oleh

Masyarakat Ogan Ilir Pertanyakan Implementasi Empat Pilar Kebangsaan

Zaskia Gotik yang melecehkan gambar dari sila kelima Pancasila di sebuah acara salah satu televisi swasta (Detikcom/Noel)
Zaskia Gotik yang melecehkan gambar dari sila kelima Pancasila di sebuah acara salah satu stasiun televisi swasta (Detikcom/Noel)

INDERALAYA I Sejumlah masyarakat di Kecamatan Muara Kuang, Kabupaten Ogan Ilir (OI) mempertanyakan tentang penerapan empat pilar kebangsaan sehingga bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sangat penting guna menjaga persatuan dan kesatuan bangsa ke depan.

Yadi, warga Muara Kuang menegaskan bahwa salah satu dari empat pilar kebangsaan ialah Bhineka Tunggal Ika. Bhineka Tunggal Ika merupakan modal dasar dalam kehidupan bermasyarakat dalam mencegah perpecahan. Hanya saja dalam realitanya kadangkala masih saja terjadi perpecahan.

Untuk itu, pihaknya meminta agar para tokoh masyarakat, pemimpin dari provinsi hingga desa dapat memberikan contoh bagi warga yang dipimpinnya.

“Kami tidak ingin Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika hanya sebagai simbol negara saja. Namun arti yang terkandung didalamnya dapat diresapi dengan seksama agar dapat bermanfaat bagi tiap warga,” ujar Yadi.

Setali tiga uang, Firman, pemuda Muara Kuang menambahkan dirinya berharap generasi muda saat ini dapat secara utuh menjaga dan melestarikan nilai-nilai luhur yang terkandung didalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

“Jangan sampai dasar negara kita Pancasila dapat dilecehkan atau dibuat lelucon oleh orang yang tidak bertanggung jawab seperti kasus Zaskia Gotik yang melecehkan gambar dari sila kelima Pancasila,” terangnya.

Menyikapi hal itu, anggota DPR RI H Yulian Gunhar menjelaskan bahwa pesan yang tersirat di dalam empat pilar kebangsaan merupakan modal dasar dari sendi-sendi dalam mendirikan dan membangun bangsa dan negara ini.

Oleh karena itu, wajib bagi segenap bangsa Indonesia untuk taat dan patuh terhadap undang-undang yang menjadi kewajiban sebagai warga negara.

“Empat pilar kebangsaan tidak cukup hanya dipahami, namun dapat pula diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sikap hidup berdasarkan Bhinneka Tunggal Ika seharusnya antara satu dengan orang lain dapat saling menerima keanekaragaman kultur budaya sehingga apapun bentuk perbedaan dalam masyarakat dapat diterima satu sama lain dengan hidup aman dan damai dan saling hormat menghormati tiap perbedaan,” katanya.

Dia melanjutkan bahwa peran serta masyarakat dalam hal menjaga dan memahami serta menjalankan nilai-nilai yang terkandung didalam Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI merupakan suatu upaya untuk menjaga dan melestarikannya.

“Pemimpin sudah selayaknya menjadi contoh yang baik bagi masyarakat yang dipimpinnya. Bagaimana mungkin masyarakat dapat mematuhi peraturan yang sudah ditetapkan pemerintah, sementara pemimpinnya sendiri tidak patuh dan tertib terhadap peraturan itu sendiri,”jelasnya.(ST)

Komentar

Berita Lainnya