oleh

Masjid Perempuan Pertama Dibuka di Denmark

Masjid perempuan pertama di Skandinavia resmi dibuka di Denmark sebagai upaya menantang struktur patriarkal yang berlaku dalam Islam. ( Ilustrasi masjid Comstock Images CNNIndonesia GettyImages).
Masjid perempuan pertama di Skandinavia resmi dibuka di Denmark sebagai upaya menantang struktur patriarkal yang berlaku dalam Islam. ( Ilustrasi masjid Comstock Images CNNIndonesia GettyImages).

DENMARK I Masjid perempuan pertama di Skandinavia resmi dibuka di Denmark sebagai upaya menantang struktur patriarkal yang berlaku dalam Islam.

Semua aktivitas di Masjid Maryam di Kopenhagen-kecuali salat Jumat- bakal terbuka bagi kaum Adam meski semua imam adalah perempuan. Sherin Khankan, pendiri masjid mengatakan bahwa dia ingin membangun masjid untuk menantang ‘struktur patriarkal yang normal’.

“Kami telah menormalisasi struktur patriarki di dalam lembaga keagamaan. Bukan hanya di Islam namun juga dalam Judais dan Kristen dan agama lainnya. Dan kami ingin menantang hal tersebut,” kata Khankan, seperti dilansir Independent, Ahad (14/2).

Khankan, yang dikenal sebagai komentator kondang di Denmark mengatakan respon dari komunitas Muslim setempat sejauh ini positif dimana hanya “berjumlah sedang” yang menentang. Dia mengklaim ada tradisi dalam Islam bahwa perempuan menjadi imam dan sebagian besar kritik berasal dari ketidaktahuan.

Proyek serupa telah diajukan di Bradford bagi perempuan Muslim Inggris. Tahun lalu, Dewan Perempuan Muslim (MWC) mengumumkan rencana sebuah masjid yang akan dijalankan oleh perempuan yang sudah dikonsultasikan ke hadapan publik pada Agustus.

Langkah yang mengedepankan kesetaraan gender di komunitas Islam Eropa terjadi setelah Partai Buruh Inggris mendapat tudingan bahwa sebagian anggota laki yang beragama Islam mengedepankan pendekatan patriarkal.

Ketua Jaringan Perempuan Muslim Se-Inggris Raya (MWNUK)Shaista Gohr mengatakan Partai BUruh telah membiarkan anggota dewan Muslim lokal menjalankan “sistem patriarkal yang dikenal dengan nama biradari” dimana pria bisa mengintimidasi atau menekan perempuan yang ingin meraih kursi dalam dewan lokal kota.

Salah satu korbannya adalah Fozia Paveen mengatakan bahwa anggota dewan lokal pria telah menjalankan “kampanye pelumas” terhadap dirinya ketika ia berusaha maju menjadi dewan lokal di Birmingham pada 2007-08.(CNN)

Komentar

Berita Lainnya