oleh

Kisah Gadis Pianis yang ‘Melawan’ Hitler

Ilustrasi
Ilustrasi

“Berpeganglah pada musikmu. Dia akan menjadi sahabat terbaikmu,” demikian pesan terakhir yang didapat Lisa Jura dari ibunya. Beberapa menit kemudian, bocah 14 tahun itu sudah ada di atas Kindertransport, kendaraan yang membawa ribuan anak-anak Yahudi ke luar Austria.

Lisa tak pernah tahu apakah ia bisa bertemu dengan ibu dan keluarganya lagi. Tahun itu, sekitar 1938, Austria terancam oleh Nazi. Lisa sebenarnya hanya seorang bocah pencinta musik biasa di Wina, kota yang dikenal banyak punya komposer berbakat.

Musik adalah hidupnya. Ia bermimpi suatu saat, bisa menggelar konser dengan dirinya sebagai pianis. Dalam perjalanan menuju rumah guru les pianonya pada Jumat sore, mimpi itu menari-nari liar di otaknya. Namun Adolf Hitler menghancurkan mimpi itu.

Dari pencinta musik, Lisa menjadi anak terlantar yang tak tahu bagaimana nasibnya esok. Susah payah orang tuanya membeli tiket Kindertransport. Bersama anak-anak Yahudi lainnya, Lisa dilarikan ke London, berbekal pesan untuk tak melupakan musik.

Itu terjadi setelah ledakan kekerasan anti-Semitik di Kristallnacht, November 1938. Lisa beruntung masih selamat. Orang-orang Kristen Inggris bersatu dengan orang Yahudi membuka hostel, pertanian, dan rumah mereka untuk menampung imigran yang datang.

Masa-masa perang itu dijalani Lisa di hostel yang menampung 30 anak dari Kindertransport di London. Tapi seperti pesan ibunya, ia tak melupakan musik.

Jika di siang hari ia melewati puing-puing sisa pengeboman dan bekerja berjam-jam di pabrik garmen membuat seragam Red Army Faction (kelompok militan Jerman), malam harinya ia pulang dan berlatih piano. Piano itu diletakkan di basement. Lisa memainkannya untuk “melawan” kuasa Hitler.

Kecintaan musik diturunkan pada anaknya, Mona Golabek yang dilahirkan di Los Angeles. Sang putri pun kini pianis. Tapi selain itu, ia juga ingin menulis buku tentang ibunya. Ia mengunjungi Willesden Lane, tempat penampungan Lisa terdahulu. Ia mewawancarai teman-teman ibunya dahulu.

Produser Hershey Felder kemudian mentransformasikan buku itu menjadi sebuah pertunjukan. Golabek sendiri percaya, setiap bagian musik punya cerita. Ia merasa nyaman bercerita lewat kata ataupun musik.

Golabek membawa musik yang penuh kenangan ibunya itu ke London. Ia menggelar konser “The Pianist of Willesden Lane.” Konser Golabek menceritakan perjuangan Lisa berpegang pada musik, menghilangkan trauma.

“Ibu saya melintas dari sepotong kue sachertote orang Wina ke secangkir teh seperti orang Inggris,” katanya, seperti dikutip dari Independent. “Dia punya yang terbaik dari dunia dunia itu,” lanjutnya.

Golabek juga menuturkan, “Saya bisa menyampaikan pesan bahwa meskipun Anda menghadapi sisi tergelap dalam hidup, jika Anda punya keyakinan dan berpegang pada sesuatu dengan hasrat–dalam kasus ibu saya itu musik–akan membawa Anda ke kehidupan.”

Ia pentas di London karena ingat betapa kota itu berjasa bagi ibundanya. Perempuan 61 tahun yang kini hidup di Hollywood Hills itu juga membawa bukunya ke beberapa organisasi nonprofit lintas Amerika Serikat. Mereka mendukung ibunya dengan membuat proyek nasional soal sekolah anak.

“Saya telah melihat anak-anak muda abad ke-21 tertarik oleh cerita remaja Yahudi di Perang Dunia II, karena mereka terkait dengan itu. Seringkali anak-anak berkata pada saya, ‘Jika Lisa bisa melakukannya, saya pun bisa!'” Golabek menceritakan.

Ia menyadari, sekarang masyarakat hidup di dunia yang semakin hancur dalam banyak segi. Golabek pun menyinggung krisis imigran Suriah dan tragedi di belakangnya. “Saya pikir kita butuh cerita seperti ini untuk mengingatkan tentang humanitas.(cnnindonesia.com)

Komentar

Berita Lainnya