oleh

Tanam Beragam Tak Hanya Sawit, Petani Peroleh Manfaat Ekonomi dan Ekologi

  • Petani di Jambi, mengalami masalah dengan harga sawit tak stabil padahal biaya perawatan tetap keluar. Sebagian petani pun mulai menebang maupun menyela kebun sawit dengan berbagai tanaman. Ada tanam alpukat, kakao, pinang, padi sampai sayur mayur dan tanaman lain.
  • Dengan tanaman beragam, tak hanya bergantung sawit, petani bisa mendapatkan pemasukan lebih besar pula. Kala, harga sawit turun, mereka masih bisa mendapatkan penghasilan dari tanaman lain.
  • Bambang Irawan, Ketua Jurusan Kehutanan Universitas Jambi mengatakan, diversifikasi tanaman bisa menguntungkan secara ekonomi dan ekologi bagi petani sawit rakyat.
  • Hasil riset Yayasan Madani Berkelanjutan di Riau, memperlihatkan, kabupaten yang lakukan diversifikasi produk, masyarakat lebih sejahtera. Diversifikasi tanaman perlu jadi prioritas dalam pembangunan perkebunan. Dengan begitu, sawit dan tanaman lain bersama-sama jadi kontributor dan jadi pijakan kuat bagi ekonomi daerah.

Bagus menebangi sebagian tanaman sawitnya di Muara Jambi, Jambi beberapa tahun lalu. Alasannya, dari harga buah sawit berfluktuasi dan cenderung turun padahal biaya pemupukan mahal.

“Banyak makan pupuk dan tidak sebanding dengan pembiayaan ketika harga sawit sedang anjlok,” katanya, awal September lalu.

Bagus, penerus kebun sawit keluarga. Bapaknya, mulai ranah sawit 15 tahun lalu. Sejak 2005, dia alami kendalam berulang tiap tahun. Dia pun banting setir, tak mau ranah sawti saja, tetapi diversifikasi dengan tanaman lain.

Dia pikir, tak bisa bergantung pada satu komoditas. Kalau hanya sawit, saat harga anjlok tak ada pegangan. Kalau ada tanaman lain, bisa menutupi kekurangan. Bagus pun lantas tanam alpukat, pinang dan nangka. Ketiga tanaman itu, katanya, harga tinggi.

Berdasarkan keterangan orang yang punya alpukat di rumah dan jual dapat untung besar. “Kalau di rumah saja apalagi yang dikebun kan,” katanya.

“Kalau pinang ini tanaman padat karya, jadi bisa bagi hasil untuk yang jaga kebun dari mulai dia panen sampai pengeringan dan tinggal bayar upah per kilogram,” katanya.

Tanaman-tanaman pengganti ini memakan setengah hektar dari kebun Bagus di Muaro Jambi. “Kalau prospeknya bagus kemungkinan ada batang sawit yang ditebang lagi,” katanya.

Tak hanya Bagus, petani sawit rakyat lain di Jambi ternyata sudah memulai tanaman beragam untuk menghindari ketergantungan pada satu produk.

Mereka punya beberapa alasan berbeda seperti sumber ekonomi, struktur tanah hingga hama seperti babi dan tikus.

Budi, petani sawit swadaya di Desa Sponjen, Muaro Jambi, sudah menanam sawit sejak 2008. Bertahun-tahun dia hadapi kendala perawatan dan harga di dua hektar kebunnya.

Dia bilang, tanam sawit sebenarnya tak terlalu sulit dan bisa panen seminggu sekali. “Seperti sekarang, dalam tiga bulan ke belakang harga naik, karena posisi buah trek (masa buah sedikit). Nah, baru-baru ini dalam dua minggu sudah mulai melonjak naik lagi produksi dan harga bisa turun sekitar dua minggu ke depan.”

Menurut pengalaman dia, kalau harga Rp1.000 per kg tandan buah segar, berarti pemasukan Rp1000.000, dengan Rp400.000 upah pekerja yang memanen. “Itu belum biaya yang lain.”

