oleh

Membaca Melayu Riau dari Kisah “The Terubuk”

IKAN terubuk (tenualosa macrura) banyak ditemukan di perairan Asia (India, Malaysia, Thailand, Myanmar dan Asia Tenggara), khususnya di sekitar pesisir dan muara sungai. Di Indonesia, ikan ini banyak ditemukan di wilayah Pesisir Timur Sumatera, termasuk di lanskap lahan basah Riau.

Sejak 1970-an, populasi ikan terubuk di Riau mulai menghilang. Bahkan, spesies T. Mecrura, yang sebelumnya ditemukan di wilayah Bengkalis, terancam punah. 

Menyebut “ikan terubuk” bagi masyarakat Melayu Riau, tidak semata membuka ingatan soal lauk-pauk untuk dimakan, tetapi juga membuka memori kolektif kita ihwal kompleksitas nilai-nilai peradaban maritim di Riau, khususnya di wilayah sekitar Selat Bengkalis, selama berabad-abad, dan di masa Kesultanan Siak.

Dijelaskan Marhalim Zaini, Kepala Suku Seni Riau, ikan terubuk bisa ditelisik mulai dari aspek nilai ekonomi, kesusastraan klasik adiluhung beserta nilai historis-politisnya, tradisi ritual semah terubuk dengan kekuatan mitos dan supranaturalnya, nilai seni tutur bersyair dalam masyarakat lisan, isu konservasi lingkungan air dan hutan, sampai pada jalur perdagangan rempah-rempah yang sangat terkait erat dengan bagaimana ikan terubuk diolah dalam berbagai jenis masakan.

Beranjak dari kajian tersebut, Suku Seni Riau akan mementaskan pertunjukan berjudul The Terubuk; Migrasi Ikan-ikan Menuju Tuhan dalam Festival Teater Sumatera (FTS) 2021 di Taman Budaya Sriwijaya, Jakabaring, Palembang, 11-13 November 2021. Marhalim Zaini selaku penulis naskah dan sutradara.

Persoalan kemaritiman [laut] dengan segala komplesitasnya, merupakan tema yang banyak dipentaskan Suku Seni Riau. Karya-karya sebelumnya, seperti Dilanggar Todak, Hikayat Orang Laut, dan Agama SungaiThe Terubuk; Migrasi Ikan-ikan Menuju Tuhan merupakan produksi ke-15 ini Suku Seni Riau.

Sinopsis The Terubuk; Migrasi Ikan-ikan Menuju Tuhan

Di selat ini, hanya tinggal satu keluarga. Habitatnya telah punah-ranah. Sebagian habis jadi abu, sebagian migrasi ke dunia asal. Tersebab dihalau oleh kerakusan dan rasa lapar yang tak sudah, hasrat kuasa akan tanah, dan limbah pabrik yang merusak rumah-rumah air. Padahal sejak berabad lampau, ini rawa, ini sungai, ini laut tumpah darah. Berabad lampau eropa dan portugis telah singgah. Beranak pinak biat-bait syair dan pantun searoma rempah sejarah. Berpadu dengan mantera asap kemenyan ritual yang terbang ke langit, menuju entah. Menuju Tuhankah? Tapi kini hanya tinggal satu keluarga. Hanya tinggal satu ibu, yang di rahimnya telur-telur telah berubah menjadi sampah plastik dan serbuk kayu. Hanya tinggal anak-anak pendurhaka yang selalu tergoda pada hutan daratan. Di meja makan, semua akan berakhir menjadi bangkai mitos, menjadi upacara-upacara dalam doa yang tak sampai.

Ikan terubuk dan Melayu Riau

Ikan terubuk hidup berkelompok dan berenang ke muara sungai untuk bertelur. Dalam ilmu biologi, ikan terubuk berjenis protandous hermaphrodite; ikan jantan yang berubah kelamin menjadi betina pada usia dewasa. Semua ikan yang berusia dua tahun berjenis kelamin betina dengan masa hidup 2-3 tahun.

