oleh

Usaha Tambang Pasir Tradisional Diujung Tanduk

Ilustrasi
Ilustrasi

Dewan OI Segera Kumpulkan Penambang Tradisional

INDERALAYA I Kalangan anggota DPRD Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan dalam satu pekan ke depan ini berencana akan memanggil pelaku usaha tambang pasir tradisional yang berada di wilayah Kabupaten Ogan Ilir guna membahas kelangsungan usaha tambang pasir yang berada diujung tanduk. Lemahnya aturan yang ada membuat penambang pasir besar lebih menguasai usaha tambang pasir tersebut.

“Dalam waktu dekat ini, kami akan kumpulkan penambang pasir tradisional dengan total lebih dari 50 pelaku. Sedangkan jumlah pekerja hingga ribuan orang. Mereka ini resah karena kalah bersaing dengan usaha tambang menggunakan ponton bertonase besar,”kata anggota DPRD Ogan Ilir dari Fraksi Golkar, Irwan Noviatra, kemarin.

Selama ini, kata dia, pelaku usaha tambang pasir tradisional hanya menggantungkan pendapatannya dari usaha tambang pasir. Namun sejak keberadaan ponton besar menggeruk pasir disepanjang Sungai Ogan perlahan membuat usaha pasir tradisional tersingkirkan.

“Dalam rapat nanti, semua aspirasi penambang akan kami akomodir. Selanjutnya aspirasi yang disampaikan akan ditindaklanjuti ke provinsi guna mencari solusi mengatasi masalah ini,”tuturnya.

Menurut dia, ditahun ini izin penambangan pasir sudah diambil alih oleh pemerintah provinsi. Untuk itu, diperlukan revisi atas perda galian C di Ogan Ilir.

Dia pun berharap dalam proses perizinan pula pemerintah provinsi dapat melibatkan pihak kabupaten menginggat objek tambang berada di kabupaten.

“Makanya kami tidak menginginkan ponton besar mengekksploitasi pasir yang ada di sepanjang Sungai Ogan. Karena menganggu usaha tambang tradisional. Memang perda galian C perlu direvisi guna kemaslahatan penambang pasir tradisional,”katanya.

Sementara itu, anggota DPRD OI Fraksi PDIP Pathul Jaya meminta kepada pihak eksekutif agar penambangan galian C di Kecamatan Tanjung Raja dapat diinventarisir menginggat selama ini banyak penambang besar yang justru mengambil keuntungan sendiri sehingga mematikan penambang pasir kecil.

“Untuk sekarang ini di aliran Sungai Ogan khususnya di Kecamatan Tanjung Raja sering sekali ponton pembawa pasir melintas. Bahkan sampai ada yang menabrak tiang jembatan. Ironis sekali ponton berkapasitas besar bisa mengambil pasir di Tanjung Raja. Sedangkan penambang kecil izinnya sudah dicabut. Mana keberpihakan pemerintah. Masalah ini harus diselesaikan. Jangan hanya mengguntungkan pengusaha besar saja,”ucapnya. (ST)

Komentar

Berita Lainnya