oleh

Pertama di Indonesia, Sampah RDF Jadi Pengganti Batu Bara

  • Pada lahan seluas 3 hektare, dibangun Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) berteknologi refuse-derived fuel (RDF), tepatnya di Desa Tritih Lor, Kecamatan Jeruklegi, Cilacap, Jawa Tengah
  • Fasilitas TPST  itu mampu mengolah 120 ton sampah yang diolah dengan teknologi RDF yang hasilnya menjadi bahan bakar pabrik semen
  • Hasil pengolahan sampah dengan metode RDF berbentuk energi akan mengurangi konsumsi batu bara, sekaligus mengatasi masalah sampah
  • Memproses sampah menjadi RDF disebut juga akan meminimalkan pencemaran lingkungan baik pencemaran air maupun udara, sehingga lebih ramah lingkungan

Setelah pembangunan yang dilangsungkan sejak tahun 2017 silam, akhirnya tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) refuse-derived fuel (RDF) di Desa Tritih Lor, Kecamatan Jeruklegi, Cilacap, Jawa Tengah (Jateng) mulai dioperasikan sejak Selasa (21/7) lalu. Fasilitas RDF ini berada pada areal seluas 3 hektare dan merupakan yang pertama kalinya di Indonesia dengan menelan biaya investasi Rp90 miliar. Bahkan disebutkan jika RDF merupakan tonggak baru dalam penanganan sampah di tanah air.

Pembangunan RDF yang berada di Cilacap melibatkan berbagai kementerian seperti Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kedutaan Besar Denmark-DANIDA, Pemprov Jateng, Pemkab Cilacap dan PT Solusi Bangun Indonesia (SBI) yang sebelumnya bernama Semen Holcim.

RDF merupakan teknologi pengolahan sampah melalui proses homogenizers menjadi ukuran yang lebih kecil. Hasilnya sebagai sumber energi terbarukan dalam proses pembakaran, sebagai pengganti batu bara. Pada saat peresmian, ada sejumlah menteri yang hadir di antaranya adalah Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut B Pandjaitan, Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral Arifin Tasrif, dan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo.

Direktur Jenderal (Dirjen) Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya dan Beracun (PSLB3) KLHK Rosa Vivien Rahmawati mengatakan bahwa pengolahan sampah dengan sistem RDF merupakan tonggal baru pengelolaan sampah di Indonesia. Dengan memproses menjadi RDF, maka akan sangat mengurangi pembuangan sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA). “Bahkan, dengan adanya RDF sampah dapat diolah menjadi energi,” jelasnya.

Dengan mengubah sampah menjadi RDF, maka produknya dapat sebagai pengganti batu bara dalam industri semen maupun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara. Inilah mengapa disebut sebagai tonggak sejarah baru pengolahan sampah, karena produknya dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar. “Potensinya sangat besar, apalagi di Indonesia ada 34 titik pabrik semen dan 50 lebih PLTU. Dalam satu hari, ada 28 ribu ton sampah yang dapat diolah,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan bahwa jika produk sampah RDF ini akan dapat dijadikan bahan bakar di PLTU, sehingga akan mengurangi konsumsi batu bara. “Dari studi yang saya lihat, hasil olahan sampah ini, paling tidak akan memberikan substitusi 3% dari kebutuhan batu bara. Sehingga sangat membantu, apalagi, biayanya lebih murah jika dibandingkan dengan batu bara,”ujarnya.

Menurutnya, biaya produksi olahan sampah dengan sistem RDF membutuhkan Rp300 ribu/ton setiap harinya atau sekitar 20 US dollar. Sedangkan untuk batu bara, dalam satu ton mencapai 40-50 US dollar. Padahal nilai kalorinya sampai 3.000 kalori per ton. “Dengan begitu, maka biaya produksi pengolahan sampah menjadi RDF lebih efisien jika dibandingkan dengan memakai batu bara,” katanya.

Olah Sampah Perkotaan

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Cilacap Awaluddin Muri yang dihubungi Mongabay pada Jumat (24/7) mengatakan bahwa TPST RDF Jeruklegi mengolah sampah sebanyak 120 ton setiap harinya. Kalau setiap bulan berarti mencapai 3.600 ton. “Kapasitas mesin RDF mampu mengolah sampah sebanyak 120 ton setiap harinya. Tetapi, dalam uji coba yang dilakukan, ternyata mesih mampu memproses hingga 150 ton per hari. Hanya saja, operasional saat sekarang tetap pada 120 ton sampah,”katanya.

