oleh

Catatan seorang Diver: Laut Tempat Kita Bermain, Jaga Kelestariannya

Selam bebas (free dive) seperti halnya selam scuba (scuba dive)  merupakan kegiatan yang dilakukan di air, terutama di laut. Bedanya, selam bebas merupakan kegiatan menyelam tanpa menggunakan tabung oksigen.

Secara khusus untuk selam bebas, kita menggunakan teknik menarik oksigen dari satu tarikan napas yang kita hirup. Ketenangan adalah kunci dari olahraga ini, sehingga kita dapat menyelam di laut dengan bebas bersama dengan para biota laut. Teknik dalam selam bebas berkaitan erat dengan yoga dan meditasi.

Seperti halnya melakukan scuba diving, melakukan selam bebas perlu dilakukan paling tidak oleh dua orang. Satu orang menjadi penyelam, satu orang lagi menjadi seorang pengaman (safety diver).

Sebagai penyelam yang berkegiatan selam bebas, kita tidak punya pilihan selain untuk menjaga dan melindungi laut dari ancaman yang dihadapi laut: pemanasan global, polusi laut, dan kerusakan terumbu karang. Berikut beberapa catatan penting mengapa laut penting dijaga oleh para penyelam.

Menjaga Laut agar Tetap Lestari

Laut merupakan tempat penyelam bermain. Bukan hanya itu, laut juga merupakan sumber kehidupan kita. Sebagai pengguna utama laut, tidak mungkin penyelam hanya bergiat tanpa memperhatikan keberlangsungan laut.

Penyelam adalah pihak utama yang merasakan adanya perubahan kondisi lingkungan laut misal adanya polusi di laut atau pun kerusakan terumbu karang.

Di dalam aktivitas penyelaman, kita ditekankan untuk aware dengan kondisi tubuh dan mental dalam melakukan penyelaman. Kemampuan ini yang kita gunakan untuk mengetahui batasan lama dan seberapa dalam kita dapat menyelam. Kepekaan inilah yang diperlukan untuk melihat kondisi laut.

Berikutnya, sebagai seorang penyelam penting untuk menempatkan alam sebagai subjek, bukan hanya sebagai objek. Alam merupakan makhluk seperti halnya manusia bukan sekedar komoditas yang dapat digunakan sesuka hati oleh manusia.

Semakin kita bergiat di laut, seyogyanya, semakin tinggi penghargaan penyelam terhadap alam (lingkungan hidup). Bagaimana mungkin kita sebagai kelompok yang bergiat di laut tidak berbicara mewakili laut ketika alam dirusak disakiti.

Sebagai orang yang senang berkegiatan di alam bebas, kita perlu sadar bahwa laut kita sedang sakit. Untuk itu kita perlu memahami perubahan yang terjadi, akibat hal-hal dibawah ini.

Kegiatan selam bebas di Nusa Lembongan, Bali. Foto: Jeremy Bishop

1. Penyakit utama laut – Perubahan Iklim!

Fenomena perubahan iklim berkaitan erat dengan kerusakan di laut. Penggunaan listrik yang kita gunakan dari energi batubara menyebabkan emisi karbon di atmosfer. Emisi karbon bereaksi kimia ke laut yang menyebabkan laut menjadi asam. Kenaikan suhu dan juga keasaman air laut menyebabkan pemutihan terumbu karang.

Pemutihan terumbu karang menyebabkan turunnya spesies ikan yang dikonsumsi masyarakat padahal 54 persen protein berasal dari pangan dari laut (UNDP, 2016), terutama ikan (terumbu karang merupakan habitat dan sumber makanan bagi ikan-ikan). Penurunan populasi ikan menyebabkan kelaparan dan kemiskinan.

2. Polusi Laut

Sebesar 80 persen polusi di laut berasal dari aktivitas di darat (aktivitas terestrial) yang menunjukan bahwa aktivitas manusia mengancam keberlangsungan laut kita. Bentuk polusi mulai dari limbah rumah tangga, industri, maupun limbah padat seperti sampah yang tidak bisa terurai.

Berdasarkan penelitian Jenna Jambeck, Indonesia menghasilkan sampah ke laut sebanyak 1,29 juta ton di tahun 2010.  Ada kemungkinan bertambah saat ini.

Selain sampah, banyak diantaranya yaitu polusi yang dibawa dari limbah pupuk dari kegiatan pertanian yang berakibat berkurangnya oksigen di laut yang menyebabkan matinya tanaman laut. Padahal, 70 persen oksigen yang kita hirup berasal dari laut, dihasilkan oleh rumput laut dan terumbu karang diantaranya

3. Kerusakan Laut diakibatkan Kegiatan Penangkapan Ikan yang Merusak

Selain itu, ada juga persoalan mengenai penangkapan ikan secara berlebihan dan juga merusak, terutama di Indonesia. Data dari The United Nations Food and Agriculture Organisation (FAO), 31,4 persen stok perikanan ditangkap secara berlebihan. Penangkapan dengan menggunakan alat tangkap seperti pukat dapat merusak terumbu karang sebagai habitat spesies laut. Lalu apa hubungannya dengan penyelam? Di bawah akan kita ulas bagaimana kita bisa berkontribusi mengurangi penangkapan ikan yang merusak dan berlebih.