Sejak abad ke-19 masyarakat Bengkalis telah memercayai bahwa ikan terubuk jantan di Selat Melaka akan berubah menjadi betina ketika memasuki Selat Bengkalis untuk bertelur. Migrasi dari Selat Melaka ke Selat Bengkalis dan sebaliknya terjadi sepanjang tahun pada bulan baru dan bulan purnama.

Jelas Marhalim, sejak abad ke-16 ikan terubuk terutama telurnya bernilai ekonomi tinggi. Sejumlah sumber menjelaskan bahwa Mendez Pinto, seorang pengelana Portugis yang mengunjungi Selat Melaka tahun 1539, telah mencatat hal ini. Pada abad ke-18, di masa kerajaan Siak, telur terubuk menjadi komoditas penting penyumbang ekonomi kerajaan. Bahkan di pasar Eropa dikatakan kelezatannya seperti “kaviar Rusia”. “Ikan terubuk nilai jualnya sangat mahal, terutama harga telurnya. Ikan terubuk menjadi buruan termasuk nelayan yang beroperasi di Perairan Bengkalis Riau,” ujar Marhalim. 

Selain itu, ikan terubuk juga telah menginspirasi pujangga Melayu abad ke-19 mengarang sebuah epik berjudul “Syair Ikan Terubuk.” Belasan manuskrip dan litografi teks berhuruf Arab-Melayu yang belum diketahui siapa nama pengarangnya ini telah beredar, dikoleksi di berbagai perpustakaan dunia antara lain Perpustakaan Nasional RI, perpustakaan di Leiden, Singapura, Malaysia, dan Riau.

Berbagai tafsir dan kajian tersiar dari sejumlah pakar sastra Melayu. Ada yang menyebut ini syair teologis (Wilkinson), syair erotik dan didaktik (Winstedt), syair bernilai sejarah (Klinkert), syair romantik-simbolik dan epik Melayu yang berkait dengan semisal Syair Perang Siak. Menurut Marhalim, sebuah kajian intertektulitas pernah menghubungkan “Syair Ikan Terubuk” ini dengan “Sejarah Raja-raja Melayu,” yang menafsirkan bahwa tokoh Pengeran Terubuk dalam Syair Ikan Terubuk sebagai Raja Alam dan Putri Puyu-puyu sebagai Sultan Ismail. Maka, kisah dalam Syair Ikan Terubuk merupakan kisah simbolik bagaimana Raja Alam menyerang Siak dan mengusir Sultan Ismail.

Sementara itu, ikan terubuk juga tak lepas dari asperk kosmologis, yakni melalui tradisi ritual Semah Terubuk. Marhalim menyebut, deskripsi ritual Semah Terubuk ini telah ditulis oleh seorang pegawai pemerintah kolonial Belanda beranama J. S. G. Gramberg di tahun 1877, dengan judul Troboek Bezwering. Kenduri ritual yang bertujuan untuk memanggil ikan-ikan terubuk ini menghabiskan ribuan gulden, melibatkan 500 kapal nelayan, memotong kerbau dan kambing, dengan berbagai perlengkapan kue-mue, buah-buahan, daun-daunan, termasuk rempah-rempah seperti kemenyan, beras kunyit, sirih, gambir, dan sejenisnya.

Namun, bagaimanakah kondisi ikan terubuk hari ini? Kondisi populasi ikan terubuk sekarang mengalami penurunan, hal tersebut dimungkinkan karena Ikan terubuk menjadi buruan nelayan yang beroperasi di Perairan Bengkalis, Siak, dan Kepualuan Meranti, Riau. Ini tidak saja berujung pada penurunan sumberdaya perairan eksistensi ikan terubuk, bahkan perburuan terhadap jenis ikan ini telah menyebabkan ikan terubuk menjadi jenis ikan langka. Selain itu, banyak penelitian menemukan, juga disebabkan oleh penangkapan dengan mengunakan alat yang tidak selektif dan penangkapan di muara saat memijah, serta penangkapan ikan yang berlebih (over fishing) saat ikan beruaya atau mencari makan. Maka tekanan ganda bagi ikan terubuk, yaitu akibat penangkapan secara terus-menerus terhadap terubuk guna diambil gonad matangnya (telur) dan kecenderungan degradasi lingkungan (terutama disebabkan oleh serbuk kayu) pada daerah habitat utama ikan tersebut.

