oleh

Masyarakat Sumsel Jangan Terlena Dengan Musim Hujan

Prof Dr Robianto Hendro Susanto, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya mengingatkan masyarakat palembang jangan terlena dengan musim hujan. Fhoto : Supardi
Prof Dr Robianto Hendro Susanto, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya mengingatkan masyarakat palembang jangan terlena dengan musim hujan. Fhoto : Net

PALEMBANG I Menurut data BMKG Republik Indonesia, bulan Maret ini sebagian wilayah indonesia berada pada puncak musim penghujan. Namun, Program Coordinator Land and Water Management Specialist, Prof Dr Robianto Hendro Susanto mengingatkan agar masyarakat Sumatera Selatan untuk tidak terlena oleh cuaca, terutama pada lahan hutan dan pertanian di derah rawa, gambut, dan pesisir.

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya ini menyerukan supaya masyarakat Sumsel tidak melupakan tragedi kebakaran dan asap pada musim kemarau lalu. Ia menegaskan, dimusim hujan inilah kesempatan untuk meminimalisirkan peluang kebakaran di musim kemarau nanti.

“Caranya sangat mudah, warga yang pemilik tanah gambut cukup menutup aliran air dengan tanggul agar gambutnya tidak kering ketika musim kemarau nanti,” tegasnya.

Menurut Robianto, ketika menutup aliran itu dengan tanggul maka kita sudah meminimalisir peluang kebakaran tanah gambut. Hal itu karena telah membantu tanah gambut agar tidak kekeringan dimusim kemarau nanti.

“Lahan gambut itu jangan dikeringkan, gambut itu harus basah agar tidak mudah terbakar,” katanya saat Workshop Jurnalis Karhutlah, Sabtu (5/3/216) di Hotel Aston Palembang.

Ia juga menerangkan, untuk mengelola lahan gambut harus memperhitungkan kelestarian lahan gambut. Sebelum mengelolah lahan ngambut harus dilakukan proses survei bahkan investigasi.

“Tujuannya supaya tahu kondisi aliran sungai,  kondisi kedalaman gambut, sistem drainase dan tata kelola lainnya,” ujarnya.

Di tempat yang sama Dosen Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Ir H Bambang Hero Suharjo menegaskan, agar warga Sumsel fokus menyelesaikan permasalahan yang terjadi musiman itu.

“Kebakaran hutan bukan cerita baru, kita harus fokus mencari solusi menanggulanginya,” jelasnya.

Ia meminta kepada semua komponen masyarakat tetap fokus. Dari data The Sustainable Trade Initiative, dari 727 dikawasan hutan gambut, terdapat 340 desa pernah mengalami kebakaran sejak tiga tahun terakhir.

“Itu akibat gagap, kita jangan gagap. Jangan menunggu musim kemarau baru gelabakan memadamkan api, padahal dari sekarang kita bisa menanggulanginya,” lanjutnya.

“Sekarang mari kita tutup aliran air di gambut itu agar selalu basah ketika musim kemarau,” ajaknya. (Supardi)

Komentar

Berita Lainnya