oleh

Konsep Zero Waste dalam Pemanfaatan Limbah Ternak di Pinrang

  • Sebagai salah satu sentra sapi di Sulawesi Selatan, merujuk pada data BPS 2019 populasi ternak sapi di Kabupaten Pinrang mencapai 28.687 ekor.
  • Persoalannya adalah limbah kotoran sapi, selain menimbulkan bau tak sedap, kotoran sapi dapat menimbulkan problem lingkungan dan sanitasi masyarakat
  • Sejak tahun 2010, penyuluh dari Dinas Peternakan Kabupaten Pinrang mulai memberi pelatihan mengolah kotoran ternak menjadi biogas bagi para peternak. Peternak diajarkan penggunaan teknologi digester, cara packing kompos, pemrosesan pupuk cair hingga melakukan fermentasi pakan bagi sapi.
  • Pemda Pinrang telah memberikan bantuan pembuatan digester sebanyak 447 buah. Tujuannya untuk menuju pengelolaan zero waste (tanpa limbah) peternakan.

Saat dijumpai pagi itu di belakang rumahnya, Subandi (65) baru saja selesai memberi pakan sapinya yang berjumlah lima ekor. Setelah selesai, dia mengalirkan kotoran hewan ternaknya ke dalam digester atau tempat penampung yang berfungsi sebagai reaktor biogas. Alat itu berfungsi untuk mengubah kotoran sapi menjadi biogas skala rumah tangga.

Rutinitas itu telah dia lakoni sekitar 10 tahun belakangan ini. Dari pemanfaatan kotoran sapi miliknya, warga Kelurahan Tatae, Kecamatan Duampanua, Kabupaten Pinrang ini tak lagi pusing untuk urusan membeli gas elpiji atau mencari kayu bakar lagi untuk kebutuhan rumah tangganya.

“Dulu, rata-rata dalam sebulan kami  pakai 3 tabung elpiji ukuran 3 kg dengan harga berkisar 20 hingga 25 ribu rupiah per tabungnya. Sekarang saya sudah gak pernah beli elpiji, enak sekali mi,” terang Subandi.

Jika dirunut, perkenalan Subandi dengan energi biogas sebenarnya berasal dari keluhan tetangga dan warga sekitar dari sapi-sapi yang dipeliharanya.

Sebelum tahun 2010 banyak tetangganya yang mengeluhkan bau kotoran dan urin sapi milik Subandi yang bertebaran di jalan maupun di belakang rumahnya. Apalagi pada saat musim hujan tiba, baunya menjadi semakin menyengat.

Menurut cerita Subandi, sekitar tahun 2010, dia bersama peternak lainnya di Desa Tatae mulai diajarkan oleh penyuluh dari Dinas Peternakan Kabupaten Pinrang untuk mengolah kotoran ternak menjadi biogas.

Di masa awal banyak peternak yang masih sangsi dengan keberhasilan metode pengolahan baru tersebut.

“Awalnya hanya saya seorang yang pakai biogas,” sebut Subandi.

Keberhasilan Subandi mengolah kotoran ternaknya menjadi biogas dan kompos menjadi contoh tersendiri bagi warga di Kelurahan Tatae, Kecamatan Duampanua, Kabupaten Pinrang. Foto: Nurdin Amir

Bisa Beri Gas Gratis buat Tetangga

Melihat keberhasilan reaktor biogas milik Subandi dan lepasnya dia dari ketergantungan gas elpiji, maka mulai banyak orang yang tertarik mengikuti teladannya.

“Dari 2010 sampai sekarang dari satu rumah tangga, kemudian ditambah lagi dua rumah di sebelah memanfaatkan untuk kebutuhan masak rumah tangga, mereka tidak pernah beli elpiji lagi. Terus ada kelompok-kelompok lain yang mengikuti.”

Menurut perhitungan Subandi, dari satu ekor sapi apabila kotorannya dikumpulkan untuk dijadikan biogas, maka bisa mencukupi kebutuhan energi untuk dua orang dewasa per hari.

