oleh

Syurga Ikan Tulung Seluang Dulu dan Kini

kanal-kanal di lahan gambut. Akibatnya, bukan saja lahan gambut yang mengering, namun rawa, lebung pun ikut mengering.Fhoto : Supardi
kanal-kanal di lahan gambut. Akibatnya, bukan saja lahan gambut yang mengering, namun rawa, lebung pun ikut mengering.Fhoto : Supardi

KAYUAGUNG I Kecamatan Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan memiliki luas mencapai 1.853 kilometer persegi pernah dicanangkan gubernur sumatera selatan Era Rosyihan Arsyad dan Era Alex Noerdin sebagai tempat produksi ikan dan udang windu.

Tulung Salapan Daerah Pesisir Timur Sumatera yang berdekatan dengan Selat Bangka merupakan daerah dengan hasil produksi ikan asin, ikan segar, udang, kerang dan terasi yang melimpah ruah. Semua hasil produksi menyebar sampai ke desa-desa di Kecamatan Tulung Salapan, semisal: Desa Simpang Tiga Makmur, Tulung Gajah, Tulung Seluang dan Laut Hitam.

Tak heran, kalau tulung selapan menjadi surganya ikan. Kini, masa surga ikan itu mulai berakhir. Hasil tangkapan nelayan mulai berkurang sejak tahun 2010 lalu, dibarengi dengan masuknya PT Bumi Mekar Hijau (BMH) dan membuat kanal-kanal di lahan gambut. Akibatnya, bukan saja lahan gambut yang mengering, namun rawa, lebung pun ikut mengering.

Pandi warga desa tulung seluang kecamatan tulung selapan Kabupaten OKI. Fhoto : Supardi
Pandi warga desa tulung seluang kecamatan tulung selapan Kabupaten OKI. Fhoto : Supardi

Pandi warga setempat mengeluhkan hal ini, hampir satu tahun Pandi tidak bisa menikmati hobinya mencari ikan. Ia sudah lama tidak mendapatkan ikan gabus, toman hasil penangkapan ikan di rawa Desa Tulung Seluang, Kecamatan Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan.

Ia masih ingat betul, ketika masih kecil, desa kelahirannya ini sangat melimpah ruah hasil penangkapan ikan, baik dengan cara memancing, memasang bubu, nangkul, nyalo dengan hasil ikan seluang, gabus, toman, ruan, lele, selincah sepat bahkan betok.

Tak tanggung-tanggung, melimpahnya ikan di desa tersebut membuat masyarakat luar Desa Tulung Salapan tertarik untuk ikut lelang di desa tersebut.

“Ada dua lelang yang dilakukan. Lelang ikan di lebung dan lelang ikan di batang hari,” mata Pandi menerawang mengenang masa lalu.

Warga luar yang ikut lelang itu ada dari Kayuagung, Palembang. “Bahkan Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia pernah ikut lelang, lelang itu bahkan pencapai ratusan juta,” kenangnya.

“Ikan yang dihasilkan pun mencapai puluhan ton, yang ikut lelang bahagia betul dengan hasil penangkapan yang melimpah ruah itu.”

 “Bagaimana ikan mau hidup kalau airnya saja mulai mengering,” suara Pandi mulai meninggi.

Sejak saat itu, hasil produksi ikan turun drastis. Tak ada lagi orang yang berani ikut lelang di daerah ini, semuanya takut rugi. Jumlah produksi pun tak lagi mencapai puluhan ton.

“Sekarang warga yang masih menangkap ikan cuma mendapatkan ikan sepat dan betok. Ikan lainnya sudah jarang,” kata Pandi.

“Masih untung ikan itu bisa untuk bahan masak sehari-hari. Tapi, kalau mau menjual lagi sudah selamat tinggal,” jelasnya.

Tak hanya jumlah produksi ikan yang berkurang drastis. Sebagian air di wilayah Tulung Seluang mulai tercemar. “Sekarang gatal-gatal kalau lama berendam saat mencari ikan, mungkin akibat bahan kimia seperti pupuk yang digunakan pihak PT kali ya?,” Pandi bertanya-tanya.

Suami dari Rus  ini sangat kecewa akibat dampat perkebunan PT BMH. Ayah tiga anak ini bahkan bingung mengaduh kesiapa untuk meluapkan kemarahannya ini.

Setali tiga uang dengan Kepala desa tulung seluang, Renek Regen (30), ia juga menjelaskan ikan diwilayahnya cuma cukup untuk makan perhari saja. Untuk produksi massal tak bisa lagi seperti dulu.

“Semuanya telah berubah,” kata Renek.

Aktivitas Warga tulung seluang mayoritas adalah nelayan. Fhoto : Supardi
Aktivitas Warga tulung seluang mayoritas adalah nelayan. Fhoto : Supardi

Renek sebagai ketua dari 370 Kepala Keluarga di Desa Tulung Seluang ini juga menambahkan lahan untuk menangkap ikan telah digrogoti PT yang berdiri di wilayahnya.

“Rugi besar penggarapan lahan oleh PT itu, kanal-kanal yang dibuatnya membuat air kering dan ikan berkurang,” jelasnya.

Ketua kelompok Tani Desa Tulung Seluang, Gani, menegaskan kerugian itu bukan saja dibidang produksi ikan, namun juga pada kehidupan lainnya.

“Kami rugi secara ekonomi karena produksi ikan berkurang, lahan karet yang mulai sedikit dan harganya murah, kebun padi yang berkurang lahannya, di bidang kesehatan rugi karena selalu menghirup asap kalau kebakaran di musim kemarau,” pungkasnya. (Supardi)

Komentar

Berita Lainnya