oleh

Ngobrol Pintar Caro Wartawan, Hadirkan Kapolda Sumsel

Palembang l Mengangkat topik urgensi perlindungan profesi Wartawan, Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumsel kembali menggelar Ngopi Cow (Ngobrol Pintar Caro Wartawan).

Menurut Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Drs Supriadi MM, Rabu (07/07/2021) Sebagai Wujud kedekatan Polri dengan Jurnalis atau awak media.

” Yang mana kegiatan tersebut merupakan Ajang Silahturrahmi antara Kapolda Sumsel dengan Awak media yang selama ini sudah terjalin baik,” ucap Kombes Pol Supriadi MM.

 

Event ini diinisiasi oleh Bidang Hukum dan Pembelaan Wartawan PWI Sumsel akan menghadirkan Kapolda Sumsel Irjen Pol Prof Dr Eko Indra Heri S, MM.

” Insya Allah Bapak Kapolda akan hadir dan tadi pertemuan gathering dengan wartawan bahwa sudah mengetahui rencana kegiatan tersebut,” ujar Ketua PWI Sumsel yang biasa dipanggil Firko.

Acara akan dilaksanakan semi virtual, sebagian peserta offline. Acara bakal dilaksanakan pada Kamis, 8 Juli 2021 pukul 09.00 WIB di Mabes Wartawan kantor PWI Sumsel Jalan Supeno No 11 Kambang Iwak Palembang.

Event yang dikemas dalam dialog sharing menghadirkan Pimpinan organisasi wartawan dan perusahaan pers, pemimpin redaksi cetak, elektronik dan siber serta praktisi hukum serta akademisi.

Deskripsi Latar Belakang Menurut Firdaus, kegiatan ini dilaksanakan untuk memperkuat kembali terkait dengan perlindungan profesi wartawan.

Semua awak media di seantero Tanah Air kaget mendengar kabar tewasnya wartawan karena dibunuh Pimpinan Redaksi LasserNewsToday, Mara Salem Harahap, di Simalungun, Sumatera Utara meninggal diduga karena ditembak, Sabtu (19/6/2021).

Kabar duka yang mendapat kecaman dan kutukan dari berbagai organisasi profesi  di Tanah Air. Termasuk dari kepolisian dan pemerintah juga menyesalkan kejadian ini.

Bagi pers Indonesia, peristiwa tersebut meruapkan kabar duka yang kembali mewarnai kehidupan pers di tanah air. Peristiwa kriminal berupa pembunuhan atau kekerasan dengan pemberatan bisa terjadi dengan siapa pun, termasuk wartawan.

Mengapa profesi Wartawan menjadi menarik. Profesi Wartawan termasuk salah satu pekerjaan yang pada idealnya harus memiliki kemampuan dan standarisasi profesi.

Menurut Firko, standarisasi ini berkaitan dengan karya jurnalistik yang dihasilkan, karena wartawan adalah orang yang secara  berkala, melaksanakan tugas jurnalistik. Melakukan tahapan 6 M (Mencari, Memperoleh, Memiliki, Menyimpan, Mengelola dan Mempublikasikan) karya jurnalistik.

Jika proses menghasilkan karya jurnalistik, tidak dilakukan demikian artinya bukan termasuk konsep wartawan yang dikehendaki dari UU No 40 tahun 1999 tentang Pers.

Sudah seharusnya wartawan menjadi ujung tombak pelaksanaan fungsi pers seperti yang tertera dalam UU No 40 tahun 1999 tentang pers, yaitu fungsi pendidikan, informasi, kontrol sosial, hiburan dan fungsi ekonomi.

Wartawan yang memiliki idealisme, dapat dilihat dari pendapat Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Sepuluh Elemen Jurnalisme disusun berdasarkan buku “9 Elemen Jurnalisme” dan “Blur” karya Bill Kovach & Tom Rosenstiel yang sangat dihormati di dunia jurnalisme.

Di antaranya, yaitu tugas utama praktisi jurnalisme adalah memberitakan kebenaran. Kebenaran yang dimaksud bukan perdebatan filsafat atau agama, tapi kebenaran fungsional yang sehari-hari diperlukan masyarakat.

Kemudian loyalitas utama wartawan pada masyarakat, bukan pada perusahaan tempatnya bekerja, pembaca, atau pengiklan. Wartawan harus berpihak pada kepentingan umum.

Sedangkan esensi jurnalisme adalah verifikasi, memastikan bahwa data dan fakta yang digunakan sebagai dasar penulisan bukan fiksi, bukan khayalan, tetapi berdasarkan fakta dan pernyataan narasumber di lapangan.

Kemudian wartawan harus independen, artinya tak masalah untuk menulis apapun (baik/buruk) tentang seseorang sepanjang sesuai dengan temuan/fakta yang dimilikinya. Independensi harus dijunjung tinggi di atas identitas lain seorang wartawan.

Kembali ke peristiwa pembunuhan wartawan, dalam melaksanakan tugas jurnalistik wartawan tetap memiliki pilihan hati nurani yang telah memiliki kode etik jurnalistik.

Pilihannya apakah mau menjadi wartawan yang benar atau sebaliknya. (Abdus)

Komentar

Berita Lainnya