4. Kerusakan yang diakibatkan kegiatan pariwisata

Penyelam dapat memperparah kondisi laut! Ancaman terhadap laut juga disebabkan oleh kegiatan pariwisata di laut, kegiatan yang dilakukan penyelam.

Misal di Amerika Serikat, berdasarkan riset tahun 2014, sampah di laut bertambah 40 persen ketika libur musim panas. Adapun 75 persen sampah diproduksi ketika libur musim panas yang 10-15 persen memproduksi lebih banyak daripada penduduk setempat. Ini menunjukan sebagai penyelam atau wisatawan kita punya peran untuk mencemari laut.

Bukan hanya itu, pengunjung laut seringkali menginjak terumbu karang atau pun menyentuh spesies laut seperti hiu paus yang dapat menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan terumbu karang maupun spesies tersebut, bahkan menyebabkan kematian. Selanjutnya, krim proteksi kulit yang kita pakai juga dapat merusak terumbu karang.

Penyelam memiliki tanggung jawab untuk menjaga kelestarian laut, tempat dia berkegiatan. Foto: Ridzki R Sigit/Mongabay Indonesia

Kontribusi yang Bisa Kita Berikan sebagai Penyelam

Dari uraian mengenai ‘penyakit’ yang dialami laut, sebagai penyelam bebas ada beberapa hal konkrit yang bisa kita lakukan mengurangi beban kerusakan yang ditanggung oleh lautan.

Terdapat kontribusi secara langsung bisa kita lakukan yang biasanya menimbulkan dampak kecil, dan juga kontribusi secara tidak langsung yang bisa menimbulkan dampak besar.

Beberapa langkah secara langsung yang dapat dilakukan oleh penyelam yaitu:

a) Menghindari untuk menggunakan plastik sekali pakai dalam bentuk apapun dengan cara membawa botol minum, sedotan, dan tempat makan sendiri.

b) Take nothing but picture, leave nothing but footprint, kill nothing but time (jangan mengambil apapun selain gambar, jangan tinggalkan apapun kecuali jejak kaki, jangan membunuh apapun kecuali waktu). Cukup lihat dan nikmati keindahan makhluk laut, tidak perlu disentuh, terutama makhluk laut yang dilindungi.

c) Beberapa spot menyelam perlu dicapai dengan menggunakan kapal. Kita bisa bersama-sama dengan pemilik kapal memastikan jangkar diletakan di area yang bebas dari terumbu karang.

d) Menghindari penggunaan krim proteksi yang merusak terumbu karang, biasanya yang mengandung oxybenzone.

Diving di Tulamben, Bali. Penyelam harus menjaga tempat dia menyelam dan tidak merusak habitat dan biota laut yang ada. Dok: Ridzki R Sigit/Mongabay Indonesia

Langkah tidak langsung yang dapat berikan namun berdampak jangka panjang diantaranya:

1) Mendukung program konservasi, terutama yang berbasis masyarakat supaya tidak terjadi konflik dan terbukti di beberapa tempat, lingkungan laut lebih terjaga apabila berbasis masyarakat. Untuk itu, dukungan yang bisa diberikan para penyelam diantaranya yaitu mendukung wisata berbasis masyarakat.

2) Mendukung penangkapan ikan berkelanjutan. Lebih baik membeli produk perikanan yang sumbernya kita ketahui. Jika tinggal dekat pesisir, kita dapat mengecek apakah ikan yang kita beli ditangkap secara berkelanjutan. Biasanya ikan yang ditangkap nelayan tradisional ditangkap dengan cara yang lebih ramah lingkungan karena ditangkap dengan alat pancing tradisional.

3) Memilih produk yang ramah lingkungan yang membawa residu industri ke laut. Jika tersedia produk organik, misal produk pertanian tanpa pupuk dan pestisida, bisa menjadi pilihan utama kita.

4) Menghindari produk yang menimbulkan dampak pemanasan global secara luas misal produk turunan dari tanaman sawit. Jika tidak ada pilihan, pilihlah produk yang berlisensi lingkungan hidup.

5) Hemat energi dan banyak tindakan lainnya yang dapat berkontribusi terhadap laut kita.

Yuk para penyelam, sama-sama menjadi bagian dari wakil laut kita. (Sumber: mongabay.co.id)

Komentar

Berita Lainnya