Sargawi dengan kebun sawit. Dia juga tanami kebunnya dengan tanaman lain. Foto: Jaka Hendra/ Mongabay IndonesiaSargawi dengan kebun sawit. Dia juga tanami kebunnya dengan tanaman lain. Foto: Jaka Hendra/ Mongabay Indonesia

Budi punya dua hektar lahan dan tak bisa memenuhi keperluan rumah tangga kalau hanya tanam sawit. “Itu paling kencang satu bulan dapat Rp2 juta. Kalau cuma mengandalkan itu nggak cukup untuk kebutuhan kita sehari-hari. Jadi mulai beralih,” katanya.

Sejak 2017, Budi, mulai tanam kakao di sela sawit. Kini, dia sudah panen kakao. “Jarak antar sawit itu sembilan meter. Nah, di antara sawit itu saya tanam cokelat,” katanya.

Dia merasa, harga kakao lebih stabil daripada sawit. Paling rendah kakao Rp17.000 per kg dan paling tinggi sekitar Rp22.000 per kg.

“Pengalaman dalam satu hektar itu kalau satu bulan bisa sekitar satu setengah pikul atau 150 kg.”

Budi bisa panen kakao seminggu sekali dengan pemasukan sekitar Rp900.000. “Kadang Rp1,2 juta, kadang juga Rp700.000,” katanya.

Tanam kakao bukan tanpa kendala juga. Di baru tanam kakao lagi karena terkena penyakit pada 2019.

“Buah menghitam. Setelah saya tanya-tanya dan cari tahu ternyata cokelat memang ada penyakit khusus dan obatnya sulit dicari.”

Lantas Budi memutuskan tebang pohon-pohon itu dan berharap tumbuh tunas baru. Dia pun tanam pinang di lahan berbeda sekitar tiga perempat hektar.

Budi sedang menanti pinang pada berbuah tahun kedua atau ketiga. Dia pilih tanam pinang karena perawatan mudah.

“Pinang itu yang penting lokasi bersih. Kalau cokelat kita harus semprot hama ketika mulai berkembang, kalau tidak buah hitam atau busuk.”

Dia memang belum merasakan hasil menanam pinang, namun dari pengalaman petani lain dan perkiraan bisa lebih menguntungkan daripada sawit.

“Perbandingan hasil, kalau pinang satu hektar sama dengan sawit 10 hektar. Prospek pinang per bulan menjanjikan, kalau memang pinang bagus bisa lebih tinggi hasil dari sawit,” katanya.

Petani mulai semai benih untuk tanam di kebun hingga tak hanya ada sawit. Foto: Jaka Hendra/ Mongabay IndonesiaPetani mulai semai benih untuk tanam di kebun hingga tak hanya ada sawit. Foto: Jaka Hendra/ Mongabay Indonesia

Selain kakao dan pinang Budi juga menanam sedikit padi dan sayur mayur sekadar untuk konsumsi sendiri.

Sargawi juga lakukan hal serupa Budi. Petani sawit dari Desa Sungai Bungur, Muaro Jambi ini mengatakan, sejak 2010, memang tak hanya tanam sawit tetapi sela dengan pinang dan kakao.

“Kalau sawit tahan dan kuat dan cokelat kurang. Jadi. lahan yang tinggi kami tanam cokelat, yang rendah tanam sawit,” katanya.

Untuk pinang dia tanam jadi mentaro ke mentaro. Artinya pembatas antara kebun Sargawi dengan kebun tetangga.

Lahan sawit Sargawi di dataran rendah hingga kadang kebanjiran. Kalau sudah begitu, katanya, dia tak bisa panen sawit. “Kalau banjir, buah trek dan tidak bisa dipanen. Tinggal ngambil cokelat, karena tanah tinggi, tidak kena banjir.”

Sargawi bilang, tanam sawit perlu lebih banyak lahan. Dia bandingkan, kalau sawit perlu ukuran 9×9 meter, kakao perlu 4×4 hingga bisa lebih banyak tanaman. Di sela kakao, dia juga tanam duku dan durian yang bisa berusia puluhan tahun.

Untuk penghasilan, Sargawi tak menghitung detil satu per satu, tetapi masing-masing tanaman saling mengisi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Pemasukan bisa dari beragam tanaman ini. Kalau sawit sedang banyak dan harga turun, dia masih ada pendapatan tambahan dari kakao.

“Kadang salah satu harga turun, ada yang menutupi, keduanya rendah pinang menutupi.”

