oleh

Viral, Harimau Kurus Jadi Catatan Untuk Perawatan Satwa Tua

  • Seekor harimau Sumatera jantan di Lembaga Konservasi (LK) Maharani Zoo dan Goa, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, viral dan menjadi pembicaraan publik lantaran videonya tersebar di media sosial.
  • Satwa dengan nama latin Panthera tigiris sumatrae bernama Bhaksi ini terlihat sangat kurus dengan dua sisi perut yang nyaris menempel.
  • KSDA Wilayah II Gresik menyatakan bahwa harimau Bhaksi dalam kondisi yang cukup sehat, cukup normal, cukup produktif mempunyai keturunan.
  • Peristiwa inibisa dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki perizinan, kelayakan, serta laporan dari LK. Dan juga sebagai bentuk perbaikan kinerja BKSDA untuk menekan LK agar tidak sekedar mengkomersialisasi satwa yang merupakan prioritas negara.  

Bhaksi, dibandingkan harimau lain bawaanya tampak tenang ketika di dalam kandang di Lembaga Konservasi (LK) Maharani Zoo dan Goa, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Seekor harimau sumatera jantan ini viral dan menjadi pembicaraan publik lantaran videonya tersebar di berbagai macam media sosial.

Dalam video yang diunggah tersebut, satwa dengan nama latin Panthera tigiris sumatrae ini terlihat sangat kurus dengan dua sisi perut yang nyaris menempel. Tak berselang lama, video itu langsung mendapat banyak tanggapan dari netizen. Sehingga menjadi perhatian publik.

Mendapati hal tersebut membuat Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur serentak menerjunkan tim Wild Rescue Unit (WRU) untuk melakukan pemantauan langsung ke lokasi.

Bhaksi saat berada di dalam kandang di Lembaga Konservasi (LK) Maharani Zoo dan Goa, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

Wiwied Widodo, Kepala Bidang KSDA Wilayah II Gresik, menjelaskan, bahwa harimau Bhaksi dalam kondisi yang cukup sehat, cukup normal, cukup produktif mempunyai keturunan. Dikatakan produktif karena dia punya pasangan namanya harimau Gendis yang sudah berhasil memberikan keturunan tiga ekor. Anak-anaknya ini, katanya, sudah diberikan nama oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, yaitu Raung (jantan), Rengganis (betina) dan Rani (betina).

“Track record dari rekam medisnya cukup sehat, pakannya juga diberikan normal, tetapi dugaan bobotnya tidak sesuai dengan standar remaja karena usiannya yang sudah tua,” ujarnya saat melakukan pemeriksaan di lokasi, pada Selasa (08/09/2020).

Tidak ada Indikasi Penurunan Kesehatan

Lebih lanjut dia mengatakan, berdasarkan data medical record, catatan untuk pemberian pakan dan obat dalam waktu tiga bulan terakhir tidak dijumpai adanya indikasi penurunan kesehatan ataupun pengurangan pemberian pakan. Semua, kata dia, diberikan sesuai porsi dan takaran satwa dengan usia tersebut.

Saat pemantauan, juga pihak BKSDA melakukan analisis body scoring untuk mengetahui kondisi morfologi harimau sumatra bernama Bhaksi ini. hasilnya, bhaksi yang usianya sudah 15 tahun ini mempunyai banyak guratan tua di wajah dan pelipis matanya. Selain itu, rumbai juga sudah mengalami penipisan. Tetapi, kondisi badan dikatakan masih dalam kriteria sehat dan tidak kurus.

Seekor harimau sumatra jantan ini viral dan menjadi pembicaraan publik lantaran videonya tersebar di berbagai macam media sosial. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

Diketahui berat badan Bhaksi setelah dilakukan penimbangan sebelum diberikan pakan seberat 103 kilogram. Angka ini, menurut Widodo, masih tergolong normal berat badan harimau tua, dimana berat badan harimau sumatra ini secara normal beratnya antara 100-140 kilogram.

“Teman-teman sudah lihat secara langsung bagian belakang perut tertarik atau tidak, masih lurus atau menggelambir. Jika menggelambir terlalu ke bawah namannya over width, kalau tertarik cekung sampai dibagian kaki belakang itu dinamakan kurus atau kurang gizi dan makan. Tapi setelah kita lihat bersama, sebetulnya dia ini termasuk kategori lurus ideal,” ujarnya.

Setelah dilakukan pemeriksaan, semua data dari BKSDA tersebut kemudian akan diberikan kepada pimpinan manajemen LK dengan catatan, pihak LK harus memberikan perhatian khusus kepada harimau Bhaksi, salah satunya adalah membangun kandang karantina khusus dimasa tuanya.

