oleh

Masa Depan Harimau Sumatera di Tangan Kita

Harimau sumatera [Panthera tigris sumatrae] merupakan anak jenis harimau terakhir yang hidup di hutan Sumatera. Sebelumnya, kita pernah berbangga memiliki harimau bali [Panthera tigris balica] dan harimau jawa [Panthera tigris sondaica], namun keduanya telah dinyatakan punah pada 1960-an dan 1980-an.

Sejarah punahnya harimau bali dan harimau jawa, diawali dengan beralih fungsinya hutan menjadi lahan pertanian dan perkebunan, saat era kolonial Belanda. Kebutuhan kayu beserta perburuan massal yang dibarengi konflik dengan masyarakat, membuat dua raja rimba itu pergi untuk selamanya. Perburuan harimau di era itu, bahkan dijadikan semacam sayembara.

Spesimen bayi harimau sumatera yang tetap diperhatikan kondisinya di laboratorium LIPI. Foto: Rahmadi Rahmad/Mongabay Indonesia

Bagaimana nasib harimau sumatera saat ini?

Populasi harimau sumatera diperkirakan sekitar 600-an individu, estimasi yang dijadikan patokan pada 2018 itu, berdasarkan persebarannya di 23 lanskap Pulau Sumatera. Sekitar 26 tahun lalu, yaitu pada 1992, perkiraan populasinya sekitar 400-an individu yang dihasilkan dari analisis di 7 lanskap.

Bisa dikatakan, populasi kecil harimau sumatera berada di dataran rendah yang terfragmentasi. Sedangkan populasi besarnya ada di habitat yang tersambung dengan tulang punggung Pulau Sumatera-Bukit Barisan.

Bukit Barisan adalah habitat pembeda harimau sumatera dengan harimau di Jawa. Lereng curam dan dataran tinggi, memberikan faktor kesulitan tersendiri untuk diakses manusia. Ketika hutan semakin tergerus dari sisi timur dan barat, Bukit Barisan menjadi satu-satunya habitat alami tersisa yang cukup luas untuk ditempati, meski bukan habitat paling ideal. Sementara Jawa, tidak memiliki jajaran gunung sehingga fragmentasi hutan lebih cepat terjadi.

Hanya saja, kondisi Bukit Barisan saat ini tidak tersambung dengan baik dari Lampung hingga Aceh. Tersekat oleh jalan dan permukiman penduduk.

Di Bengkulu, terdapat dua sekat yaitu Jalan Raya Manna – Pagar Alam dan ke utara ada jalur Bengkulu – Kepahiang – Curup – Lubuk Linggau. Di Sumatera Barat, terbelah oleh jalur Padang – Bukittinggi – Payakumbuh. Sementara di Sumatera Utara, tersekat di Padang Sidempuan – Sipirok – Sibolga – Tarutung yang membelah lanskap Rimbo Panti, Barumun dan Batang Gadis.

Antara Sumatera Utara dan Aceh ada jalur di Sidikalang. Untuk Aceh, terdapat jalur Babahrot – Blangkejeren yang memisahkan dua ekosistem besar yaitu Ulu Masen dan Leuser. Lanskap Leuser sendiri terbelah dua oleh jalur Sidikalang – Gayo Lues. Untuk kondisi di Riau dan Jambi, harimau banyak berada di habitat kecil akibat hutan yang terfragmentasi untuk perkebunan.

Kulit harimau bali yang masih terawat baik di laboratorium LIPI. Foto: Rahmadi Rahmad/Mongabay Indonesia

Konflik harimau

Perkembangan infrastruktur, perkebunan dan permukiman, perilaku alami harimau sumatera yang memiliki daya jelajah luas [jantan dewasa dapat mencapai 250 km2], perburuan satwa mangsa, peternakan tradisional yang digembalakan terbuka di pinggiran hutan merupakan sejumlah faktor utama pemicu konflik.

Hingga pertengahan tahun 2020, konflik harimau dengan manusia berulang kali terjadi. Setidaknya, 7 ekor ditangkap setelah berkonflik, rinciannya di Sumatera Selatan [1 ekor], Riau [2 ekor], Aceh [2 ekor], dan di Sumatera Barat [2 ekor]. Sedangkan harimau yang mati akibat perburuan, diawali konflik, ada di Aceh [1 ekor], Sumatera Utara [1 ekor], Riau [1 ekor], dan Bengkulu [1 ekor].

Sementara, pedagang yang ditangkap memperjualbelikan kulit harimau ada 2 kasus di Aceh, Jambi [1 kasus], dan Riau [1 kasus].

Perburuan liar bukan saja mengurangi jumlah individu, tetapi juga mengeliminir individu produktif yang dapat berkembang biak. Dampaknya, akan sangat berat pada lanskap kecil.

Bagaimana pengamanan? Sumber daya besar dikerahkan untuk melakukan patroli. Taman Nasional Gunung Leuser misalnya, ada 24 tim patroli yang melakukan penjagaan intensif antara 10-14 hari setiap bulan.

Di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan [TNBBS] juga terdapat 24 patroli per bulan. Catatan menarik menunjukkan, laju deforestasi di dalam kawasan TNBBS menurun dari 1.04% pertahun pada rentang waktu 2005-2010, menjadi 0.47% pada 2011 – 2017.

Patroli-patroli intensif seperti ini pun rutin dilakukan di lanskap lain seperti Batang Gadis, Kerinci Seblat, Berbak dan Sembilang, Rimbang Baling, dan Way Kambas.

Tengkorak harimau jawa dan harimau bali di laboratorium LIPI. Dua jenis harimau ini sudah punah. Foto: Rahmadi Rahmad/Mongabay Indonesia

Masa depan harimau sumatera

Konflik manusia dengan harimau akan terus terjadi, bahkan bisa semakin intensif jika deforestasi dan perburuan [termasuk perburuan satwa mangsa harimau] tidak berhenti. Bahkan, kepunahan pada populasi-populasi kecil bisa saja terjadi dalam waktu dekat.

Perilaku induk harimau beranak yang secara alami menjauh dari tengah habitat untuk menghindari infanticide [pejantan membunuh anak], kadang menimbulkan konflik di masyarakat. Perlu pengamatan jeli menangani individu dengan tipe seperti ini.

Informasi yang cepat menyebar, jika ada kejadian penampakan harimau, berujung pada keresahan publik yang tak jarang membangun persepsi negatif terhadap harimau sumatera. Padahal, satwa ini memiliki fungsi penting sebagai pemangsa puncak.

Hasil analisis PVA [Population Viability Analysis] yang dilakukan tim Forum HarimaKita dan Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati [KKH], KSDAE, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, memberikan arah strategi bahwa pada lanskap berukuran besar [daya dukung >70 individu harimau] dan lanskap sedang [daya dukung >20-70], harimau akan tetap lestari. Estimasinya, untuk 100 tahun atau satu abad mendatang. Namun dengan syarat, deforestasi harus serendah mungkin dan perburuan dapat dihentikan.

Kelestarian populasi harimau akan bertumpu pada lanskap besar seperti Leuser – Ulu Masen, Batang Gadis, Kerinci-Seblat, Batang Hari dan Rimbang Baling sebagai populasi kuat untuk terus dikelola secara efektif.

Lanskap sedang seperti Bukit Barisan Selatan, Bukit Tigapuluh, Bukit Balai Rejang Selatan, Barumun, Batang Toru, Rimbo Panti/Pasaman, Dolok Surungan dan Hutan Harapan juga harus lebih diperhatikan. Ini menjadi penting karena banyak dukungan sumber daya eksternal terdistribusi pada kawasan-kawasan yang memiliki nama besar seperti Leuser, Kerinci-Seblat dan Bukit Barisan Selatan.

Sementara, di lain sisi, banyak bentang alam dengan luasan habitat dan populasi kecil [daya dukung <20 individu harimau] terus mengalami konflik dan berbagai tekanan. Strategi jitu untuk memastikan konektivitas antar-populasi sangat krusial, dan tentu saja sangat diperlukan untuk menyamakan arah dan program konservasi harimau, dari berbagai pihak.

Sejauh ini, para ahli dan juga pihak Direktorat KSDAE, KLHK, tengah menelaah draf dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Harimau Sumatera yang baru.

Harimau sumatera yang statusnya Kritis. Foto: Rhett Butler/Mongabay

Ada juga gagasan yang semakin dikembangkan bernama pengamanan kawasan berbasis masyarakat atau patroli partisipasifMasyarakat yang berada di sekitar kawasan hutan dan habitat harimau sumatera diberdayakan untuk menjaga kelestarian hutan. Sebuah model pengamanan kawasan yang mengedepankan masyarakat sebagai aktor konservasi.

Patroli partisipasif ini lebih bersifat toleran demi menghindari konflik horizontal. Jika cara ini dapat membangun kesadaran kolektif semua pihak, akan sangat baik diterapkan.

Tentu saja, desain metode ini harus terus dikembangkan, guna membangun komitmen berbagai pihak. Ingat, prioritas konservasi harimau sumatera sebagai spesies payung, yang memiliki wilayah jelajah luas, merupakan strategi untuk memastikan kelestarian keanekaragaman hayati lain yang berada di lingkup habitatnya. (Sumber:mongabay.co.id)

Komentar

Berita Lainnya