oleh

Personel dan Peralatan Siaga Antisipasi Bencana di Sumsel

PALEMBANG – Guna mengantisipasi terjadinya bencana alam dimusim penghujan dibutuhkan kesiapan yang matang. Karena itu Pemerintah Provinsi Sumsel bersama 17 Kabupaten/kota melakukan apel kesiapsiagaan bencana hidrometeorologi yang dipusatkan di Pelataran Venue Shooting Range Jakabaring Sport City (JSC) Palembang, Selasa (16/11/2021).

Dalam apel tersebut bertindak sebagai pimpinan apel, Gubernur H Herman Deru berkesempatan memeriksa pasukan satgas bencana Kabupaten/kota yang tergabung dalam kesiapsiagaan personil dan peralatan bencana di Provinsi Sumatera Selatan.

Dalam amanatnya Gubernur Herman Deru menyebut, kondisi geografis Sumsel dengan dataran tinggi (Pegunungan) dibagian barat yang meliputi Kota Pagar Alam, Kabupaten Lahat, Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten OKU Selatan rawan terjadi bencana alam seperti tanah longsor, banjir bandang dan angin puting beliung. Sedangakan Sumsel dibagian timur didominasi dataran rendah dan perairan yang meliputi Kabupaten Musi Banyuasin, Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Ogan Komering Illir, Kabupaten Ogan Ilir dan Kota Palembang.

“Dengan kondisi tersebut berpotensi terjadinya banjir akibat luapan sungai dan genangan saat hujan akan terjadi. Selain itu kawasan tersebut juga rawan diterpa angin puting beliung,” jelasnya.

Herman Deru menyebut serangkaian bencana alam tersebut sudah menjadi hal yang biasa, namun dampak yang ditimbulkan perlu penanganan yang serius. Sebab kadang kala bencana alam sampai merobohkan rumah tempat tinggal dan sarana-prasarana umum. Bahkan ada yang sampai merenggut korban jiwa.

“Untuk itu seluruh masyarakat yang bermukim diwilayah yang berpotensi terjadinya bencana dampak dari musim penghujan patut untuk lebih waspada,” harapnya.

Herman Deru memprediksi di akhir tahun 2021 hingga awal tahun 2022 wilayah Sumsel masuk dalam musim penghujan, dimana curah hujan yang tinggi akan berpengaruh terhadap terjadinya bencana hidrometeorologi.

“Akibat pengaruh pasang surut, beberapa waktu lalu telah terjadi bencana banjir bandang di Kabupaten Empat Lawang dan Ogan Komering Ulu yang mengakibatkan beberapa unit rumah roboh dan jembatan gantung putus serta merusak badan jalan,” jelasnya.

Lebih jauh Herman Deru merinci sepanjang 2021 tercatat 138 kali kejadian bencana yang terjadi di Sumsel. Dari jumlah tersebut yang terbanyak kebakaran rumah penduduk yakni 92 kejadian. Selanjutnya banjir 15 kejadian, tanah longsor 6 kali, angin puting beliung 20 kali kejadian, sedangkan banjir bandang 5 kali kejadian yang kesemuanya menyebabkan 4.874 KK atau 2.673 jiwa terdampak.

“Saya sambut baik digelarnya apel pagi ini. Saya intruksikan seluruh personil penanggulangan bencana untuk selalu siap siaga termasuk sigap dalam melakukan evakuasi,” pungkasnya.

Dilain pihak Kepala Pelaksana BPBD Sumsel, H Iriansyah dalam laporannya menyebutkan jika berkaca pada perakiraan cuaca perlu waspada disaat memasuki musim penghujan di akhir tahun 2021 untuk wilayah Sumsel.

“Adanya potensi terjadinya bencana banjir dan tanah longsor pada beberapa wilayah di Sumsel, karena itu perlu pencegahan dan kesiapsiagaan, berupa penyiapan personil dan mobilisasi personil dan peralatan ke lokasi bencana,” jelasnya.

Dia menyebut setidaknya ada 850 personil yang akan disiapsiagakan dalam antisipasi dampak bencana. Kesemuanya dilengkapi sarana prasarana dari masing-masing dinas/instansi dan stakeholder terkait.

“Mobilisasi personil dan peralatan ke lokasi bencana untuk membantu penyaluran bantuan berupa pertolongan untuk penyelamatan dan evakuasi sebagai bentuk minimalisir kerusakan sarana prasarana maupun jatuhnya korban jiwa,” imbuhnya.

Untuk diketahui, bencana hidrometeorologi merupakan bencana yang diakibatkan parameter meteorologi seperti curah hujan, kelembapan, temperatur, dan angin. Sedangkan bencana yang ditimbulkan dari hidrometeorologi meliputi bencana banjir, angin puting beliung, longsor, abrasi, hingga gelombang pasang. (Ade)

Komentar

Berita Lainnya