Dengan lima ekor sapi yang dimiliki itu berarti bisa mencukupi kebutuhan 10 orang dewasa. Karena di rumahnya hanya ada tiga orang, energi biogas yang dihasilkan, dia berikan ke tetangganya secara cuma-cuma.

Tak hanya itu, dari limbah biogas yaitu kompos selama ini dimanfaatkan untuk tanaman di kebun atau sawah untuk itu menekan penggunaan pupuk kimia.

“Pupuk kompos bisa kita pakai di sawah. Kemudian kita juga masih memakai pupuk kimia, tapi sangat sedikit, paling 20-25 persen saja. Sebelum ada pupuk kompos ini, 100 persen pupuk kimia semua.”

Menurutnya, kualitas hasil pertanian itu lebih bagus ketimbang menggunakan pupuk kimia 100 persen. Nasi katanya jadi jauh berbeda rasanya, juga tidak jadi cepat basi.

Masyarakat Desa Tatae, Kecamatan Duampanua, Kabupaten Pinrang pun sekarang tidak khawatir lagi dengan banyaknya limbah ternak sapi yang bisa mencemari lingkungan masyarakat sekitar.

“Biogas itu kan awalnya karena adanya pencemaran lingkungan, karena itu kita arahkan untuk pengolahan teknologi yang benar,” ujar Hasrul, Penyuluh Peternakan dan Kesehatan Hewan (PPKH) Dinas Peternakan Kabupaten Pinrang.

Bersama rekan sesama penyuluh, dia melakukan pendampingan terhadap sejumlah kelompok ternak sapi di Kabupaten Pinrang sejak tahun 2010.

“Awalnya, kelompok tani ini tidak tahu apa-apa tentang teknologi. Jadi, kami beri penyuluhan tentang pengolahan limbah dan pemeliharaan sapi yang benar dan baik. Juga cara untuk menghasilkan inseminasi buatan untuk mendapatkan sapi besar dengan cara kawin silangan-silangan itu,” ujarnya.

Untuk Kelurahan Tatae Pinrang, kelompok tani mendapat sejumlah bantuan untuk biogas, baik dari Dinas Lingkungan Hidup maupun dari Program Biogas Rumah (BIRU).

Kedua program ini sebenarnya saling komplementer, bedanya biogas program BIRU fokusnya diberikan untuk pemenuhan skala rumah tangga. Perbedaannya juga ada pada bentuk digester. Bantuan dari Dinas Peternakan ukurannya lebih besar.

Menurut Hasrul, upaya pendampingan dari satu kelompok tani ternak ke kelompok lain cukup berhasil. Untuk Kelompok Tani Ternak Anugerah Kelurahan Tatae, yang beranggotakan 15 orang, 70 persen diantaranya telah berhasil dalam pengolahan limbah ternak dan peternakan sapinya.

Kelompok Tani Ternak Anugerah ini memiliki kurang lebih 50 ekor sapi dengan sistem dikandangkan.

“Biogas di kelurahan Tatae, awalnya dilakukan Kelompok Tani Anugrah saja, dua tiga tahun kemudian terbentuk Abadi, Makmur dan Trisakti, kelompok baru. Itu dapat bantuan biogas semua. Termasuk bantuan sapi, kemudian pembuatan kompos.”

Peternak pun diajarkan untuk menggunakan teknologi digester, cara packing kompos, pemrosesan pupuk cair hingga melakukan fermentasi pakan bagi sapi.

Budidaya ternak sapi melalui kawin silang pun mulai diperkenalkan. Saat ini peternak rata-rata telah memelihara sapi silangan jenis Limosin dan Simental.

“Dengan cara inseminasi buatan, maka dapat menghasilkan sapi-sapi yang besar dan menambah kesejahteraan masyarakat.”

Limbah kotoran ternak sapi tidak terbuang begitu saja, tapi bisa dimanfaatkan menjadi biogas dan pupuk kompos. Foto: Nurdin Amir

Semua Dapat Dimanfaatkan

Potensi pengembangan biogas di Kabupaten Pinrang memang terbilang cukup menunjang, karena populasi ternak sapi terbilang besar. Data BPS 2019, populasi ternak sapi di Kabupaten Pinrang mencapai 28.687 ekor. 

