ujang kamu tamat apa…?’. SPG, Pak..Jawab Nardi. Begini saja, Ujang lebih baik tinggal di sini saja…!,” seketika Nardi minta waktu untuk berpikir dulu.

Berselang sebulan kemudian. Mbah pun dengan senang hati ‘hijrah’ ke rumahnya Pak Sugi. Letak rumah itu persis di Jalan Kapten A Rivai, Kota Palembang. Kini hari-hari Nardi bak mendayung sampan di tambak emas. Namun begitu, Nardi sedikit beruntung.

“Akhirnya, saya tak dapat nolak. Karena Pak Sugi, orangnya baik,” cetusnya.

Pun tak banyak yang mengetahui Mbah Nardi juga pernah menjadi ‘anak buah’ di Dinas Perhubungan sekitar tahun 1980-an. Kala itu ia dipercaya untuk menagih uang setoran dari para supir baik antar kota maupun antar provinsi.

Sampai-sampai uang honor yang diterimanya melebihi gaji seorang Pegawai Negeri Sipil. Angkanya…? Rp 15.000 dalam sebulan. Belum lagi tips lainnya. Semisal, rokok, beras, sembako, dan banyak lagi yang lainnya.

Jalan panjang Nardi di urusan transportasi tak sampai di situ. Merasa lebih nyaman jadi tukang tagih uang dari sopir truk, Nardi bahkan sempat terlambat memproses SK pengangkatannya sebagai tenaga guru.

Bertepatan di tahun 1985, Nardi memeroleh tugas baru sebagai calon pegawai negeri di SD yang terletak di seputaran Internasional Plaza Palembang.

“Usia saya sudah senja, Dik. Jadi orang kaya…? Tak mungkinlah. Biarlah saya menjadi sebutir garam kasar saja,” Mbah Nardi sedikit tertunduk.

Dan kini, Mbah Nardi berhasil melewati abdi sipil negara di jalur pendidik selama belasan tahun dengan golongan terakhir berpangkat IV A.

“Kalau saya ceritoke panjang, Dik. Tapi, Alhamdulillah sekarang ini (masa pensiun dari guru) saya kembali lagi ke gawe dulu. Apo itu? Yo, jadi pawang tanaman cabai. ” uji Nardi setengah kelakar.

Memang tak ada gading yang tak retak. Ujar Mbah Nardi, bagaimana nanti seandainya orang-orang lebih mementingkan ‘lambung’ sendiri dibanding untuk kepentingan masyarakat banyak.

“Itu selalu terngiang di telinga saya, Dik. Pernah saya berpikir apa jadinya negara kita ini jika tak ada petani. Apa jadinya anak cucu kito nanti, kalau kito ndak mau bertani. Syukur alhamdulillah di kelompok tani ini saya bersama-sama Pakde Sugiono, Pak Rusmin, Pak Rusli, Dik Arwen Wijaya, Dik Pendi, Dik Mister Arjeli Syamsudin, Mas Parjo, Dik Rey dan seluruh anggota kelompok, serta warga komplek ini yang selalu setia membesarkan nama kelompok. Saya bangga dengan mereka. Ternyata masih ada anak-anak generasi muda yang peduli pada profesi tani,” tutup Mbah dengan nada seadanya. (Rsdjafar)

Komentar

Berita Lainnya