oleh

Misi Kemanusiaan di Balik Film ‘Untuk Angeline’

JAKARTA I Serasa belum kering air mata menangisi kemalangan Engeline atau Angeline, gadis cilik yang jasadnya ditemukan pihak berwajib terkubur di pekarangan belakang rumah ibu tirinya di Bali.

Hingga kini, kasus Angeline masih bergulir di pengadilan. Tanpa menunggu kasus ini tuntas, PT Citra Visual berinisiatif mengangkat kisah layar lebar dengan judul Untuk Angeline.

Film yang bakal segera memulai masa syuting pada Januari 2016, dan siap mengisi layar lebar pada April 2016 ini mengambil sudut pandang  ibu kandung yang kehilangan anaknya dengan cara tragis.

Niken Septikasari, produser, mengungkapkan alasan penggarapan Untuk Angeline didasari misi kemanusiaan, juga mengasah kepekaan masyarakat Indonesia agar tragedi ini tak terulang lagi.

“Kami membawa misi kemanusiaan,” kata Niken kepada awak media massa di kawasan Pondok Indah, Jakarta, pada Kamis (7/1/2016). “Bukan untuk urusan komersil. Tidak peduli nantinya untung atau rugi.”

Terlepas dari hal tersebut, Niken menyadari, upaya membuat film ini ini bukan perkara mudah, karena pihaknya harus meminta izin secara resmi kepada Hamidah, orang tua kandung Engeline.

Diakui Niken, semula niat pihaknya mengangkat kisah Engeline sempat memicu persepsi negatif. Setelah pihaknya menegaskan misi kemanusiaan, pihak keluarga Hamidah akhirnya menyetujui.

Di sisi lain, mengingat proses persidangan yang masih berlangsung hingga saat ini, Niken mengantisipasinya dengan mengajak pengacara Dr. Prastopo, SH, MH sebagai kuasa hukum.

Hal ini diupayakan agar saat proses produksi berjalan dengan lancar dan tanpa menyinggung sejumlah pihak terkait. Bagaimanapun kasus ini memang sangat sensitif.

”Saya sudah membaca skenarionya, dan menurut saya aman untuk diangkat ke layar lebar,” ucap Dr. Prastopo. Skenario film Untuk Angeline ditulis oleh Lelelaila.

Sebelumnya, Lelelaila melakukan riset, termasuk mengikuti persidangan kasus Engeline demi mendapatkan gambaran lebih jelas, juga perjuangan Hamidah mencari keadilan bagi anaknya.

“Proses penulisan saya lakukan secara hati-hati dan riset yang baik, termasuk dengan menghindari penggunaan nama asli untuk mencegah masalah nantinya,” Lelelaila menegaskan.

Sekalipun terinspirasi kisah nyata, Lelelaila menegaskan, ”Untuk Angeline bukan untuk mengungkap fakta, membentuk kesimpulan, atau dokumenter, tapi hanya sebuah film.”

Di kesempatan yang sama, sutradara Djito Banyu menyatakan, proses syuting hampir 90 persen dilakukan di Bali untuk memberikan visualiasi yang lekat dengan kejadian nyatanya.

Sejumlah kemiripan antara data atau fakta kasus Engeline dengan adegan film Untuk Angeline, diakui Djito, meliputi “rumah, sekolah, pantai, pura, pengadilan, dan rumah sakit.”

Untuk Angeline dibintangi Kinaryosih, Teuku Rifnu Wikana, Naomi Ivo, Roweina Umboh, Dewi Hughes, Emma Waroka, Paramitha Rusady, dan Ratna Riantiarno.

Djito memuji usaha Kinaryosih mendalami karakter, “Ia melakukan diskusi mendalam dengan Hamidah, dan itu sulit. Karena situasi sang Ibu yang sampai saat ini masih diliputi kesedihan.” (cnnindonesia.com)

Komentar

Berita Lainnya