oleh

Talas Beneng Kini Menjadi Komoditas Ekspor

PALEMBANG – Sejak porang populer sebagai komoditas ekspor bernilai ekonomi, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian mulai melirik talas beneng yang masih satu kerabat umbi untuk dikembangkan menjadi komoditas ekspor dan bahan pangan alternatif. Talas ini berasal dari Provinsi Banten dan tergolong berukuran besar sehingga termasuk golongan giant taro atau big elephant’s ear.

“Kementerian Pertanian mendukung pengembangan agribisnis dan agroindustri talas beneng dengan melepas varietas beneng menjadi varietas unggul talas melalui Keputusan Menteri Pertanian No. 981 Tahun 2020,” papar Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo seperti dikutip dari laman litbang.pertanian.go.id.

Pemerintah Provinsi Banten terus memacu budidaya talas beneng melalui pengembangan area lahan tanam yang diperkirakan akan mencapai 100—300 hektare di Banten. Luas lahan tersebut berpotensi akan terus bertambah hingga mencapai 1.000 hektare. Talas ini memiliki banyak keunikan sehingga pemerintah setempat menobatkannya sebagai salah satu ikon Banten.

Keunikan talas beneng bukan hanya terletak pada ukurannya yang besar, melainkan kadar proteinnya yang mencapai 7,17 persen dan mineral sebanyak 13,07 persen. Tanaman talas ini sangat mudah dibudidayakan di lahan basah ataupun kering sehingga tanaman bisa dibudidayakan di lahan marjinal.

Sayangnya, di balik besarnya potensi talas beneng, pemanfaatan tanaman ini masih belum optimal. Umumnya masyarakat menggunakan talas sebagai bahan baku pembuatan keripik, kolak, ubi goreng, ubi rebus, atau tambahan sayur.

Sementara itu, di negara-negara lain, seperti Jepang dan New Zealand, talas digunakan sebagai bahan baku industri pangan berbasis karbohidrat di antaranya roti, kue-kue, makanan bayi, atau produksi ekstrusi bernilai ekonomi tinggi.

Masih dilansir dari laman yang sama, berdasarkan data yang dihimpun BPS, pada 2020 ekspor talas mencapai USD3,07 juta dengan volume ekspor sebesar 2.909 ton. Ekspor tersebut dilakukan dalam bentuk beku ataupun segar untuk memenuhi permintaan Thailand, Jepang, Cina, Singapura, Malaysia, Vietnam, Australia, dan Belanda.

Namun, memang ada kendala yang sering dialami saat ingin memanfaatkan talas beneng sebagai bahan baku, yakni kandungan oksalatnya yang cukup tinggi mencapai 61.783 ppm. Kandungan oksalat tersebut kemungkinan besar dapat berkurang ketika tanaman dibudidaya dengan cara yang benar. Selain itu, talas perlu mendapatkan perlakuan untuk menurunkan kadar oksalat hingga 90 persen lebih.

“Konsumsi makanan berkadar oksalat tinggi dapat mengganggu kesehatan karena dapat menyebabkan pembentukan batu oksalat atau batu ginjal. Adanya oksalat dapat menurunkan penyerapat kalsium oleh tubuh. Kendala lain dalam pemanfaatan talas sebagai bahan baku produk adalah terjadinya browning yang dapat mengurangi nilai tampilan produk,” jelas Winda Haliza, salah satu Peneliti dari Balitbangtan.

Kepala Balitbangtan Dr. Fadjry Djufry mengatakan bahwa pengembangan talas beneng sangat dibutuhkan untuk meningkatkan nilai tambah produk dan mendukung ketahanan pangan. Fadjry berharap riset dan pengembangan inovasi kolaboratif yang sedang dilakukan oleh Balitbangtan bisa meningkatkan nilai tambah dan daya saing komoditas talas beneng.(Tani)

Komentar

Berita Lainnya