oleh

Virus Gugur Daun Biang Produksi Karet Turun Hingga 70 Persen

PALEMBANG | Melemahnya harga bursa komoditi karet antara lain diakibatkan jamur gugur daun. Pohon karet yang diserang ini juga menyebakan karet tak produktif. Efeknya? Produktivitas karet menurun 50 hingga 70 persen.

“Seperti yang terjadi di Kabupaten Musirawas Utara. Bahkan, petani banyak mengeluh batang-batang karet mereka mati. Masyarakat petani di sana sudah melaporkan gugur daun karet itu,” demikian kata H Rudi Arpian SP MSi, Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Dinas Perkebunan Sumatera Selatan, Kamis 1 April 2021.

Berikutnya Rudi Arpian menambahkan menurunnya produksi karet selain akibat gugur daun ternyata dipengaruhi pula cuaca ekstrem.

“Cuaca ekstrem sangat mempengaruhi produksi karet. Masih ada daerah yang masih turun hujan dan mengakibatkan banjir sehingga sulit melakukan penyadapan,” sambung Rudi.

Analisa Rudi, untuk Sumsel sendiri penurunan produksi saat ini berkisar 15 sampai 25 persen. Belum lagi nanti secara nasional, pemerintah akan melakukan peremajaan karet seluas 50.000 hektar.

“Ya. Sumsel kebagian 9.500 hektar. Jelas ini juga akan mengurangi pasokan karet dunia,” ia menyebutkan.

Menurut Rudi, penyakit gugur daun ini bisa disebabkan kebun yang kotor dan tidak pernah melakukan pemupukan. Sementara penyadapan dilakukan setiap hari.

“Guna mengatasi hal tersebut, kita mendorong petani membuat rorak diantara batang karet,” ucapnya.

Rorak ini manfaatnya antara lain, menjaga kebersihan kebun denga mengumpulkan dan memasukkan daun dan ranting kering ke dalam rorak. Dapat menghindari penularan penyakit gugur daun/kebakaran kebun akibat kebun yang selalu bersih.

Sebagai sumber unsur hara, akibat banyaknya cacing yang hidup di dalam rorak.

“Keempat yaitu ikhtiar mengatasi pupuk yang mahal, karena rorak merupakan sumber unsur hara alami,” sebutnya. (Romi)

Komentar

Berita Lainnya