oleh

“Nusantara: Amnesia”, Narasi Rasa Sakit

PALEMBANG | Sekelompok orang hidup dalam mimpi buruk dan kehilangan, sejak Sang Liyan masuk ke kampung, ke rumah, dan ke ruang tamu mereka. Sang Liyan yang tak cuma mengambil rempah-rempah, juga segenap masa lalu, cara berpikir, dan tradisi mereka. Lalu Sang Liyan mulai memberi sekaligus menata masa depan dan cita-cita, hingga mereka menjadi asing dengan rumah dan kampungnya sendiri. 

Begitu kisah “Nusantara: Amnesia” yang akan ditampilkan KoBER [Komunitas Berkat Yakin] dari Lampung dalam Festival Teater Sumatera [FTS] 2021 di Taman Budaya Sriwijaya, Palembang, 11-13 November 2021.

Dijelaskan Ari Pahala Hutabarat, ”Nusantara: Amnesia” adalah sebuah karya teater kontemporer yang terinspirasi dari sejumlah narasi sejarah rempah, serta penjajaran [jukstaposisi]-nya dengan situasi transisi dan problem identitas yang dikonstruksi oleh modernitas di Lampung dan Indonesia. Sebentuk pelacakan antropologis atas problem identitas atau modernitas dalam masyarakat Lampung-Indonesia kontemporer. 

Narasi-narasi yang coba ditafsir ulang pada “Nusantara: Amnesia” sepenggal periode sejarah pada kisaran abad XIV-XV, ketika beberapa daerah di Nusantara pada saat itu mengalami pergeseran-transisi-transformasi sosial dan kebudayaan yang besar dan signifikan akibat perniagaan yang dilakukan bangsa Arab, China, Inggris, Portugal, dan Perusahaan Dagang Belanda (VOC). 

Pergeseran itu, sebagai bagian dari abad-abad kolonialisasi di seluruh kepulauan Nusantara. Teks sejarah menjadi basis dramaturgi, menjadi basis pelacakan antropologis yang selanjutnya dieksplorasi dan dicarikan bentuk artistiknya oleh performer [proses embodied], musik, cahaya, tata artistik, dan pola pengadeganan. 

Teks-teks sejarah, memori kolektif, dan narasi lain [asosiatif, intertekstualitas] disusun, diinterogasi, dan teks-teks lain yang berkelindan selama proses penciptaan, selanjutnya dieksekusi ke struktur dramatik yang fragmentatif.

Pertunjukan ini sebentuk re-interpretasi atas ratusan tahun tragedi kultural yang menimpa Nusantara. Wajah-wajah kehilangan, kejatuhan, situasi chaotic akibat eksodus-migrasi nilai-nilai di Nusantara, sejak perniagaan bergeser menjadi penjajahan, sejak laku ekonomi disusupi hasrat monopoli, invasi, dan berujung kolonialisasi. Lalu satu per satu kesultanan di Nusantara takluk, pusat perdagangan dikuasai Eropa, dan pribumi menjadi budak di tanahnya sendiri.

Komunitas Berkat Yakin melalui “Nusantara: Amnesia” memilih untuk menegasi atau mengafirmasi-mengamplifikasi gambar-gambar atau ekspresi rasa sakit akibat penaklukan, kehilangan, kecemasan, kesedihan, dan bahkan kebutaan ketika mencoba melacak sesuatu yang disebut tradisi. 

Nilai-nilai leluhur sebelum masa itu sudah nyungsep ke dasar laut, menguap ke langit,  atau tertimbun eksploitasi cengkeh, pala, lada, dan lain sebagainya. Pertunjukan  ini menampilkan nada sumbang setiap menengok masa lalu, sebab yang kini disebut tradisi bisa jadi adalah warisan Sang Liyan.

KoBER didirikan pada 26 Mei 2002 di Bandar Lampung, Lampung. Komunitas ini bukan hanya memproduksi karya teater, juga sastra, dan lainnya. Sejumlah buku diterbitkan  “Menanam Benih Kata”, “Rekaman Terakhir Beckett”, “Akting Menurut Stanislavski”, “Puan Kecubung”, “Penyeret Babi dan Empedu Tanah”, “Dermaga Tak Bernama dan Suluh”, “Sebait Pantun Bujang”, dan lainnya.

Beberapa produksi teater antara lain, “Pilgrim Project I” [2020], “Pinangan” [2019], “Pada Suatu Hari” [2014], “The Song Of Dayang Rindu” [2012], “Wu wei dan Siapa Nama Aslimu” [2009], dan lainnya. (Romi)

Komentar

Berita Lainnya