Tamin, Kepala Desa Sungai Bungur juga tanam beragam selain sawit. “Karena babi dan tikus sering merusak sawit, maka saya tanam tanaman lain,” katanya, pertengahan September lalu.

Sejak 2008, dia tanam sawit. Baru 2017 mulai tanam pinang. Di kebun Tamin juga ada pohon duku yang sudah turun menurun.

“Kalau soal keuntungan bervariasi. Kalau harga lagi naik sawit untung. Kalau soal pengerjaan lebih mudah pinang, biaya juga sangat kecil dan bisa dikerjakan ibu rumah tangga,” katanya. Duku untuk pemasukan tahunan.

Agus Rizal, Kepala Dinas Perkebunan Jambi mengatakan, selama ini petani terbuai dengan begitu mudah budidaya sawit.

Kalau petani tanam beragam, katanya, lebih menguntungkan. Di sela waktu, menunggu masa panen sawit, bisa bermanfaat bercocok tanam atau merawat tanaman lain.

“Memang harusnya ada tanaman lain yang bisa dikelola, misal, di kiri kanan sungai bisa ditanam buah-buahan atau bisa budidaya ikan di sungai. Ini juga bisa dilakukan di daerah rawa atau cekungan.”

Duku, tanaman tahunan yang juga ditanam warga jadi tak hanya ada sawit.  Foto: Sapariah Saturi/ Mongabay Indonesia

Manfaat ekonomi dan ekologi

Bambang Irawan, Ketua Jurusan Kehutanan Universitas Jambi mengatakan, diversifikasi tanaman bisa menguntungkan secara ekonomi dan ekologi bagi petani sawit rakyat.

Fakultas Kehutanan Unja, katanya, bekerjasama dengan Universitas Gottingen Jerman, dan Institut Pertanian Bogor serta lembaga lain soal pengayaan lahan sawit dengan pelbagai tanaman. Dia contohkan, petani bisa tanam sawit dengan tanaman-tanaman seperti petai, jengkol, durian, sungkai, meranti sampai jelutung.

Menurut Bambang, dari aspek saintifik penanaman monokultur itu rentan terhadap serangan hama penyakit dan harga. “Juga tidak ramah lingkungan,” katanya.

Dari kajian mereka, dengan pengayaan akan memberikan keuntungan tak hanya untuk ekologi karena ada keberagaman biodiversiti, juga secara ekonomi.

“Kalau misal harga sawit turun, maka petani punya produk-produk lain yang bisa dijual dan bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga.”

Dia juga jelaskan, kalau tanaman pengaya tidak terlalu berpengaruh terhadap produksi sawit.

“Ada hasil penelitian masuk tahun ketujuh tidak terlalu banyak pengaruh terhadap produksi sawit.”

Mereka ada penelitian baru lagi di Tembesi, Batanghari, mengamati tanaman sawit yang hidup dengan tanaman lain. “Itu sudah masuk tahun keempat. Itu juga tidak ada pengaruh terhadap produksi sawit,” katanya.

Dia bilang, dalam satu bentang kebun sawit, pertumbuhan tidak seluruhnya seragam. Ada beberapa titik kemungkinan kosong dan bisa ditanami.

“Bisa juga pada wilayah-wilayah yang agak rendah dan tergenang air itu juga bisa dimanfaatkan,” katanya.

Penanaman bisa juga di pinggir batas jalan atau di pinggir kebun. “Jadi banyak variasi yang bisa dipilih petani.”

Dia mendorong warga atau petani memperkaya lahan usaha mereka, termasuk lahan sawit. Pemerintah, katanya, juga harus mendorong kebun beragam untuk ketahanan pangan.

Petani sawit di Jambi, panen. Foto: Jaka Hendra/ Mongabay IndonesiaPetani sawit di Jambi, panen. Foto: Jaka Hendra/ Mongabay Indonesia

“Kalau kita bicara ketahanan pangan, pemenuhan gizi keluarga, pemenuhan kebutuhan-kebutuhan keluarga, menurut saya pemerintah mesti mendorong itu juga.” Dia lihat, banyak lahan di kebun sawit tak termanfaatkan optimal.

Dari hasil penelitian mereka, pada satu lahan sawit yang di dalam ada beragam tanaman, cenderung serangan hama dan penyakit berkurang. “Karena ada biological control,” katanya.

