oleh

Menyelamatkan Ikan Endemik Asli Indonesia dari Ancaman Kepunahan

  • Ikan endemik adalah ikan yang hanya bisa ditemukan di perairan tertentu saja, contohnya di Indonesia. Terdapat sejumlah ikan endemik yang hanya ditemukan di sejumlah perairan, terutama darat yang ada di berbagai provinsi
  • Salah satu provinsi yang menyimpan kekayaan ikan endemik, adalah Sumatera Selatan yang menjadi habitat asli sejumah ikan endemik di kawasan perairan rawa. Sayangnya, dari waktu ke waktu ikan endemik Sumsel terus menurun populasinya dan terancam punah
  • Agar kelestarian ikan endemik Sumsel bisa terjaga, dibangun taman perikanan (fisheries park) di Sumsel, tepatnya di Kabupaten Muara Enim. Model yang digunakan untuk penyelamatan tersebut adalah Special Area for Conservation and Fish Refugia (SPEECTRA)
  • Adapun, ikan endemik yang menjadi fokus penyelamatan adalah ikan Belida Sumatera (Chitala hypselonotus), Gabus (Channa striata), dan Toman Merah (Channa moruloides). Habitat ketiga ikan tersebut adalah aliran sungai atau rawa di Sumsel

Kawasan perikanan rawa di Provinsi Sumatera Selatan adalah kawasan yang penting bagi sejumlah ikan endemik. Kawasan yang juga dikenal sebagai rawa banjiran tersebut, diketahui menjadi habitat utama ikan endemik penting bernilai ekonomi tinggi.

Sebut saja, ikan Belida Sumatera (Chitala hypselonotus), Gabus (Channa striata), dan Toman Merah (Channa moruloides). Ketiganya bisa ditemukan di aliran sungai atau rawa yang ada di Sumsel dan kondisinya saat ini terus mengalami penurunan populasi.

Kepala Badan Riset Sumber daya Manusia Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (BRSDM KP KKP) Sjarief Widjaja menjelaskan, ikan-ikan endemik yang habitatnya memanfaatkan aliran rawa banjiran, harus diselamatkan untuk menjaga keberlanjutannya di masa mendatang.

Salah satu cara yang dipilih KKP untuk penyelamatan, adalah pembangunan taman perikanan (fisheries park) yang memanfaatkan model kawasan perikanan lahan rawa sebagai area utama. Model tersebut dipilih, karena sesuai dengan tipologi lahan rawa banjiran yang banyak ditemukan di Sumsel.

“Model tersebut diberi nama Special Area for Conservation and Fish Refugia atau SPEECTRA, dan mengambil lahan rawa banjiran di Patra Tani, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan,” jelas dia, belum lama ini di Jakarta.

Belida, salah satu ikan air tawar di Jambi, yang terancam. Foto: Yitno/Mongabay Indonesia

Perairan rawa banjiran atau flood plain area, tidak lain adalah kawasan perairan yang posisinya strategis karena berfungsi menjadi tempat pemijahan (spawning ground), pengasuhan atau pembesaran (nursery ground), dan mencari makan (feeding ground) untuk ikan.

Ketiga fungsi tersebut, sudah ada sejak lama ada dan memberi manfat yang banyak untuk masyarakat yang ada di Sumsel, khususnya yang tinggal di sekitar rawa banjiran. Manfaat itu, adalah untuk pemenuhan sumber pangan dan pemenuhan gizi masyarakat yang bersumber dari protein ikan.

Bagi Sjarief, pengelolaan yang optimal di perairan rawa banjiran akan mendukung peningkatkan produktivitas di kawasan perairan tersebut. Optimalisasi tersebut akan semakin tinggi, jika fungsi lebung buatan dimanfaatkan untuk pengelolaan tersebut.

Walau menyimpan potensi manfaat yang besar, rawa banjiran juga diketahui sebagai ekosistem yang bisa lebih cepat rusak dan hilang dibandingkan dengan ekosistem lain. Kemudian, rawa banjiran juga rentan terhadap perubahan langsung seperti konversi lahan pertanian atau permukiman.

Selain itu, rawa banjiran juga rentan terhadap perubahan kualitas air sungai yang mengaliri ke dalam rawa. Akibatnya, keanekaragaman ikan lebih cepat mengalami penurunan dibandingkan dengan ekosistem lain.

“Kerusakan lingkungan ini diindikasikan dengan rendahnya keanekaragaman ikan dan besarnya dominasi komunitas ikan oleh spesies ikan kecil,” sebut Sjarief.

Kepala BRSDM KKP Sjarief Widjaja (depan) menangkap ikan saat meninjau lahan SPEECTRA, di Muara Enim, Sumatera Selatan, Sabtu (17/10). Foto : KKP

Kepunahan

Jika ancaman kerusakan, kehilangan, dan perubahan habitat banyak terjadi di kawasan rawa, terutama di Sumsel, maka dikhawatirkan kepunahan berbagai jenis ikan bernilai ekonomi tinggi akan berwujud nyata. Selama ini, ikan-ikan tersebut menjadi target tangkapan nelayan Wong Kito Galo.

Sebagai pusat penyelamatan ikan endemik di Sumsel, SPEECTRA akan dikemas dengan gaya yang menarik dan informatif, dan dilengkapi dengan pusat informasi tentang ikan dan juga tanaman asli rawa banjiran seperti Meranti (Shorea spp.).

