oleh

Ajang Golden Globes 2016 Dibayangi Isu Transgender

Kemenangan Transparent ajang Golden Globes, tahun lalu, cukup mengejutkan industri perfilman. Sejak itu, banyak kalangan film menilai budaya pop bergeser, bertransisi menuju perubahan.

Serial televisi garapan Amazon ini mengisahkan kehidupan seorang suami dan ayah (diperankan aktor Jeffrey Tambor) yang mengubah gender. Karuan saja keluarganya geger dan sulit menerima.

Baik Transparent maupun Tambor sama-sama meraih penghargaan berbentuk bola dunia itu, kategori komedi terbaik dan aktor komedi terbaik. Berikutnya, juga meraih lima Emmy Awards 2015.

Berjaya di berbagai ajang sinema bergengsi membuat banyak kalangan menilai Transparent berhasil menyuarakan kaum minoritas—transgender—yang kerap menerima perlakuan diskriminatif.

Tahun ini, Transparent kembali meraih nominasi Golden Globes dan menghadapi “musuh bebuyutan” sesama serial tentang transgender, Orange Is the New Black yang dibintangi Laverne Cox.

Di tengah gelombang pasang tren transgender belakangan ini, Eddie Redmayne juga beroleh apresiasi atas aktingnya yang memikat sebagai transgender Lili Elbe di The Danish Girl.

Kepiawaian Redmayne menghidupkan sosok Elbe, pria pertama yang melakukan operasi kelamin pada era 1920-an, siap diganjar penghargaan berbentuk bola dunia aktor terbaik kategori drama.

Beredarnya film bertema transgender yang berjaya di beberapa ajang penghargaan sinema bergengsi tentu saja mengubah wajah Hollywood sebagai barometer industri sinema dunia.

“Selama lebih dari 60 tahun, Hollywood menggambarkan kaum transgender sebatas pembunuh psikosis atau guyonan murahan,” kata Nick Adams kepada New York Daily News, baru-baru ini.

Lebih lanjut, pria yang menjabat sebagai direktur program untuk Transgender Media di organisasi Gay & Lesbian Alliance Against Defamation (GLAAD) ini menyoal pergeseran di ranah sinema.

“Baru akhir-akhir ini saja film dan televisi mulai berani menggambarkan [sosok transgender] di luar stereotipe buruk yang merusak reputasi atau melukai perasaan [transgender],” kata Adams.

Menurut Adams, seharusnya Hollywood memotret kondisi riil transgender, khususnya di Amerika Serikat, di mana sekurangnya 21 transgender menjadi korban pembunuhan, setahun belakangan ini.

Sejauh ini, hanya segelintir jaringan televisi yang berani atau bersedia menayangkan serial bertema transgender. Sementara jaringan mainstream lain masih konvensional dan gentar menanggung risiko.

Redmayne pun menyatakan keprihatinan kepada News, beberapa waktu lalu, betapa keberanian menggarap film bertema transgender bertaut hampir satu abad sejak kasus Elbe merebak.

Namun tahun ini, angin segar berembus untuk film The Danish Girl garapan sutradara Tom Hooper, juga untuk drama indie Tangerine yang dibintangi aktris transgender Kitana Kiki Rodriguez.

Begitu pula serial televisi I am Cait yang tayang pada tahun ini. Walau tak beroleh nominasi Golden Globes, turut menandai perubahan jati diri atlet Bruce Jenner menjadi Caitlyn Jenner.

Lagipula, ditegaskan Adams, sinema bertema transgender bukan semata demi dunia hiburan atau penghargaan. Lebih dari itu, sinema semacam ini merupakan ruang edukasi bagi masyarakat.

“Semua film dan serial televisi itu membantu para pemirsa mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang arti menjadi transgender dan mendukung menciptakan budaya,” kata Adams.

Dengan kata lain, para transgender bisa melangkahkan kaki ke tempat kerja, kampus, atau jalanan tanpa dihantui rasa takut atas tindakan diskriminatif, pelecehan atau kekerasan.

Namun di sisi lain, laman The Mary Sue dalam ulasannya, baru-baru ini, justru menyoroti hal yang bertolak belakang ulasan dengan New York Daily News soal angin segar sinema transgender.

The Mary Sue menyindir tiga nomine Golden Globes bukan karya transgender, termasukTransparent (tiga nominasi), Orange is the New Black (dua nominasi), dan The Danish Girl (tiga nominasi).

“Ketiga film itu sebatas melibatkan aktor transgender, tapi kreatornya tetap saja orang cisgender,” tulis The Mary Sue seraya menyindir Hollywood hanya peduli tragedi transgender.

“Hollywood memberikan penghargaan bagi potret-potret tragis wanita transgender yang dibuat oleh pria cisgender,” tulis The Mary Sue sembari mencontohkan Transparent dan The Danish Girl.

Lebih jauh The Mary Sue juga menilai, penghargaan sinema tidak sungguh-sungguh diberikan kepada aktor atau kisah transgender, melainkan kreator cisgender yang licik memanfaatkan tragedi.

The Mary Sue menyesalkan sinema transgender yang diunggulkan Golden Globes tidak merefleksikan kenyataan dari perspektif transgender sendiri, melainkan reaksi cisgender terhadap transgender.

The Mary Sue menyarankan, seharusnya sinema transgender ditulis, disutradarai, dan diproduksi oleh kaum transgender sendiri, seperti Sense8, yang sayangnya malah luput dari seleksi panitia Golde Globes.(cnnindonesia.com)

Komentar

Berita Lainnya