Kontrol biologi ini, bisa dari serangga-serangga maupun mikroogranisme yang bisa jadi agen pengendali hama dan penyakit. “Ia bisa melindungi dari patogen-patogen penyebar penyakit.”

Jaga tanah

Pada hamparan kebun sawit, katanya, biasa terjadi peningkatan kepadatan tanah atau porositas tanah menurun. Porositas adalah kemampuan tanah menyerap air dan kaitan dengan kepadatan tanah. Makin padat tanah, katanya, porositas makin menurun.

“Porositas dan infiltrasi air berkurang, jadi air akan jatuh, mengalir dan hilang. Tidak meresap ke tanah.”

Dengan keragaman tanaman, kata Bambang, akan menjaga kualitas tanah. “Dengan diversifikasi justru meningkatkan porositas tanah. Kemampuan tanah menyerap air jadi lebih bagus,” katanya.

Lebih sejahtera

Trias Fetra, peneliti dari Yayasan Madani Berkelanjutan mengatakan, mereka riset tentang kesejahteraan petani pada tujuh kabupaten di Riau dengan luasan kebun sawit signifikan.

Ada dua indikator menilai kesejahteraan dalam sebuah keluarga di penelitian ini, yakni, pengeluaran makanan dan non makanan.

Kalau persentase pengeluaran lebih banyak untuk alokasi makanan dibanding non makanan, mereka belum dikatakan sejahtera.

Analoginya, kata Trias, kalau mendapat upah Rp1 juta sebulan, biaya makanan Rp700.000 (70%) itu kategori belum sejahtera. “Sebab alokasi biaya kesehatan, pendidikan ataupun hiburan dan rekreasi lebih sedikit. Diumpamakan masih berkutat di urusan perut.”

Terkait indikator itu, katanya, hanya ada satu kabupaten dinilai paling sejahtera di antara kabupaten lain, yakni di Siak. Daerah ini, kata Trias, satu-satunya yang melakukan diversifikasi tanaman.

Kabupaten Siak, dalam penelitian mereka mengganti sebagian tanaman sawit jadi sawah. “Mereka menanam padi dan disaksikan bupati sendiri.”

Sedangkan enam kabupaten lain di Riau, yang tidak diversifikasi tanaman memiliki tingkat kesejahteraan masyarakat lebih rendah. Kabupaten-kabupaten itu, adalah Indragiri Hulu, Bengkalis, Pelalawan, Rokan Hulu, Kampar dan Rokan Hilir.

Selain itu, empat dari tujuh kabupaten, katanya, mengalami kondisi rawan pangan mulai dari Bengkalis, Rokan Hulu, Indragiri Hulu dan Kampar.

Hasil penelitian Yayasan Madani, pengeluaran makanan paling rendah yaitu 49,75% dan non makanan paling besar 50,25% di Siak.

Dari data itu, dibandingkan dengan data Badan Ketahanan Pangan dan peta ketahanan dan kerawanan pangan, Siak memiliki ketahanan pangan sedang.

“Sedangkan lainnya, dua kabupaten memiliki ketahanan pangan rendah dan empat kabupaten masuk kategori rawan pangan.”

Mengapa rendah? Trias bilang, Madani coba menelaah menggunakan data pemerintah terkait daya beli masyarakat di kabupaten dengan sawit dominan ini. Faktanya, daya beli khusus non-makanan masih rendah.

Kondisi ini, katanya, karena petani menggantungkan ekonomi hanya dari sektor sawit, pengeluaran petani untuk makanan cukup tinggi hingga urusan lain non-makanan terbengkalai.

Seharusnya, pemerintah memperhatikan hak pangan bagi masyarakat di kabupaten rawan pangan ini.

Penelitian ini, katanya, juga membantah kalau fokus penambahan lahan sawit dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena yang menentukan kesejahteraan juga pengeluaran petani dalam proses produksi maupun harga jual. “Artinya, penambahan area tanam bukan syarat mutlak dalam meningkatkan kesejahteraan petani.”

Jadi, katanya, diversifikasi tanaman perlu jadi prioritas dalam pembangunan perkebunan. Dengan begitu, sawit dan tanaman lain bersama-sama jadi kontributor dan jadi pijakan kuat bagi ekonomi daerah. (Sumber: mongabay.co.id)

 

Komentar

Berita Lainnya