oleh

Perlu Peningkatan Kapasitas Warga untuk Hadapi Perubahan Iklim

PALEMBANG – Dalam kepemimpinannya, Gubernur Sumsel, H Herman Deru juga sangat memprioritaskan upaya pengendalian lingkungan hidup. Hal ini salah satunya dengan memperkuat kapasitas warga Sumsel dalam rangka meningkatkan ketahanan menghadapi perubahan iklim.

Dalam Webinar Pertumbuhan Hijau Sumsel Tahun 2020 dengan tema Proklim Sinergi untuk Kesejahteraan di Command Center Pemprov Sumsel, Senin (24/08/20) siang, Deru mengajak semua pihak untuk hadir bersama alam dan lingkungan.

Menurutnya, penting untuk menghargai keselarasan antara manusia dengan alam demi kelangsungan hidup penghuni bumi dan keindahan alam dengan memperlakukan alam secara proporsional dalam perspektif perlindungan lingkungan. “Seperti aktivitas menjaga kebersihan di sekitar pemukiman, gerakan penanaman pohon hingga upaya melawan kejahatan lingkungan,” ujarnya.

Tema ini juga,  kata Deru sejalan dengan Visi dan Misi Provinsi Sumsel dalam RPJMD tahun 2019-2023 yakni Sumsel Maju untuk Semua dan Misi 4 dan Sasaran ke-12 yaitu Maju Kualitas Lingkungan Hidup.

Lebih jauh dikatakannya, Program Kampung Iklim (Proklim) merupakan salah  satu program strategis KLHK untuk meningkatkan pemahaman mengenai perubahan iklim dan dampaknya. Serta mendorong dilaksanakannya aksi nyata adaptasi dan mitigasi perubahan iklim ditingkat tapak secara berkelanjutan yang dapat meningkatkan kesejahteraan ditingkat lokal sesuai dengan kondisi wilayah.

Diharapkan, dengan ini masyarakat sebagai pelaksana kegiatan di lokasi kampung iklim perlu diperkuat kapasitasnya sehingga dapat melaksanakan kegiatan, baik yang berkontribusi terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca dan peningkatan ketahanan dalam menghadapi perubahan iklim baik ketahana  pangan maupun ketahanan  energi yang merupakan penerapan dari aksi adaptasi perubahan iklim.

“Sampai tahun 2020 di Indonesia telah terdaftar 2.775 lokasi ProKlim setingkat Desa/ Kelurahan dan Dusun/RW yang tersebar di 33 Provinsi (333 Kab/Kota). Dan untuk di Sumsel sampai tahun 2020 telah terdaftar 168 lokasi ProKlim yang tersebar di 15 Kab/Kota,” jelasnya.

Saat ini diakuinya, penguatan sinergi dan koordinasi program pengendalian perubahan iklim perlu terus dibangun baik secara vertikal antara pemerintah pusat dan daerah. Maupun secara horizontal dengan melibatkan seluruh sektor/pihak terkait di wilayah setempat seperti dunia usaha melalui CSR yang diakui KLHK.

“Sudah menjadi tugas kita memanfaatka kekayaan alam karunia Tuhan Yang Maha Esa dengan sebaik-baiknya. Dengan berbagai upaya seperti menjaga siklus air, mengendalikan pencemaran udara, pemanfaatan panas bumi serta menikmati keindshan alam untuk objek wisata yang jumlahnya melimpah di alam namun dapat habis bahkan hilang jika kondisi alam rusak atau terganggu,” jelasnya.

Untuk itu Pemprov, menurutnya, memandang penting mengembangkan sinergi pengendalian lingkungan hidup Sumsel dan pengarusutamaan komitmen Indonesia untuk pembangunan masa depan rendah karbon.

“Intinya bahwa manusia dan alam adalah satu. Kita tak bisa dipisahkan dari alam. Oleh karena itu terhadap alam kita harus jujur mempersepsikan dan memperlakukannya. Juga harus menjaga dari berbagai ancaman serta harus mengelolanya dengan prinsip Perlindungan,” jelasnya. (Ade)

Komentar

Berita Lainnya