Berita Daerah

Merajut Wayang Palembang Bersama Generasi Muda

2
×

Merajut Wayang Palembang Bersama Generasi Muda

Sebarkan artikel ini
pemkab muba pemkab muba

PALEMBANG – Kebudayaan di Sumatera Selatan adalah hasil akulturasi budaya dari berbagai suku bangsa di Nusantara dan Asia. Berbagai suku atau komunitas mengaku memiliki leluhur yang berasal dari Cina, India, Timur Tengah, juga dari Minangkabau, Sunda, Cirebon, Johor, hingga Jawa, yang hadir bersama budayanya. Berbagai budaya tersebut kemudian membaur dengan budaya melayu yang lebih dulu tumbuh dan berkembang di Sumatera Selatan, yang kemudian melahirkan kebudayaan yang khas.

Salah satu contohnya kebudayaan yang berkembang di Palembang. Kebudayaan Palembang memiliki banyak pengaruh, mulai dari Melayu, Cina, Timur Tengah, India, Minangkabau hingga Jawa. Hal ini dapat dibaca dari arsitektur bangunan, kuliner, pakaian, kepercayaan, sistem pemerintahan, seni, hingga bahasa.

Pengaruh budaya Jawa dalam kebudayaan Palembang, selain bahasa (yang berpengaruh pada ragam bahasa dalam keraton, yaitu Bebaso),  juga penyebutan gelar kebangsawanan, serta kesenian.

Wayang Palembang adalah seni pertunjukan yang dipengaruhi wayang kulit purwa yang dibawa masyarakat Jawa ke Palembang.

Dikutip dari jurnal “Eksistensi Kesenian Wayang Kulit Palembang Tahun 2000 – 2019” yang ditulis Nurhidayanti, Nuril Shalifah, Syarifuddin, Supriyanto (2022), Wayang Palembang berasal dari wayang kulit purwa yang dibawa masyarakat Jawa ke Palembang. Ada dua versi masa dibawanya. Pertama, abad ke-17. Ini berdasarkan fisik wayang (artefak). Kedua, wayang dibawa Aryo Dila bersama rombongan pada abad ke-15. Aryo Dila adalah bangsawan Jawa.

Di awal abad ke-20, di Palembang dikenal banyak dalang Wayang Palembang. Antara lain Dalang Lot, Dalang Jan, Dalang Abas, Dalang Abdul Rahim, Dalang Syairin, Dalang Agus, dan Dalang Ali.

Pada tahun 1950-an, muncul seorang dalang Wayang Palembang yang cukup dikenal. Namanya Kiagus Muhammad Abdul Rasyid atau Dalang Rasyid. Dia merupakan murid dari Raden Muhammad Hanan atau Dalang Hanan, seorang dalang yang dikenal pada masa sebelum Kemerdekaan Indonesia. Dalang Hanan adalah murid dari Dalang Syairin.

Tahun kejayaan Wayang Palembang bertahan hingga tahun 1970-an. Tahun 1980-an hingga 1990-an merupakan masa meredupnya Wayang Palembang. Saat itu masyarakat Palembang lebih memilih seni hiburan baru, seperti orkes melayu dan organ tunggal. Tahun 2004, Wayang Palembang diakui sebagai salah satu karya agung budaya oleh UNESCO. Pada 2013, UNESCO menetapkan seni wayang di Indonesia sebagai Warisan Budaya Tak Benda.

Pada saat ini pengetahuan masyarakat Palembang mengenai Wayang Palembang beransur hilang. Dan, kaderisasi dalang Wayang Palembang berjalan lamban atau cenderung berhenti.

Beranjak dari gambaran tersebut, Rumah Sri Ksetra, sebuah komunitas budaya di Palembang bersama Sanggar Sri Wayang Kulit Palembang, berencana menggelar pertunjukan Wayang Palembang bersama generasi muda di ruang pameran Taman Budaya Sriwijaya, Jakabaring, Palembang, Minggu, 26 Juli 2026.

“Harapan kami, kegiatan ini mendorong generasi muda untuk menjadikan Wayang Palembang sebagai salah satu seni yang dapat menjadi simbol identitasnya, dalam menjelaskan harapan dan nilai-nilai dalam kehidupannya,” kata Nopri Ismi, Ketua Rumah Sri Ksetra.

Kegiatan yang didukung Danaindonesiaraya tahun 2025, selain menampilkan pertunjukan Wayang Palembang, juga pembuatan film dokumenter maestro Dalang Rasyid, lomba lukis Wayang Palembang tingkat pelajar, dan lomba poster Wayang Palembang.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *