Berita Daerah

Buntut Protes Proyek Siring Desa, Ketua BPD dan Rekanya Mengalami Luka Bacok

195
×

Buntut Protes Proyek Siring Desa, Ketua BPD dan Rekanya Mengalami Luka Bacok

Sebarkan artikel ini
IMG-20200428-WA0070
pemkab muba pemkab muba

MUSIRAWAS | Buntut aksi protes pembangunan siring desa Tri Anggun Kecamatan Muara Lakitan nyaris merenggut nyawa,  Alkino (26) Ketua BPD Tri Anggun berserta rekanya Nok (45) seorang petani warga setempat. Keduanya kini, tengah dirawat insentif di Rumah Sakit Siti Aisyah Lubuklinggau lantaran mengalami luka bacok ditubuh dan kepalanya. 

Namun, usai semua kejadian satu dari dari dua pelaku Ardi (40) warga setempat yang merupakan pengawas keamanan proyek siring desa, diamankan tim landak Polres Mura meskipun pelaku sendiri juga tengah dalam kondisi lengan tangannya nyaris putus akibat dibacok korban yang ketika itu melakukan perlawanan.

Berdasarkan informasi dihimpun, kejadian tragis yang menggemparkan warga desa Tri Anggun Kecamatan Muara Lakitan, tejadi Senin (27/4) siang pukul 14. 30WIB. 

Kejadian aksi pengeroyokan dengan kekerasan tersebut dipicu adanya aksi Alkino selaku ketua BPD melakukan protes atas pengerjaan proyek pembangunan siring desa dengan cara merusak papan proyek dan menghentikan aktivitas pembangunan. 

Akan tetapi, dari kejadian aksi protes tersebut sejatinya sudah berupaya diselesaikan dengan mediasi melibatkan pihak kepolisian Kapolpos Bumi Makmur, AIPTU EDI GUMAY dan hasilnya sang ketua BPD mengakui kesalahannya serta akan mengganti papan cor yang dirusak.

Hanya saja, berselang satu hari kejadian. Kediaman ketua BPD didatangi tiga orang laki-laki yang datang merusak dinding rumah korban yang saat itu temannya Nok sedang berada di kediamannya.

Lantas, karena korban merasa tidak terima mencoba marah. Akan tetapi, justru ketiga pelaku menyerang korban dan rekanya sehingga aksi saling bacok tak terhindarkan. Korban berupaya melawan sabetan parang, berhasil membacok salah satu pelaku Ardi.

Sedangkan kedua pelaku lainya, dengan menggunakan parang menghujani tubuh korban dan rekanya Nok yang mencoba melerai pun oleh salah satu pelaku dibacok hingga mengenai tubuh dan kepalanya.

Setelah semua bersimbah darah, kedua pelaku Pendi (38) dan Aidin (36) meninggalkan lokasi dan hingga kini masih dalam pengejaran petugas. 

Kapolres Mura AKBP Suhendro melalui Kasatreskrim AKP Rivo Lapu membenarkan adanya kejadian aksi tindak pidana pengeroyokan dengan kekerasan yang terjadi di Desa Tri Anggun Muara Lakitan. 

Dan untuk sementara pemicu terjadinya aksi tersebut, dilatarbelakangi aksi tindak protes korban. 

Pelaku merupakan pekerja keamanan proyek desa mendatangi korban lalu terjadilah aksi saling serang, menggunakan senjata tajam jenis parang.

“Adapun dari kejadian itu,  tiga orang mulai dari korban dan rekanya. Kemudian satu orang pelaku mengalami luka bacok. Sedangkan dua pelaku lainya, melarikan diri dan anggota kita terus lalukan pengejaran,”terang Rivo Lapu