Lebih rinci, SPEECTRA yang dibangun di Muara Enim berlokasi di area seluas 50 hektare dan di dalamnya terdapat kolam-kolam ikan dengan luasan masing-masing sekitar 1 ha yang terdiri dari kolam untuk domestikasi, pembesaran, dan pemancingan.

“Untuk mencukupi kebutuhan air kolam, dibuat pola buka-tutup pintu air dari Sungai Musi sekaligus agar pada saat-saat tertentu, anakan ikan bisa keluar dari Patra Tani ke sungai. Model SPEECTRA ini menjadi tempat sumber plasma nutfah lingkungan sekitarnya,” ungkap dia.

Sjarief menjelaskan, karakteristik rawa banjiran di Sumsel memang sangat menarik. Hal itu, karena saat musim hujan akan menjadi rawa besar, yang airnya menutup semua permukaan. Sementara, saat musim kemarau, air akan hilang dan akan tersisa di ceruk-ceruk kecil tempatnya ikan.

Dengan kondisi tersebut, SPEECTRA diharapkan bisa menjadi solusi untuk menyelamatkan ikan endemik yang ada di Sumsel, dan umumnya di seluruh Indonesia. Untuk itu, tidak hanya menebar benih, Patra Tani juga diharapkan bisa menjadi tempat indukan untuk berkembang biak ikan secara berkelanjutan.

Kepala Balai Riset Perikanan Perairan Umum dan Penyuluh Perikanan (BRPPUPP) Palembang Arif Wibowo mengatakan, pembangunan SPEECTRA di Muara Enim memang dilatarbelakangi kekhawatiran atas ancaman penurunan ekosistem di kawasan rawa banjiran.

Menurut dia, ancaman penurunan tersebut lebih besar dibandingkan di kawasan perairan lainnya. Penanda bahwa penurunan ekosistem yang disebabkan terjadinya kerusakan lingkungan itu ada, dilihat dari rendahnya keanekaragaman ikan dan munculnya dominasi spesies ikan kecil.

Sebagai model rehabilitasi dan menjadi ekosistem buatan pada daerah rawa berupa lebung, SPEECTRA sangat cocok untuk menjadi lokasi tempat penebaran benih (restocking), dan menjadi tempat berlindung bagi ikan perairan umum di daratan.

Untuk sekarang, ada tiga kolam percontohan yang di dalamnya terdapat ikan Sepat Siam (Trichogaster pectoralis), Sepat Rawa (Trichogaster trichopterus), Gabus, Betok (Anabas testudineus), Tambakan (Helostoma temminckii), Lele (Clarias spp.), dan Sepatung (Peristolepis fasciatus).

Nelayan

Diketahui, SPEECTRA dibangun sejak 2019 di atas lahan percontohan seluas tiga ha. Pembangunan tersebut dilakukan melalui tiga tahap dan akan dikembangkan hingga seluas 40 ha. Pada 2020 ini, adalah tahun evaluasi pertama bagi SPEECTRA 1 dan diharapkan bisa berkontribusi untuk nelayan lokal.

Arif menjelaskan selama ini tangkapan ikan favorit bagi nelayan setempat memang berkisar antara ikan belida sumatera, gabus, dan toman merah. Karenanya, perlu mendapat perhatian khusus agar kebiasaan tersebut bisa tetap berlangsung sampai masa mendatang.

Kepala Pusat Riset Perikanan Yayan Hikmayani mengatakan bahwa Patra Tani merupakan wilayah lahan rawa marjinal, yang telah dimodifikasi dan dikerjakan oleh BRPPUPP Palembang. Hasil modifikasi tersebut dijadikan percontohan model pengelolaan perikanan dengan sistem rawa banjiran.

“Model pengelolaan yang kemudian dinamakan SPEECTRA ini, adalah model bentuk modifikasi lahan rawa yang mengutamakan konservasi dan sebagai tempat refugia ikan-ikan rawa banjiran,” jelas dia.

Refugia sendiri adalah suatu area di mana populasi organisme dapat bertahan hidup melalui periode kondisi yang tidak menguntungkan. Dengan demikian, SPEECTRA merupakan model ekosistem rehabilitasi buatan pada daerah dataran banjir yang berupa lebung-lebung.

Selain di Sumsel, upaya penyelamatan ikan endemik perairan umum darat juga dilakukan KKP di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua. Di sana, pada Juli 2020 sudah dilakukan pelepasliaran benih 1.000 ekor ikan Oliv berukuran 5-10 centimeter di waduk buatan di Bendali Sudirman.

Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) KKP Rina mengatakan, pelepasliaran dilakukan karena ikan tersebut semakin langka ditemukan oleh warga setempat. Ikan tersebut adalah jenis ikan hias yang hidup di perairan tawar di Merauke.

Untuk mendapatkan benih Oliv, BKIPM mengumpulkan dari masyarakat sekitar Bendali Sudirman, yang diketahui menjadi lokasi alamiah untuk ikan tersebut. Dengan karakteristik tersebut pula, Bendali Sudirman dipilih menjadi lokasi pelepasliaran, karena memenuhi semua tipe perairan, tergenang dan mengalir. (Sumber: mongabay.co.id)

Komentar

Berita Lainnya