Sampah sebanyak itu merupakan sampah perkotaan di Cilacap seperti Cilacap Selatan, Cilacap Tengah, dan Cilacap Utara serta ditambah dengan Kecamatan Kesugihan dan Jeruklegi. “Jadi seluruh sampah di perkotaan ditambah dengan kecamatan tersebut totalnya mencapai 120 ton. Dari pemrosesan sampah sebanyak 120 ton, maka akan menghasilkan RDF sebanyak 405-50 ton RDF. Saat sekarang, kami kerja sama dengan PT SBI yang membeli produknya. Harganya mencapai Rp300 ribu per ton,”jelas Awaluddin.

Secara terpisah, Wakil Gubernur (Wagub) Jateng Taj Yasin mengakui bahwa persoalan sampah di Jateng masih menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama, karena tidak mudah. “Sampah di Jateng menjadi PR kita bersama. Masih banyak daerah yang hanya menggunakan metode penimbunan. Maka, dengan cara itu, membutuhkan lahan yang luas. Selain itu, pengurangan sampah berjalan lambat, air lindi mencemari lingkungan sekitar dan ada bahaya gas metana bagi lingkungan,”kata Wagub saat ikut acara peresmian.

Tetapi, lanjutnya, dengan pengolahan sampah yang baik, bakal menghasilkan output yang bermanfaat serta bernilai ekonomis. “Seperti halnya pengolahan sampah menjadi RDF ini, jelas lebih efisien karena bisa dengan lahan sempit dan felksibel. Bahkan, dengm sistem RDF mampu mengurangi emisi 19 ribu ton CO2 emisi serta emisi gs metana. Potensinya juga besar, karena dapat sebagai pengganti batu bara. Meski investasi awal cukup besar, tetapi juga sebanding dengan manfaatnya. Karena itulah, ini menjadi ‘pilot project’ di Jateng juga dan dapat dikembangkan ke daerah-daerah lainnya,”ujar Wagub.

Pada waktu meresmikan TPST RDF Jeruklegi Cilacap, Menko Luhut menyampaikan bahwa penerapan teknologi RDF merupakan upaya untuk meningkatkan pengelolaan persampahan di Indonesia. Diharapkan agar pilot project tersebut menjadi titik balik pengelolaan sampah di tanah air yang masih menjadi persoalan pelik.

“Harus ada terobosan dalam pengelolaan sampah sehingga dapat mengurangi ketergantungan pengelolaan sampah kota dan kabupaten ke TPA. Sebab, selama ini keberadaan TPA selalu menjadi masalah lingkungam dan sosial. Semoga teknologi RDF ini dapat menjadi contoh bagi daerah-daerah lainnya di Indonesia,”jelasnya.

Saat sekarang, pemerintah sedang memetakan potensi serta membuat aturan-aturan teknis untuk mendorong potensi pemanfaatan RDF sebagai alternatif pengelolaan sampah di berbagai daerah di Indonesia. Ia juga sepakat untuk membuat fasilitas RDF di sejumlah daerah untuk mengatasi persoalan sampah. “Kita sepakat untuk membikin RDF di daerah. Sehingga sampah yang mencapai 28 ribu ton setiap hari akan dapat diselesaikan,”ujarnya.

Luhut mengatakan bahwa pihaknya akan melibatkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk ikut serta dalam membangun teknologi ini, sehingga semuanya buatan anak bangsa. Luhut segera melaporkan masalah RDF tersebut kepada Presiden Joko Widodo.

Nantinya, semoga biaya pembuatan teknologinya berkisar antara Rp70 miliar hingga Rp80 miliar setiap unitnya. “Saya kira kalau pembuatannya banyak, maka cost akan bisa ditekan. Sehingga kalau rata-rata sampah di daerah mencapai 200 ton ke bawah, akan dapat dilaksanakan. Bahkan, bisa diterapkan di tingkat kecamatan,”kata dia.

Menurut Luhut, Presiden menekankan kepada para pembantunya untuk merampungkan masalah sampah di Indonesia. “Saat sekarang ada satu alternatif yakni RDF. Sehingga diharapkan pada 2020 atau paling lambat 2021 akan dapat dibangun di beberapa daerah. Kalau wilayahnya dekat dengan pabrik semen, misalnya, akan langsung dapat dimanfaatkan. Saat sekarang setidaknya ada 34 kabupaten/kota yang siap akan dibangun RDF,”tambahnya. (Sumber: mongabay.co.id)

Komentar

Berita Lainnya