“Dari lokasi kejadian, kita mengamankan sejumlah barang bukti (Bb) mulai dari sepucuk senpira, sebilah parang, batang kayu, satu buah jam tangan sepasang sandal jepit dan sobekan kulit kepala beserta rambut,”bebernya. (NURDIN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kebudayaan di Sumatera Selatan adalah hasil akulturasi budaya dari berbagai suku bangsa di Nusantara dan Asia. Berbagai suku atau komunitas mengaku memiliki leluhur yang berasal dari Cina, India, Timur Tengah, juga dari Minangkabau, Sunda, Cirebon, Johor, hingga Jawa, yang hadir bersama budayanya. Berbagai budaya tersebut kemudian membaur dengan budaya melayu yang lebih dulu tumbuh dan berkembang di Sumatera Selatan, yang kemudian melahirkan kebudayaan yang khas. Salah satu contohnya kebudayaan yang berkembang di Palembang. Kebudayaan Palembang memiliki banyak pengaruh, mulai dari Melayu, Cina, Timur Tengah, India, Minangkabau hingga Jawa. Hal ini dapat dibaca dari arsitektur bangunan, kuliner, pakaian, kepercayaan, sistem pemerintahan, seni, hingga bahasa. Pengaruh budaya Jawa dalam kebudayaan Palembang, selain bahasa (yang berpengaruh pada ragam bahasa dalam keraton, yaitu Bebaso), juga penyebutan gelar kebangsawanan, serta kesenian. Wayang Palembang adalah seni pertunjukan yang dipengaruhi wayang kulit purwa yang dibawa masyarakat Jawa ke Palembang. Dikutip dari jurnal “Eksistensi Kesenian Wayang Kulit Palembang Tahun 2000 – 2019” yang ditulis Nurhidayanti, Nuril Shalifah, Syarifuddin, Supriyanto (2022), Wayang Palembang berasal dari wayang kulit purwa yang dibawa masyarakat Jawa ke Palembang. Ada dua versi masa dibawanya. Pertama, abad ke-17. Ini berdasarkan fisik wayang (artefak). Kedua, wayang dibawa Aryo Dila bersama rombongan pada abad ke-15. Aryo Dila adalah bangsawan Jawa. Di awal abad ke-20, di Palembang dikenal banyak dalang Wayang Palembang. Antara lain Dalang Lot, Dalang Jan, Dalang Abas, Dalang Abdul Rahim, Dalang Syairin, Dalang Agus, dan Dalang Ali. Pada tahun 1950-an, muncul seorang dalang Wayang Palembang yang cukup dikenal. Namanya Kiagus Muhammad Abdul Rasyid atau Dalang Rasyid. Dia merupakan murid dari Raden Muhammad Hanan atau Dalang Hanan, seorang dalang yang dikenal pada masa sebelum Kemerdekaan Indonesia. Dalang Hanan adalah murid dari Dalang Syairin. Tahun kejayaan Wayang Palembang bertahan hingga tahun 1970-an. Tahun 1980-an hingga 1990-an merupakan masa meredupnya Wayang Palembang. Saat itu masyarakat Palembang lebih memilih seni hiburan baru, seperti orkes melayu dan organ tunggal. Tahun 2004, Wayang Palembang diakui sebagai salah satu karya agung budaya oleh UNESCO. Pada 2013, UNESCO menetapkan seni wayang di Indonesia sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Pada saat ini pengetahuan masyarakat Palembang mengenai Wayang Palembang beransur hilang. Dan, kaderisasi dalang Wayang Palembang berjalan lamban atau cenderung berhenti. Beranjak dari gambaran tersebut, Rumah Sri Ksetra, sebuah komunitas budaya di Palembang bersama Sanggar Sri Wayang Kulit Palembang, berencana menggelar pertunjukan Wayang Palembang bersama generasi muda di ruang pameran Taman Budaya Sriwijaya, Jakabaring, Palembang, Minggu, 26 Juli 2026. “Harapan kami, kegiatan ini mendorong generasi muda untuk menjadikan Wayang Palembang sebagai salah satu seni yang dapat menjadi simbol identitasnya, dalam menjelaskan harapan dan nilai-nilai dalam kehidupannya,” kata Nopri Ismi, Ketua Rumah Sri Ksetra. Kegiatan yang didukung Danaindonesiaraya tahun 2025, selain menampilkan pertunjukan Wayang Palembang, juga pembuatan film dokumenter maestro Dalang Rasyid, lomba lukis Wayang Palembang tingkat pelajar, dan lomba poster Wayang Palembang.***
Berita Daerah

Kebudayaan di Sumatera Selatan adalah hasil akulturasi budaya…