oleh

Empat Paslon Adu Argumen Soal Jalan, Karet dan Kemiskinan

Fhoto : google images

PALEMBANG I Meski di awal pelaksanaan Debat Publik Pilgub Sumsel 2018 di Ballroom Hotel Novotel Palembang, Rabu (14/3) malam, berlangsung datar, namun di sesi tanya jawab antarpaslon, suasana debat baru mulai menghangat.

Keempat paslon yang semula saling menahan diri, terlibat saling sindir dan adu argumentasi yang cukup dalam. Emosi tim pendukung pun meningkat, sehingga beberapa kali diminta moderator untuk tenang.

Persoalan pengentasan kemiskinan, infrastruktur jalan dan perkebunan menjadi bahan pembahasan yang paling sering dibahas oleh masing-masing paslon. Seperti saat paslon nomor 1 Herman Deru-Mawardi Yahya diberi kesempatan bertanya ke paslon nomor 2 Saifudin Aswari Rivai-Irwansyah. Deru bertanya mengenai strategi paslon nomor 2 mengentaskan kemiskinan di Sumsel yang mencapai 13,10% dari jumlah penduduk Sumsel.

“Kemiskinan ada dimana-mana termasuk di Sumsel. Kita tidak bisa menutup mata kemiskinan masih terjadi. Untuk mengatasinya kami mengadopsi program Oke Oce, Oke Oce Kito namonyo. Oke Oce ini akan mendidik masyarakat di kecamatan menjadi entrepreneurship. Ini yang akan kita bangun  harus dilakukan di Sumsel. Jangan kita tinggalkan generasi muda, kita didik mereka dan Insya Allah itu berhasil,” jawab Aswari.

Selanjutnya, paslon nomor 3 Ishak Mekki-Yudha Pratomo berkesempatan bertanya ke paslon nomor 4 Dodi Reza Alex-Giri Ramanda Kiemas. Ishak Mekki menanyakan, apakah penyelesaian infrastruktur jalan tidak bisa dimajukan 1,5 tahun atau lebih cepat mengingat paslon nomor 3 bisa menyelesaikannya dalam kurun waktu 1 tahun?

“Kenapa (perbaikan infrastruktur) tidak bisa 1 tahun atau 1,5 tahun. Karena kita pasangan calon dilantik November 2018 yang pada saat itu KUA PPAS sudah selesai. Kita tidak bisa melakukan perubahan dan baru bisa merubahnya di bulan Agustus 2019. Untuk itu kami tidak bisa menjanjikan satu tahun selesai, karena memang kita tidak bisa merubah KUA PPAS yang sudah ada. Maka kami paslon 4 yakin menyelesaikan (perbaikan infrastruktur) dalam 2 tahun,” ujar Giri Ramanda Kiemas.

Saat mendapat kesempatan bertanya ke paslon nomor 4, Herman Deru menanyakan langkah konkret paslon nomor 4 mewujudkan 2 Tahun Bisa! mengingat Dodi Reza Alex belum genap setahun memimpin Muba.

“Mungkin memang saya baru di Muba, tapi program yang kami lakukan sudah berjalan dan mendapat pengakuan nasional dan internasional.  Program percepatan infrastruktur di Muba diakui Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Keuangan. Membangun jalan 200 kilometer Trans Musi Banyuasin menghubungkan jalan negara sampai ke jalan Simpang Belimbing bukan main-main. Mendapatkan Rp450 miliar dan mendapat persetujuan kementerian terkait bukan coba-coba. Tahun ini dalam proses pengerjaan. Insya Allah saat kami terpilih jalan tersebut sudah selesai,” kata Dodi.

Selanjutnya paslon nomor 3 bertanya ke paslon nomor 2. Yudha Pratomo menanyakan bagaimana paslon nomor 2 meningkatkan harga karet di tingkat petani yang sangat rendah belakangan ini. Bahkan tidak sedikit petani karet di Kabupaten Lahat beralih menanam komoditas lain seperti kopi.

“Di Sumsel semestinya lumbung karet nasional. Banyak sekali kejanggalan yang membuat harga karet 4 tahun terakhir begitu merosot. Akibatnya petani karet tidak percaya lagi dengan hasil karet sebenarnya sehingga pindah ke perkebunan lain seperti kopi. Penyebabnya karena kita sangat tergantung dengan harga impor. Oleh karenanya paslon nomor 2 seperti halnya paslon nomor 1 akan mewujudkan pembangunan pabrik ban di Sumsel sehingga produksi karet petani Sumsel terserap dan harga karet petani bisa terangkat,” tutur Aswari.

Tiba paslon nomor 1 bertanya ke paslon nomor 3, dimanfaatkan Mawardi Yahya menanyakan persoalan jalan yang banyak belum selesai dalam lima tahun Ishak Mekki menjadi Wakil Gubernur.

“Masalah jalan tidak hanya di Kabupaten OKI, di Sumsel pun saya tahu  dimana saja, jumlah ruasnya rusak berat, sedang, ringan. Saya tahu, tapi persoalannya itu kebijakan gubernur. Dan Insya Allah karena itu bagian profesi saya, karena lama di PU, saya sudah kalkulasikan (perbaikan jalan) bisa dalam 1 tahun selesai,” tegas Ishak Mekki.

Giliran paslon nomor 4 bertanya ke paslon nomor 1, para pendukung di ruangan riuh. Dodi mengajukan pertanyaan seputar pembangunan pabrik ban sebagai salah satu program meningkatkan harga karet petani.

“Bagaimana pasokan bahan baku kalau kualitas karet petani Sumsel tidak bagus? Jangan sampai pabrik ban justru menggunakan bahan baku impor,” kata Dodi.

“Petani karet Sumsel sudah menanam 1.200.000 hektare, jadi bahan baku tidak ada persoalan. Pemikiran kami bangun pabrik ban ini untuk mendekatkan industri karet dengan bahan bakunya. Pabrik itu kan bisa bikin ban kendaraan, belt conveyor dan lain-lain. Kita lihat kebutuhan tambang-tambang batu bara dan industri lainnya butuh berbagai produk itu,” paparnya. (Fornews)

Komentar

Berita Lainnya