oleh

Pansus Kearsipan DPRD Babel Serap Sejarah Pejuang Batin Tikal

BANGKA SELATAN – Tim Pansus Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Penyelenggaraan Kearsipan DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terus berupaya menggali dan memperkaya data berkaitan dengan arsip kesejarahan yang belum tertulis dalam buku sejarah Provinsi Babel.

Untuk itu, Tim Pansus melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Desa Gudang, Kecamatan Bangka Selatan yang dipimpin langsung oleh Ketua Pansus Ringgit Kecubung bersama para anggotanya yakni, Zarkani, Toni Purnama, Johansen Tumanggor, Rustamsyah, Matzan, Susi, Yusderahman, Adet Mastur dan Harianto.

Kedatangan Tim Pansus disambut hangat aparat Pemerintah Desa Gudang, dalam momen itu diwakil oleh Ketua BPD Desa Gadung, Muslimin dan Wakil Ketua Lembaga Adat Melayu Bangka Selatan, Kalul Sari, di Kantor Pemdes Gadung, Selasa (24/08/2021).

Pada kesempatan itu, Ringgit Kecubung mengatakan, kunjungan kerja yang sedang dilaksanakan saat ini dalam rangka menggali informasi dan masukan untuk memperkuatkan Perda Kearsipan yang saat ini sedang digodok oleh anggota legislatif Bangka Belitung.

“Termasuk diantaranya menggali informasi mengenai sejarah pejuang Batin Tikal di Bangka Belitung, diharapkan kedepannya akan dimuatkan ke dalam arsip statis ataupun arsip kesejarahan,” kata Ringgit.
Menanggapi maksud dan tujuan kedatangan Tim Pansus tersebut, Wakil Ketua Lembaga Adat Melayu Bangka Selatan, Kalul Sari mengutarakan pandangannya terkait dengan sejarah Batin Tikal berdasarkan versi masyarakat yang selama ini diserapnya melalui cerita rakyat terdahulu.

Secara singkat, dijelaskan dia, nama semula Batin Tikal merupakan Batin Gudang, yang kemudian diubah menjadi Batin Tikal, nama Batin Tikal sendiri merupakan gelar dari Pemerintah Belanda di residen Bangka.

Selain itu, dia pun menceritakan asal muasal nama gudang, yang ditafsirkan ke dalam tiga versi yaitu dikenal sebagai gudang mesiu atau tempat penyimpanan persenjataan, gudang ilmu dan gudang padi. Penafsiran itu masih dipercayai warga seiring terus mencari informasi yang konkret.

“Gudang mesiu itu gudang penyimpanan senjata, kalau gudang ilmu dulu desa gudang ini dikenal sebagai berilmu, sempat diceritakan kalau orang berniat jahat masuk ke desa ini dengan sendirinya orang itu tidak bisa masuk karena sudah diketahui”, terangnya.

“Tak hanya itu, nama gudang juga dikenal¬† gudang padi sebagai tempat penyimpanan padi hasil panen,” sambungnya.

Dia menceritakan, Batin Tikal merupakan sosok pejuang yang paling menonjol saat itu dalam gerilya mengusir penjajah Belanda. Menurutnya, sosok Batin Tikal layak dijadikan tokoh pahlawan dari Bangka Belitung. Hanya saja saat ini diperlukan bukti otentik terkait dengan itu, termasuk arsip kesejarahan Batin Tikal.

“Di tahun 2016, kami pernah meminta bantuan sejarahwan Babel Ahmadi Sofyan, Profesor Hatamar Rasyid, dan bahkan mendatangkan profesor dari UIN Jakarta pada saat Sekda Babel dijabarkan oleh Yan PansusMegawandi. Pernah dibukukan tantang sejarah Batin Tikal, hanya saja belum ada ISBN karena keterbatasan dana, namun sempat dicetak,” ungkapnya.

Sebagai bentuk penghargaan untuk mengenang jasa dan pengorbanan Batin Tikal, diutarakan dia, setiap tahun warga Desa Gudang menyelenggarakan Festival Batin Tikal, hanya saja dalam kurun dua tahun terakhir tidak diselenggarakan imbas dari pandemi.

“Nama Batin Tikal itu pun dikukuhkan nama sebagai jalan raya,” tandasnya. (EDI/REL)

Komentar

Berita Lainnya