oleh

Mampukah Tim Restorasi Gambut Sumsel Selamatkan Situs Sriwijaya?

Legimin (52) yang membuat Museum Proto Sriwijaya di desanya, Karangagung Tengah, Kecamatan Lalan, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Foto: Nurhadi Rangkuti/mongabay.co.id

PALEMBANG I Agar lahan gambut kembali pulih dan memberi dampak yang baik bagi lingkungan hidup dan manusia, restorasi gambut tidak hanya menggunakan pendekatan teknis, tetapi juga budaya. Sebab, kerusakan lahan gambut selama ini, seperti perambahan dan kebakaran, tidak hanya menyebabkan rusaknya fungsi hidrologis gambut, juga menghilangkan dan mengancam keberadaan situs sejarah dan tradisi di masyarakat. Itu pendekatan yang akan diambil Tim Restorasi Gambut Sumatera Selatan (Sumsel).

“Jelas akan dilakukan pendekatan budaya. Seluruh kebijakan terkait lingkungan hidup di Sumsel menggunakan pendekatan budaya. Lingkungan hidup tidak dapat dijauhkan dari nilai-nilai budaya. Tim Restorasi Gambut Sumsel juga akan melakukan pendekatan budaya,” kata Dr. Najib Asmani, Staf Khusus Gubernur Sumsel Bidang Perubahan Iklim, Jumat (25/03/2016).

“Agar ada jaminan terkait pendekatan budaya tersebut, Tim Restorasi Gambut Sumsel akan merangkul pakar budaya di kelompok ahli atau komisi ahli,” kata Najib.

Berdasarkan Perpres No.1 Tahun 2016 tentang Badan Restorasi Gambut (BRG), Sumsel satu dari tujuh provinsi di Indonesia yang menjadi target BRG; Riau, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Papua, yang lahan gambutnya akan direstorasi dengan luas total sekitar 2 juta hektare. Di Sumsel targetnya di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Musi Banyuasin (Muba).

BRG berharap Tim Restorasi Gambut Daerah di tujuh provinsi sudah terbentuk hingga akhir Maret 2016, dan pada awal April 2016 mereka sudah dapat melakukan rapat teknis. “Harapannya minggu depan sudah terbentuk. Sebab awal April kita harus rapat membahas teknis,”kata Nazir Foead, Kepala BRG di Jakarta.

Khusus wilayah gambut di OKI dan Muba, yang berada di wilayah pesisir timur Sumsel, ternyata terdapat beragam situs sejarah terkait masyarakat proto Sriwijaya dan masa Kerajaan Sriwijaya. Berbagai artefak ditemukan selama ini, termasuk sisa bangunan rumah atau permukiman tua masyarakat.

Selama ini, mulai pembuatan permukiman transmigran, pembukaan lahan, sering ditemukan situs sejarah tersebut. Bahkan kebakaran lahan gambut juga merusak sejumlah situs sejarah, seperti yang terjadi di Desa Ulak Kendondong, Kecamatan Cengal, Kabupaten OKI.

Terkait situs sejarah di wilayah gambut, Bupati OKI Iskandar setuju jika wilayah tersebut direstorasi atau diselamatkan dari penggunaan perkebunan, pertanian, maupun pemukiman.

“Pada prinsipnya Bupati (Iskandar) mendukung semua langkah BRG maupun Balai Arkeologi Sumsel terhadap situs-situs sejarah yang ada di Kabupaten OKI, hanya dengan satu tujuan mengembalikan lahan gambut menjadi baik sehingga kekayaan alam dan budayanya juga terjaga,” kata Deddi Kurniawan, Kabag Humas dan Protokol Kabupaten OKI.

Fragmen gerabah dan keramik Tiongkok dari Situs Kanal 12. Foto: Nurhadi Rangkuti

Sebaran situs Sriwijaya

Adapun situs purbakala Sriwijaya, baik sebelum maupun saat Sriwijaya berjaya, saat ini berada di perkampungan dan di dekat wilayah konsesi perkebunan sawit dan hutan tanaman industri (HTI). Selain di Desa Ulak Kedondong, Kecamatan Cengal, yang dekat dengan konsesi HTI, juga beberapa titik lainnya.

Misalnya situs Karangagung Tengah yang berada di Kabupaten Musi Banyuasin. Situs diperkirakan menunjukkan kehidupan sekitar 220-400 dan 320-560 Masehi.

Artefak yang ditemukan, sekitar Sungai Sembilang dan Sungai Lalan, memang sangat riskan hancur oleh kebakaran. Sebut saja kayu perahu kuno, tembikar, manik-manik batu dan kaca, anting, gelang, cincin, liontin perunggu, dan lainnya.

Ekskavasi situs mulai dilakukan Pusat Arkeologi Nasional pada puncak-puncaknya kebakaran gambut di sana pada 2008 dan 2009. Sejak 2014, ekskavasi dilanjutkan Balar Palembang.

Nurhadi Rangkuti, arkeolog, sangat berharap pemulihan lahan gambut memberikan dampak pada penjagaan situs Sriwijaya tersebut. “Jangan sampai kerusakan lahan gambut membuat kita kehilangan kekayaan alam juga bukti sejarah besar bangsa ini,” ujarnya. (Taufik Wijaya/Mongabay.co.id)

Sebaran situs arkeologi di pantai timur Sumatera Selatan. Peta: Balai Arkeologi Palembang

Sebaran situs arkeologi di pantai timur Sumatera Selatan. Peta: Balai Arkeologi Palembang

Komentar

Berita Lainnya