oleh

Harga Cabai Rawit di Bangka Dekati Rp100 Ribu, Sayur Mayur Normal

Bangka | Harga cabai rawit di Kabupaten Bangka saat ini tembus Rp100 ribu. Harga ini mengalami kenaikan dari sebelumnya Rp80 ribu per kilogram.

Salah satu pedagang di Pasar Higienis Sungailat Raiman menjelaskan, harga ini naik Rp20 ribu dari sebelumnya. “Sekarang sudah Rp100 ribu. Sebelumnya masih Rp80 ribu,” kata dia.

Berbeda dengan cabai, harga sayur mayur kata Raiman masih terpantau normal. Meskipun kondisi cuaca beberapa hari terakhir ini terbilang ekstrim, namun diakuinya belum mempengaruhi kenaikan harga sayur-mayur di pasaran.

“Kalo sayur-mayur yang biasanya dibeli Ibu rumah tangga seperti seledri masih normal Rp.30 ribu/Kg, Kemudian timun Rp.7 ribu/Kg dan sawi Rp.7 ribu/Kg. Tapi untuk cabai rawit sekarang Rp.95 ribu/Kg, naiknya sudah tiga hari terakhir ini. Sedangkan cabai merah besar Rp.50 ribu/Kg,” jelasnya.

Dikatakan Raiman, untuk stok sayur-mayur di  pasaran saat ini masih mencukupi, karena pasokannya di datangkan dari daerah lokal di Bangka Belitung, sehingga tidak mengalami kendala dalam pengirimannya.

Disisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pangkalpinang memprediksi musim peralihan (Pancaroba) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) akan terjadi pada minggu ke dua bulan Mei – minggu pertama bulan Juni.

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Pangkalpinang, Kurniaji mengatakan, musim pancaroba akan menyebabkan perubahan cuaca yang sangat drastis.

Ciri umum cuaca saat masa pancaroba yakni adanya perubahan kondisi cuaca yang relatif lebih cepat. Cuaca tersebut saat pagi – siang umumnya cerah-berawan dengan kondisi panas cukup terik yang diikuti dengan pembentukan awan yang signifikan. Serta hujan intensitas tinggi dalam durasi singkat yang secara umum dapat terjadi pada periode siang – sore hari.

“Ketika pancaroba biasanya hujan tidak menentu. Kategorinya sangat acak, bisa terjadi hujan dengan intensitas lebat dan sedang disertai kilat/petir, serta berpotensi terjadinya angin kencang,” Jelas Kurniaji.

Masyarakat pun diminta untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang terjadi dan dampak yang ditimbulkan.

“Dampak yang dapat ditimbulkannya seperti banjir, tanah longsor, genangan air, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin selama memasuki masa pancaroba,” ungkapnya.

Sementara ketika ditanya terkait cuaca yang terjadi di wilayah Provinsi Babel beberapa hari ini cukup ekstrim, Kata Kurniaji hal itu merupakan hal yang biasa terjadi setiap tahunnya. Dimana puncak penghujan biasanya terjadi pada bulan Desember 2020 – Januari 2021 kemudian intensitasnya menurun pada februari dan akan kembali meningkat di bulan Maret – April mendatang. (Doni)

Komentar

Berita Lainnya