Berikutnya, pihak BKSDA Jawa Timur sudah mengkomunikasikan dengan KLHK, apakah memungkinkan jika menyediakan tempat rehabilitasi. Dengan adanya postingan tersebut, pihaknya berterima kasih kepada warga yang turut serta memperhatikan satwa yang sudah tua.

“(Satwa) yang usia produktif pasti semua memperhatikan, tetapi yang usia tua ini lho harus diapakan? Mungkin ini catatan untuk mengingatkan kami semua di LK ini untuk memperhatikan betul satwa yang sudah tua. Berikutnya, kami memberikan penjelasan bukan menyalahkan. Kalau orang yang tidak mengerti harimau, tidak mengerti siklus periode waktunya, tidak tahu usiannya itu dianggapnya kurus,” jelasnya.

Baksi, seekor harimau sumatera (Panthera tigiris sumatrae) ini umurnya diperkirakan sudah 15 tahun. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

Sementara itu, koordinator Marketing Maharani Zoo dan Goa Lamongan, Juli Tri Wahyuningtyas mengatakan, untuk harimau sumatra bernama Bhaksi ini diberi makan seperti biasanya. Sehari sekali setiap sore, menghabiskan daging sapi sekitar 5-6 kilo. Selain itu, juga diberi ayam hidup seminggu sekali. Hal ini untuk merangsang naluri liarnya.

Saat pandemi ini, kata dia, pihak pengelola masih mampu memberikan pakan satwa dengan baik, dan juga sesuai dengan aturan yang diberikan. Selain itu, pihaknya juga mendapatkan bantuan dari BKSDA berupa obat-obatan dan juga pakan.

“Intinya, kita baik-baik saja. Mereka kan melihatnya sekilas saja tanpa tahu faktanya seperti apa, dan mereka mempostingnya juga kurang data-data yang jelas atau klarifikasi terlebih dahulu,” jelasnya.

Harimau sumatra lain yang berada di Lembaga Konservasi (LK) Maharani Zoo dan Goa, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

Maksimalkan Kontrol

Menanggapi kondisi Bhaksi itu, Andik Syaifuddin (33), koordinator Sahabat Alam Indonesia menjelaskan, satwa lebih baik dilihat di alam liar atau habitatnya. Bukan mengkomersialisasi satwa di LK seperti Taman Safari dan kebun binatang.

Seharusnya, kata dia, kontrol dari BKSDA sebagai lembaga negara itu harus dilakukan, tentang kelayakan pangan, kesehatan, dan kelayakan kandang, dll. Karena dari awal, kontrol itu ada di BKSDA. Mulai dari perizinan, laporan dan evaluasinya. Jika kontrol itu dilakukan, hak-hak satwa akan terpenuhi.

“Jangan sampai satwa-satwa dieksploitasi dan dikomersialisasi. Giliran sakit, kurus, kekurangan pangan jadi sorotan publik, baru mencari donatur dan mencari pembenaran karena usia,” ujarnya kepada Mongabay Indonesia, Kamis (10/09/2020).

Wiwied Widodo, Kepala Bidang KSDA Wilayah II Gresik (kiri) memberikan penjelasan mengenai kondisi harimau sumatra bernama Bhaksi. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

Jika memang karena usia, lanjutnya, harusnya bisa dibandingkan dengan LK lain dengan usia harimau yang sama kondisinya, pola makannya, kelayakan kandang, dll. Jika ternyata di tempat lain tidak seperti itu, harusnya LK itu harus diberi sanksi tegas.

Menurut dia, satwa lebih baik hidup di alamnya, agar generasi masa depan masih dapat menjumpai satwa di alam liar. “Biarkan mereka hidup sebagai penyeimbang ekosistem sesuai dengan peran dan tugas yang Tuhan berikan. Bebas mencari makan, bebas berkembang biak, bebas menjelajah. Tugas kita menjaga habitatnya,” kata Andik yang sudah 10 tahun berkecimpung di Lembaga Konservasi dan Pemberdayaan Masyarakat Independent tersebut.

Pria penghobi selam ini melanjutkan, kondisi ekologi Pulau Jawa kritis, habitat satwa semakin berkurang dengan tekanan-tekanan dari segala hal, misalnya konversi lahan konservasi. Untuk itu, dengan peristiwa ini justru bisa dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki perizinan, kelayakan, serta laporan LK. Dan juga sebagai bentuk perbaikan kinerja BKSDA untuk menekan LK agar tidak sekedar mengkomersialisasi satwa prioritas negara. (Sember: mongabay.co.id)

 

Komentar

Berita Lainnya