oleh

Kisah Kemasyhuran Pangandaran : Berjuang untuk Bertahan Hidup di Tengah Pandemi

  • Pangandaran sebelum dan sesudah 2012 adalah daerah yang berbeda bagi semua orang, terutama penduduk lokal. Setelah 2012, daerah tersebut resmi berpisah dengan Kabupaten Ciamis dan berdiri sendiri sebagai Kabupaten Pangandaran
  • Meski dikenal sebagai destinasi pariwisata populer di Indonesia, Pangandaran berusaha memetakan potensi perikanan dan mengembangkannya untuk kemakmuran masyarakat. Proses tersebut sampai sekarang masih terus berlangsung
  • Saat sedang berkembang, pandemi COVID-19 masuk ke Indonesia dan menghentikan segala aktivitas perekonomian di daerah tersebut. Selama berhenti, banyak pelaku usaha perikanan skala kecil yang harus bertahan hidup
  • Selain faktor pandemi COVID-19, penurunan ekonomi yang dirasakan nelayan juga karena musim angin sedang berlangsung. Kondisi itu membuat nelayan tidak bisa melaut untuk menangkap ikan dan berakibat pada penurunan pendapatan
  • Artikel ini merupakan bagian kedua dari empat tulisan. Tulisan pertama dapat dibaca pada tautan ini. Tulisan kedua bisa dibaca di tautan ini. 

Rabu sore di awal September 2020, Pantai Barat, Kabupaten Pangandaran menjadi saksi kegigihan Imas, seorang perempuan nelayan yang berjuang mempertahankan kehidupannya di masa pandemi COVID-19 sekarang. Perempuan tersebut seolah tak ingin menjadi biang belas kasihan orang-orang atas nasib yang dialaminya sekarang.

Bersama dengan perempuan nelayan lain yang sama-sama memilih menjual produk perikanan, Imas terlihat gigih menawarkan barang dagangan yang ada di dalam bakul yang digendongnya. Pada sore tersebut, Imas seolah ingin menegaskan bahwa kehidupan harus terus berjalan dengan cara apapun.

“Saya sebenarnya capai. Sudah dari 1987 berjualan seperti ini. Namun, saya harus melakukannya untuk bisa tetap bertahan hidup,” ungkap perempuan yang kini berusia 51 tahun itu saat berjumpa dengan Mongabay di area taman Pantai Barat.

Perempuan yang menyebut orang tuanya berasal dari Galunggung, Tasikmalaya itu, mengaku selalu menghabiskan waktunya setiap hari di kawasan Pantai Barat dan atau Timur. Di kedua pantai itu, dia biasa menjajakan barang dagangan produk perikanan yang diambil dari pelaku usaha yang disebutnya sebagai Bakul.

Dengan menyebut usianya sekarang dan awal mula dia menjalani profesinya, kita bisa tahu bahwa dia sudah melakoni profesinya selama 33 tahun. Itu berarti, Imas sudah mulai berjualan ikan asin saat masih berusia 16 tahun.

Imas, perempuan nelayan yang menjual ikan di sepanjang Pantai Barat dan Pantai Timur, Pangandaran. Foto : M Ambari/Mongabay Indonesia

Sore itu, penanda usia dan pengalaman melakoni pekerjaan yang sangat panjang terlihat dengan jelas pada raut muka Imas. Walau ada ekspresi kelelahan, namun mulutnya tak henti menawarkan barang yang dijajakan. Seolah, rasa capainya itu bisa diatasi dengan mudah.

Selama 33 tahun berjualan, Imas merasa kehidupannya sudah banyak terbantu dari berjualan ikan olahan dalam kemasan. Beberapa tahun terakhir, penghasilannya bahkan bisa disebut mapan untuk standar kehidupan di Pangandaran.

Sebelum pandemi, dalam sehari dia biasa menjual ikan hingga menghasilkan minimal Rp100 ribu atau Rp200 ribu. Pada akhir pekan atau hari libur nasional, nilai tersebut akan membengkak lagi menjadi minimal Rp500 ribu.

“Semua itu saya dapat dari berjualan dari pagi hingga petang,” jelas dia.

Ketika pandemi berlangsung yang mengakibatkan Pangandaran ditutup untuk umum selama hampir empat bulan, Imas harus berjuang untuk bisa bertahan hidup dengan bekerja serabutan. Terkadang, dia menjadi tukang pijat panggilan, namun di lain waktu dia juga menjadi tukang cuci pakaian.

Pandemi

Walau dirasa masih berat dengan kehidupan sekarang saat pandemi, Imas tetap mengaku bersyukur karena masih diberi kesehatan. Dia juga bersyukur diberikan bakat untuk menjadi perempuan nelayan, mengikuti jejak orang tuanya yang menjadi nelayan di Pangandaran sejak 1960-an.

“Anak saya juga menjadi nelayan yang pergi melaut. Kehidupan kami tak bisa dilepaskan dari laut dengan banyak ikan yang ada di sana,” ucap dia.

Dengan profesinya itu, Imas mengaku sudah lama menjadi tulang punggung keluarga. Bukan hanya untuk rumah tangganya sekarang, namun juga untuk mantan suaminya yang saat ini sudah tidak bisa lagi bekerja seperti biasa karena sakit.

“Saya pasrah saja. Suami juga tahu, karena memang bagaimana pun di sana ada anak saya. Dia tinggal bersama Ayahnya untuk menjaganya,” sebut dia.

Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Cikidang, Pangandaran, Jabar. Foto : M Ambari/Mongabay Indonesia

Penurunan pendapatan juga dirasakan para nelayan yang biasa melaut dari Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Cikidang, Desa Babakan, Kecamatan Pangandaran. Di sana, tak sedikit nelayan yang terpaksa harus menambatkan perahunya sejak awal pandemi COVID-19 di Indonesia sampai sekarang.

Menurut pengakuan dua orang nelayan yang ditemui Mongabay di sebuah warung tak jauh dari lokasi perahu tertambat, penurunan pendapatan disebabkan bukan karena hasil tangkapan ikan mengalami penurunan saat pandemi COVID-19.

Melainkan, karena harga jual ikan mengalami penurunan selama masa pandemi. Ketiga nelayan mengibaratkan, jika harga seekor ikan dijual Rp10.000 per kilogram, maka harganya langsung anjlok menjadi hanya Rp5.000 per kg saja atau bahkan lebih rendah dari itu.

“Selain faktor harga, kondisi kami juga dipengaruhi oleh berbagai kebijakan yang sudah diterbitkan oleh Negara. Misalnya, soal alat tangkap yang boleh digunakan, dan atau batasan wilayah kami untuk menangkap ikan,” jelas Agus, salah satu nelayan yang memiliki 1 unit perahu berukuran 1 gros ton (GT).

Pernyatan pria 40 tahun itu langsung diamini oleh temannya sesama nelayan yang duduk di sampingnya. Usman, nama pria tersebut langsung melanjutkan dengan menyebut bahwa dia dan teman-temannya sesama nelayan sama sekali tidak kekurangan ikan selama masa pandemi berlangsung.

Bahkan, ikan yang melimpah menjadi sumber makanan untuk dia dan keluarganya. Semua itu bisa terjadi, karena harga jual ikan selama pandemi mengalami penurunan tajam. Jika ikan dijual, maka keuntunganya sangat sedikit.

“Makanya saya jual tidak semuanya. Ada juga yang dipakai untuk teman nasi di rumah,” ucap dia.

Tentang alat tangkap, Usman tidak menampik jika di antara sesama nelayan masih banyak yang mempersoalkannya. Pengaturan alat tangkap yang diterbitkan periode kepemimpinan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti itu, dinilai tidak tepat karena dipukul rata untuk semua nelayan.

“Padahal setiap nelayan memiliki alat tangkap yang berbeda disesuaikan dengan perahunya. Jika terlalu kecil ukurannya, bisa bermanfaat dan juga tidak. Karena yang tahu itu memang nelayan,” tutur dia.

Perahu-perahu nelayan yang bersandar di PPI Cikidang, Pangandaran. Foto : M Ambari/Mongabay Indonesia

Paceklik

Kepala Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Satuan Wilayah Kerja Pangandaran Rukmana saat dikonfirmasi tidak membantah jika saat ini kondisi pelabuhan sedang memasuki masa paceklik yang panjang.

Selain diakibatkan oleh pandemi COVID-19, penurunan pendapatan juga berlangsung karena pengaruh musim angin Timur dan Barat. Kebetulan, saat Mongabay datang, angin timur sedang berlangsung dan itu mengakibatkan tidak sedikit nelayan untuk menghentikan aktivitas melaut sementara.

“Kondisi tersebut mengakibatkan TPI (tempat pelelangan ikan) menjadi sepi dari aktivitas,” ujar dia.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kelautan, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (KPKP) Kabupaten Pangandaran Rida Nirwana Kristiana menyebutkan, saat ini terdapat 5.335 orang nelayan di Pangandaran dan 2.662 orang di antaranya sudah mendapatkan kartu pelaku usaha kelautan dan perikanan (KUSUKA).

Secara keseluruhan, Pangandaran saat ini memiliki 1.958 kapal perikanan berbagai ukuran yang sudah beroperasi saat ini. Dari jumlah tersebut, kapal berukuran di bawah 5 GT menjadi yang terbanyak dan ukuran 20-30 GT menjadi yang paling sedikit.

Rida kemudian menjelaskan, walau saat ini situasinya sudah mulai membaik, namun selama pandemi COVID-19 berlansung produksi perikanan mengalami penurunan yang cukup signifikan. Contohnya saja, untuk produksi Juli 2020 jumlahnya mencapai mencapai 46.141 kg dengan nilai produksi mencapai hampir Rp3,3 miliar.

Angka tersebut jika dibandingkan untuk periode yang sama cukup jauh perbedaannya. Pada Juli 2019, jumlah tangkapan mencapai 280.943 kg dengan nilai produksi mencapai hampir Rp9,1 miliar. Penurunan signifikan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya tersebut, disebabkan karena banyak hal.

“Kebetulan juga sedang berlangsung pandemi COVID-19, jadi semakin terasa penurunannya,” tegas dia.

Rukmana, Kepala PSDKP Satker Wilayah Pangandaran. Foto : M Ambari/Mongabay Indonesia

Penurunan tersebut berdampak pada semua sektor kehidupan yang ada di Pangandaran. Dari mulai sektor jasa, perdagangan, hingga pariwisata. Termasuk, seperti yang dialami oleh perempuan nelayan bernama Imas.

“Tidak banyak yang bisa kita lakukan sekarang, selain kita berjuang kembali untuk bisa pulih. Bersyukur pariwisata sudah mulai hidup lagi, jadi berharap harga jual ikan akan kembali pulih karena pasokannya sudah jelas akan ke mana,” tegas dia.

Diketahui, selain menjadi bagian dari pengembangan pariwisata, sektor perikanan juga berusaha menjadi sektor yang mandiri di Pangandaran. Walau belum bisa mengejar tetangganya, Kabupaten Cilacap, namun Pangandaran terus berbenah diri untuk terus mengembangkan sektor perikanan. (Sumber: mongabay.co.id)

 

Komentar

Berita Lainnya