oleh

Kemerdekaan Membangun Optimisme

Oleh : Prasetyo Nugraha

Hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-75 tahun, jauh berasa berbeda dengan perayaan di tahun-tahun sebelumnya. Di mana saat ini, Indonesia tengah berjuang melawan pandemi covid-19 yang juga melanda seluruh dunia. Wajah dunia yang drastis berubah karena wabah corona seperti telah memotong urat nadi kehidupan dan memutus semua sendi-sendi di dalamnya.

Presiden Joko Widodo pada sidang tahunan, tersirat ekspresi nelangsa dalam pidato kenegaraannya pada 14 Agustus 2020. Bagaimana tidak, gebyar kemerdekaan yang biasanya santer menghunjam sanubari setiap insan di nusantara dengan rentetan program dan aneka perlombaan hingga jelang hari-H kemerdekaan, dibuat terbatas dan disederhanakan sedemikian rupa bedasarkan protokol kesehatan. 

Pada peringatan 17 Agustus 1945 tahun ini, suasana kebatinan bangsa sedang mendua, yakni pada satu sisi takut karena agregasi virus yang menyerang seluruh dunia, tanpa kecuali Indonesia. Dan sisi lainnya adalah optimisme harus tetap dibangun karena hidup terus berlangsung.

Fenomena global yang kerap disebut pandemi dimaksud meski disikapi optimistik. Dalam sejarah kemerdekaan sekalipun, selalu terselip kisah semangat perjuangan. Karena kemerdekaan adalah sesuatu yang universal dan hakiki, maka perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan harus dihargai dengan perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan, termasuk perjuangan  supaya merdeka dari virus corona.

Hakikat kemerdekaan Indonesia sebagaimana terpatri dalam amanah Undang-undang dasar adalah jalan emas menuju keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia. Setelah merdeka selama 75 tahun dan tanpa mengurangi fakta penting mengenai perubahan ditiap fase – selain kesehatan, pendidikan, politik dan hukum – kemiskinan masih menjadi kontradiksi pokok, permasalahan utama di Indonesia. 

Sebagaimana kuartal pertama, di saat virus corona baru mulai mengendap masuk ke Indonesia, Badan Pusat Statistik melansir data peningkatan kemiskinan pada maret 2020, yakni sebesar 7,38 persen atau 11,16 juta penduduk miskin di perkotaan dan sebesar 12,82 persen atau 15,26 juta penduduk miskin di perdesaan.

Pada hari kemerdekaan di tahun ini, pandemi covid-19 telah melewati kuartal kedua dan berhasil menerjang ekonomi sampai minus 5,32 persen yang berakibat memukul pingsan dunia usaha. Selain itu, gelombang virus juga  mengahanyutkan ribuan pekerja kedalam gelombang PHK sehingga menajadi salah satu indikator penambahan potensi peningkatan penduduk miskin Indonesia. 

Sulit dibanyangkan, mengingat bulan agustus telah memasuki kuartal ketiga dan kurva pandemi berindikasi terus merangsek naik ke atas, sedangkan virus belum ada penangkal obatnya dan bahkan pemerintah masih berjanji pada awal tahun depan vaksin covid-19 baru akan diproduksi massal. Artinya dampak pandemi akan terus bekelindan, apalagi data gugus tugas covid-19 pertanggal 16 agustus 2020 menunjukkan korban terpapar nyaris mendekati seratus empat puluh ribu orang.

Diagnosa perjalanan bangsa

Rentang perjalanan sejarah Indonesia selama kurun 75 tahun merupakan waktu yang cukup untuk bangsa ini belajar dan berupaya melakukan percepatan perbaikan. 75 tahun adalah waktu maksimal untuk pembenahan lembaga-lembaga; birokrasi, politik, perbankan, perpajakan, dan hukum.

Dalam pidato kenegaraan Presiden Joko Widodo dihadapan para majelis yang terhormat dimaksud di atas, telah menegaskan penerapan cara kerja smart short cut, memotong pola kerja pemerintahan yang prosedural, panjang dan berbelit. Presiden menjelaskan kepada kita bahwa kondisi dunia dan Indonesia dalam keadaan tidak baik, sehingga chanel cara kerja harus digeser menajadi extraordinary, dari cara biasa menjadi luar biasa.

Dalam konteks tersebut, optimisme yang dibangun diharapkan dapat menjadi lentara, harapan baru rakyat. Semangat yang didengungkan juga dapat menjadi sebuah kunci untuk membuka pintu jalan keadilan dan kesejahteraan rakyat yang selama tahun 2020 ini dibajak oleh virus corona.

Pertanyaan kebatinan dalam sanubari terdalam anak bangsa adalah apakah benar hanya karena sebuah virus flu merontakkan ekuiblirium nasional, menghacurkan segala tatanan yang susah payah dibangun selama tujuh puluh lima tahun. Kacaunya, jalan emas menuju keadilan dan kemakmuran sebagai tujuan kemerdekaan ditelikung dan diarahkan oligarki kepada kesenjangan dan kemiskinan. Hal ini ditandai dengan maraknya penegak hukum tersandung masalah hukum, serta politisi dan birokrasi terjebak kasus korupsi.

Jadi, kontradiksi pokok yang menjadi permasalahan negeri ini selama tujuh puluh lima tahun ialah virus di dalam pemerintahannya sendiri yang mengerogoti bangsanya sendiri.

Momentum hari kemerdekaan

Permasalahan negeri yang akar tunjangnya tertancap dalam pemerintahannya sendiri sangat sulit dicarikan nostrum, penangkal dan obat penawarnya. Jika virus corona penanganannya melalui medis, maka virus di pemerintahan harus melalui political will, kemauan politik. Tanpa revolusi atau kekuatan dari leadership (kepemimpinan nasional), virus tidak akan mati meski dibasmi.

Simbol merah putih yang dibanggakan merupakan alat perjuangan untuk membebaskan negeri dari belenggu penindasan dan penjajahan, simbol merah putih juga merupakan perekat kebangsaan dalam menitih common flatform yang menjadi syarat bersatunya nusantara, di mana bangsa sabang sampai ke bangsa maraoke berbahu, bergandeng dan bersama kepalkan tangan untuk merebut kemerdekaan untuk keadilan dan kesejahteraan secara merata di seantero Nusantara.

Indonesia  membutuhkan peran serta seluruh komponen bangsanya yang penuh aksi bukan sekedar basa basi, berambisi namun tetap berpribadi, merdeka dalam berdinamika, namun tetap memperhatikan etika. Dan untuk selamat dari wabah, semua komponen tersebut harus gotong royong, saling bantu dan saling mengingatkan.

Di usia 75 tahun ini Indonesia sudah tidak belia lagi. Pengalaman panjang sejarah kemerdekaan menjadi modal bangsa melewati masa-masa sulit. Indonesia dapat menunjukan kepada dunia bahwa yang dibutuhkan di masa pandemi bukan sekadar transparansi tentang keberadaan virus, tetapi adalah tanggungjawab untuk menjaga kelestarian bumi dan mengedepankan kemanusiaan. 

Ibarat sebuah kapal besar, kita sedang tidak berlayar di mana nahkodanya sibuk mencari sekoci dan terhanyut dengan hayalan pulau impian yang ditawarkan pihak asing kepadanya, sehingga tanpa disadari kapalpun bocor dan diseret arus virus corona, tanpa berdosa nahkoda meninggalkan kapal dan para penumpangnya dibiarkan karam bersama sejarah.

Dalam momentum hari kemerdekaan ini, mari insafi dan renungi tugas suci yang sedang memanggil setiap komponen bangsa untuk berfikir keras dan bekerja cerdas agar secepatnya menemukan formula yang tepat sebagai alternatif dalam sistem ekonomi, pendidikan dan kesehatan, serta politik dan hukum di Indonensia.

Kini, kita dihadapkan dengan dua pilihan, berbenah atau musnah. Kembali dengan pidato Presiden Jokowi beberapa hari lalu, yakni “jadikan momentum musibah pandemi sebagai kebangkitan baru untuk lompatan besar”. Jadi jika tidak berbenah dari sekarang dengan tetap mempertahankan sistem ekonomi dan politik yang telah ada, berorientasi prosedural. Maka kehancuran negeri ini akan sulit dielakkan.

Komentar

Berita Lainnya