Pemerintah daerah pun membuat target agar setiap kecamatan memiliki paling tidak satu desa/kelurahan yang membangun reaktor biogas skala rumah tangga.

Kepala Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Pinrang, H. Ilyas, mengatakan untuk pengembangan biogas di Pinrang diarahkan pada pemanfaatan limbah ternak untuk pupuk kandang dan pupuk organik cair.

“Tujuan pengolahan peternakan adalah dengan sistem zero waste (nol limbah). Pak Subandi sudah berjalan biogasnya selama 10 tahun. Kemudian tahun 2015 masuk dukungan Program BIRU di Pinrang yang membangun ratusan biogas kerjasama dengan masyarakat. Semoga bisa berkembang lagi,” ujar Ilyas.

Menurut Ilyas, target yang ingin dicapai adalah bagaimana supaya feses (kotoran) sapi tidak terbuang begitu saja tapi dapat dimanfaatkan menjadi biogas. Dengan pengelolaan peternakan lewat sistem zero waste, maka semua limbah ternak berguna.

“Kami fokus kepada pembinaan, yaitu memberikan bimbingan dan penyuluhan kepala penerima biogas yang tersebar di sepuluh kecamatan yang ada di Pinrang.”

Data Dinas Peternakan dan Perkebunan menunjukkan jumlah penerima bantuan biogas di Kabupaten Pinrang sebanyak 447 buah di 10 kecamatan, terbanyak di Kecamatan Patampanua, yaitu 133 buah.

Untuk bantuan penerima biogas, Dinas menerapkan aturan bahwa sapi harus dikandangkan agar feses dapat dikumpulkan, jika pun tidak maka minimal semi intensif.

“Minimal, kalau malam dikandangkan, siang dilepas, dan kita upayakan dari kelompok tani,” ungkap Ilyas.

Terkait dengan produksi pupuk, maka proses biogas amat menguntungkan untuk berbagai jenis tanaman pertanian. Selain organik, maka pupuk cair hasil buangan biogas (bio slurry) tidak perlu lagi difermentasi.

“Kan dari hasil biogas ada dua hasil pupuknya, ada pupuk organik cair dan ada pupuk kompos. Pupuk organik cair saat ini tidak bisa dijual karena belum punya izin edar. Tapi bisa dipakai dalam kelompok sendiri atau dibagikan ke tetangganya.”

Selain di Pinrang, pemanfaatan kotoran ternak untuk pemenuhan biogas juga sudah dimanfaatkan oleh para peternak di kabupaten lain di Sulawesi Selatan.  Seperti di Desa Lebang, Kecamatan Cendana, Kabupaten Enrekang yang dilakukan oleh Mahyuddin (57) peternak yang punya 30 ekor sapi.

Mahyuddin bisa menampung limbah kotoran sapi perah sebanyak 300-350 kg per hari dari seluruh sapinya. Setiap ekor sapi perah katanya menghasilkan 10 kg kotoran sapi.

“Kotoran sapi sangat melimpah. Hanya membutuhkan maksimal 7 ekor kotoran sapi bisa mi jadi biogas atau 100 kilogram per hari dari 2 reaktor biogas,” katanya.

Hal serupa juga dijumpai di Dusun Lekkong, Desa Pinang yang merupakan salah satu sentra sapi perah di Enrekang, sekaligus penghasil makanan khas dangke yang terbuat dari olahan susu sapi. Di sini para produsen telah menggunakan energi biogas untuk memproduksi pangan khas ini.

Rasna contohnya, dia mulai memproduksi dangke sejak tahun 1993. Dulu dia mengandalkan kayu bakar untuk memasak dangke maupun kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

“Tahun 2000 pakai tabung elpiji. Mulai tahun 2005 beralih memakai biogas yang dikenalkan oleh pemerintah,” katanya. Sejak biogas hadir, dia berhenti membeli tabung elpiji untuk kebutuhan memasak sehari-hati, termasuk memasak susu sapi perah yang dibuat menjadi dangke. Sebutnya, selama rajin mengisi digester dapat dipastikan energi asal biogas pun selalu tersedia. (Sumber: mongabay.co.id)

Komentar

Berita Lainnya