Palembang

Lahan Basah Sungai Musi dalam Narasi Taufik Wijaya

7
×

Lahan Basah Sungai Musi dalam Narasi Taufik Wijaya

Sebarkan artikel ini
pemkab muba pemkab muba

BERITAMUSI – Taufik Wijaya meluncurkn buku baru. Ini kali bukunya berjudul “Lahan Basah Sungai Musi dalam Catatan, Ingatan dan Rasa”. Peluncuran ini ditandai dengan diskusi buku di Rajo Café, Palembang, Minggu (12/7/2026) malam.

Buku setebal 139 halaman ini berisi 11 artikel panjang yang pernah dipublikasi di Mongabay Indonesia dan Pulitzer Center, serta 8 puisi yang ditulis 20 tahun terakhir.

“Buku ini merupakan pembacaan saya terhadap lahan basah Sungai Musi yang luasnya sekitar tiga juta hektar. Pembacaan ini bukan hanya berdasarkan catatan sejarah dan penelitian, juga dari ingatan masyarakat lahan basah, serta rasa saya terhadap lahan basah Sungai Musi,” kata Taufik Wijaya yang akrab dipanggil “Tewe”, Jumat (10/7/2026) malam.

Dijelaskan Tewe, 11 artikel  di dalam buku tersebut dikerjakan dalam rentan waktu lima tahun terakhir. Lokusnya mulai dari Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Ogan Ilir, Kaabupaten Musi Banyuasin, dan Kabupaten Ogan Ilir.

Narasumbernya mulai dari arkeolog, peneliti ikan, pegiat lingkungan hidup, akademisi, seniman, budayawan, tokoh adat, pelaksana pemerintahan, hingga masyarakat yang hidup di lahan basah Sungai Musi.

“Awalnya saya mencoba melacak kerusakan lahan basah Sungai Musi. Tapi kemudian saya belajar untuk memahami lahan basah Sungai Musi, yang memiliki sejarah penting dalam kebudayaan Nusantara. Sebab lahan basah ini melahirkan Kedatuan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang, serta beragam suku,” katanya.

Penerbitan dan diskusi ini mendapat dukungan Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Selatan melalui program fasilitasi pemajuan kebudayaan tahun 2026.

Tewe selain dikenal sebagai jurnalis, juga sastrawan, pekerja teater dan budaya. Beberapa buku yang sudah ditulisnya antara lain sejumlah novel seperti Juaro, Buntung, Cagak dan Cekap. Kumpulan puisi seperti Krisis di Kamar Mandi, Dari Pesan Nyonya, 1001 Tukang Becak Mengejarku dan Aku Dimarahi Istri. Buku non fiksi yang ditulis bersama antara lain Dapur Media (Yayasan Pantau), Lampung dan Masa depan Sumatera: Konservasi di Mata Jurnalis (Mongabay Indonesia),  dan Kisah Gajah Sumatera (Mongabay Indonesia).

Sementara naskah teater antara lain Ikan Asin 50 Tahun di Dalam Kaos Kaki, Keluarga Mi Instan, Puyang, Awang 3445, Dapur Ibu dan Anak-Anaknya, dan Puyang: Minyak Goreng dan Tisu Toilet.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *