oleh

Malam Natal yang Sibuk bagi Seorang ‘Kupu-kupu Malam’

Ilustrasi : wikipedia
Ilustrasi : wikipedia

LONDON I Berkah, kasih, dan kedamaian Natal tidak pernah memandang bulu. Itu bisa dirasakan siapa pun, termasuk seorang pekerja seks komersial di London, Inggris. Saat malam Natal tiba, seperti orang-orang lainnya, ia juga menyambutnya dengan penuh suka cita.

Dihiasnya rumah sederhana yang selama ini menjadi tempat tinggal sekaligus “kantor,” dengan pohon Natal dan lampu warna-warni. Rangkaian daun berlonceng pun tersemat cantik di pintunya, seakan mengucap “Selamat Natal” pada siapa pun tamu yang berkunjung malam itu.

Perempuan anonim yang sudah menjadi pekerja seks selama enam tahun karena tuntutan ekonomi itu mengatakan, malam Natal adalah malam paling sibuk dibanding momen liburan lainnya.

Namun, ia tidak melayani “klien.” Semua orang ingin libur, apa pun pekerjaannya, ia beralasan. Ia baru kembali “bekerja” saat malam tahun baru, meski mengaku akan dengan tegas menolak klien yang datang tengah malam.

“Banyak orang datang kepada saya dengan kondisi mabuk setelah berpesta, dan banyak yang saya tolak,” katanya, seperti dikutip dari Independent. Namun, ia melanjutkan, ada pula orang-orang yang memang dikenalnya. Mereka berkunjung, bahkan membawakan hadiah.

Sang kupu-kupu malam itu mengaku, sering mendapat hadiah dari klien yang pernah ia temani bermalam. Para tetangga juga mengiriminya kartu ucapan Natal. Perhatian itu membuatnya bahagia. Ia tak menyangka, status pekerjaan yang sering dikucilkan masyarakat itu tak menghalanginya mendapat sahabat.

“Mungkin terkesan aneh. Tetapi kami memiliki hubungan yang sangat baik. Tetangga saya tidak masalah dengan pekerjaan ini, selama ini kami masih saling berangguk sapa dengan sopan.”

Namun tidak selamanya malam Natal memberikan suasana yang kudus penuh berkat. Ia khawatir adanya razia polisi di malam Natal yang dingin di London. Pernah suatu ketika, polisi merazia kawasan beroperasi sahabat-sahabatnya yang juga pekerja seks. Ironisnya, mereka menarik semua uang yang ada di tangan para pekerja.

Polisi bilang, itu merupakan bukti perdagangan manusia. Padahal, perempuan itu menjamin, tidak satu pun “bekerja” malam itu.

Akibat razia, flat sang sahabat pun ditutup. Tanpa uang, tanpa tempat tinggal, sahabat-sahabatnya harus berkeja lebih keras saat Natal. Berbagai cara dilakukan, mulai menjaja diri di gedung lapuk, hingga di pinggir jalan atau menerima panggilan. Semua demi uang.

Uang itu bukan hanya untuk menghidupi diri. “Banyak dari kami yang sudah memiliki anak, atau ada orang lain yang menjadikan kami tulang punggungnya. Banyak kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi, sama seperti beragam kado dan segala yang ingin diberi saat Natal.”

Bekerja di saat turunnya salju jelas sangat sulit. “Belum termasuk rasa khawatir atas hasil yang akan didapat demi kelangsungan hidup. Dan adanya orang lain yang bisa mengambil semuanya dari hidup kami,” katanya. (CNN)

Komentar

Berita Lainnya