oleh

Sukses Tekan Laju Kemiskinan, Bangka Belitung Raih Peringkat ke-4

PANGKALPINANG – Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Pemprov Babel) kembali menorehkan prestasi dalam menekan angka kemiskinan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) membuktikan bahwa persentase penduduk miskin di Babel periode Maret 2021 menempati urutan ke 4 terendah se-Indonesia, setelah Bali, DKI Jakarta dan Kalimantan Selatan.

“Data series_ persentase penduduk miskin di Babel periode Maret 2015 hingga Maret 2021 menunjukan bahwa, pada Maret 2021 persentase penduduk miskin di Babel berada diangka 4,9 persen. Artinya hanya 4,9 persen penduduk Babel yang pengeluaran perkapitanya dibawah garis kemiskinan, yakni 752.203 (untuk memenuhi kebutuhan kalori per hari 2100 kkal dibutuhkan sebesar 752.203), ” ujar Koordinator Fungsi Statistik Sosial BPS Babel, Harjo Teguh Ilmiana saat dihubungi via telepon selularnya.

Dengan angka 752.203, menjadikan Babel meraih peringkat teratas terkait garis kemiskinan tingkat provinsi, meninggalkan jauh rata-rata nasional yang hanya 472.525. Sebagai informasi bahwa semakin tinggi nilai indeks, semakin jauh rata-rata pengeluaran penduduk dari garis kemiskinan.

Berdasarkan _release_ resmi BPS Babel tanggal 15 Juli 2021, disebutkan bahwa jumlah dan persentase penduduk miskin pada periode 2008 hingga Maret 2021 berfluktuasi dari tahun ke tahun, tetapi menunjukkan tren yang menurun. Pada periode 2008 hingga Maret 2021 jumlah penduduk miskin di Babel menurun sebanyak 13,99 ribu orang, yaitu dari 86,70 ribu orang pada tahun 2008 menjadi 72,71 ribu orang pada Maret 2021.

“Semakin kecil jumlah penduduk miskinnya berarti relatif kesejahteraan masyarakatnya semakin baik, ” jelas Harjo Teguh Ilmiana.

Tak hanya itu, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk yang diukur berdasarkan _gini ratio_ periode Maret 2021 menempatkan Babel pada posisi terendah se Indonesia dengan capaian 0,256 persen, sementara rata-rata nasional 0,384 persen. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk di Babel juga mengalami penurunan.

Adapun indikator tingkat kemiskinan selama periode September 2020-Maret 2021  dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti :
1. Perekonomian yang cenderung semakin membaik dibandingkan dengan kondisi saat awal Pandemi Covid-19 berdampak pada perubahan perilaku serta aktivitas ekonomi penduduk yang mendorong terjadinya penurunan angka kemiskinan;
2. Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Babel, rata-rata pengeluaran penduduk desil pertama (kelompok 10 persen ke bawah) di daerah perkotaan mengalami peningkatan pada periode September 2020-Maret 2021 yaitu sebesar Rp 708.552.
3. Distribusi pengeluaran pada 40 persen penduduk terbawah dan 20 persen penduduk teratas baik di daerah perkotaan maupun perdesaan mengalami kenaikan. Kenaikan distribusi pengeluaran untuk kelompok 40 persen penduduk terbawah di daerah perdesaan sebesar 1,40 persen;
4. Kondisi perekonomian Babel pada triwulan I 2021 tumbuh jika dibandingkan kondisi triwulan III-2020. Pertumbuhan ekonomi triwulan I-2021 terhadap triwulan III-2020 tumbuh sebesar 0,85 persen;
5. Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Babel, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari 2021 sebesar 5,04 persen, naik 1,69 poin persen dibanding TPT pada Februari 2020 sebesar 3,35 persen. Penduduk usia kerja yang terdampak Covid-19 sebanyak 70.473 orang atau 6,33 persen.

Menanggapi hal tersebut, Plt. Kepala Biro Ekonomi dan Pembangunan Setda Pemprov. Babel, Ahmad Yani mengatakan bahwa garis kemiskinan yang berada diangka 752.203, menandakan bahwa masyarakat Babel yang berpenghasilan dibawah angka tersebut setiap bulannya dikategorikan miskin. Sehingga garis kemiskinan diangka 752.203, menurutnya termasuk angka yang besar dibandingkan provinsi lainnya di Tanah Air.

“Selain itu, indeks gini ratio kita juga kecil, yang membuktikan bahwa kesenjangan penghasilan antar masyarakat tak berbeda jauh. Artinya distribusi penghasilan masyarakat Babel bisa dikatakan hampir sama dan merata,” ungkapnya.

Capaian tersebut menurutnya tak terlepas dari upaya dan komitmen Gubernur Erzaldi dalam dalam meningkatkan ekonomi Babel, terlebih untuk bisa keluar dari keterpurukan akibat pandemi Covid-19 yang berimbas banyaknya pemutusan kerja oleh perusahaan.

“Berbagai program dilakoni untuk kembali menggeliatkan perekonomian Babel, mulai dari relaksasi sektor pertambangan timah, peningkatan harga komoditas unggulan seperti timah, lada putih, sawit dan karet,” ujarnya.

“Terlebih lagi Bangka Belitung menjadi pilihan investor untuk pengembangan berbagai komoditi, seperti udang vaname,” tambahnya.

Pada sektor pariwisata juga menurut Yani, kini mulai menggeliat. Gebrakan-gebrakan Gubernur di sektor ini terus dilakukan, seperti pengadaan event pariwisata serta menambah rute penerbangan menuju Babel.

“Kebijakan terutama di sektor pariwisata membuat membuat sektor usaha mulai memiliki daya ungkit yang besar kepada sektor-sektor ekonomi yang lainnya,” pungkasnya. (Pranata)

Komentar

Berita Lainnya