Bentuk upaya dalam menyelamatkan keberadaan ikan terubuk dari kepunahan adalah dengan diterbitkannya KepmenKP nomor KEP. 59/MEN/2011 tanggal 12 Oktober 2011, tentang Penetapan Status Perlindungan terbatas jenis ikan Terubuk (Tenualosa macrura) yang memperkuat PerBup Bengkalis nomor 15 tahun 2010 tanggal 20 Juli 2010, tentang Suaka Perikanan Ikan Terubuk di Kabupaten Bengkalis. Sebagai antisipasi pemekaran wilayah Bengkalis dikeluarkanlah PerGub nomor 78 tahun 2012 tanggal 28 Desember 2012 tentang Suaka perikanan ikan terubuk di Provinsi Riau yang mencakup wilayah Kabupaten Siak, Meranti dan Bengkalis.

Konsep pertunjukan

Berdasarkan gambaran di ataslah pertunjukan ini diolah. Menurut Marhalim, pertunjukan teater ini hendak menawarkan sebuah tafsir kreatif atas fenomena ikan terubuk sebagai salah satu pintu masuk untuk menelisik kompleksitas nilai peradaban laut masyarakat Melayu Riau, khususnya masyarakat Bengkalis, Siak, Kepulauan Meranti, dan sekitarnya. Tafsir tersebut dilandaskan pada setidaknya dua sumber utama sebagai titik mula eksplorasi, yakni “Syair Ikan Terubuk” dan tradisi ritual “Semah Terubuk”, serta mengelaborasinya dalam kelindan persoalan sosial mutakhir yang menyertainya, terutama dalam merespon berbagai kerusakan lingkungan yang terjadi. 

Presentasi simbolik (ikan) kemudian dipilih sebagai sebuah tawaran ekspresi estetik yang memungkinkan terbukanya ruang tafsir lain yang lebih luas atas kompleksitas nilai ikan terubuk. “Keberpihakan dan keprihatinan atas degradasi lingkungan menguat dalam teks-teks puitik dalam pertunjukan diolah dari puisi saya berjudul “Sejarah Rempah dan Kisah Orang Lapar” (dimuat Kompas, 20 Desember 2015). Sehingga antara permainan simbol dan gagasan ideologis diharapkan saling bertukar-tangkap makna, dan memantik lahirnya gagasan kritis yang lain,” jelas Marhalim, yang juga Ketua Umum Asosiasi Seniman Riau (Aseri) ini.

Sajian pertunjukan “The Terubuk; Migrasi Ikan-ikan Menuju Tuhan” boleh jadi hanya sebuah kolase atau montase dari letupan gagasan kritis tersebut. Ikatan tematik tentang “jalur rempah”–yang sesungguhnya serta-merta mengemuka ketika bicara soal jalur perdagangan dan dunia maritim di Riau, pun Sumatera dan Sriwijaya–menjadi penguatan historis sekaligus metaforis. Ia selalu ada, meskipun kadang nampak tiada. Sebab, betapa tak dapat disangkal bahwa laut Riau (pun Kepulauan Riau dan sejarah kerajaan yang menyertainya) sejak berabad lampau memang telah menjadi jalan-raya bagi lalu-lintas perdagangan dunia.  Maka rempah dalam pertunjukan ini bersebati dalam kepulan asap kemenyan, dan rasa gambir, cengkeh, pedas kapur dalam merah sirih yang senantiasa disepah ke laut oleh para tetua saat hendak merapalkan ingatan tentang Tuhan.

Pertunjukan kali ini Suku Seni didukung empat pemain yakni Baharsyah Setiaji, Joni Hendri, Adek Feisal Usman, dan Ratna Iri Rahmayani. “Pertunjukan ini, selain ditampilkan di Palembang, juga akan tayang dalam versi lain pada Wave 21 Festival di Malaysia yang diselenggarakan oleh Pusat Pengajian Asasi Seni Kreatif Aswara Kuala Lumpur,” jelas Marhalim.(Romi)

Komentar

Berita Lainnya