oleh

Lepas Penat Usai Dinas, Bripda Ari Urus Budidaya Lele

TOBOALI – Mencoba peruntungan di dunia usaha budidaya peternakan ikan lele kini dijalankan anggota Polres Bangka Selatan bernama Ari Antoni. Lepas berdinas, lulusan Bintara 2018 berpangkat Bripda ini memanfaatkan waktunya di sore hari untuk memberi pakan lele.

Kata Bripda Ari usaha budidaya lele ini baru dia mulai pada awal bulan Januari tahun 2020 kemarin. Pada saat itu, ide beternak lele muncul dengan sendirinya. Kemudian ia bersama salah seorang anggota Polres Basel lainnya membangun kolam terpal.

Setelah kolam yang dibangun di atas lahan seluas 10X15 m2 yang terletak tak jauh dari belakang kantor Mapolres Basel berdiri kemudian bersama rekannya dia membeli 12.000. Masing-masing dia 7.000 benih dan rekannya 5.000 benih.

Lalu mereka menebar 2.000 benih di dalam salah satu kolam dari 5 kolam yang berdiri berukuran 4X2 m2 tersebut. Namun karena ketidaktahuan mereka bagaimana metode beternak lele yang benar, benih yang ditebar tersebut semuanya mati secara berangsur.

“Ya, itu kendalanya di awal-awal kemarin, setelah kami koordinasi dengan pihak balai benih, ternyata masalah ini karena penggunaan air. Dimana air yang kita gunakan tidak ada oksigennya,” kata Bripda Ari, Senin (9/11) sore saat ditemui di lokasi peternakan.

Pihak balai bilang, air yang digunakan dari sumur harus diendapkan terlebih dahulu di kolam terpal sekitar 2-7 hari sebelum benih ditebar. Dengan demikian, akan muncul kadar oksigen yang baik untuk pertumbuhan bibit hingga masa panen tiba.
“Percobaan kedua sampai saat ini kami sudah bisa dan berhasil. Dari Januari, kami sudah melakukan panen sebanyak tiga kali dengan waktu panen per tuga bulan sekali,” tambah pemuda kelahiran Desa Kemingking, Bangka Tengah, 1997 ini.

Bripda Ari menyebut apabila keuntungan bersih yang didapat setiap panen sekitar Rp 5 juta. Nah, kalau untuk harga jual sendiri adalah Rp20 ribu perkilogram untuk kondisi lele dalam keadaan hidup dan Rp25 ribu dalam kondisi bersih serta siap antar.

“Kalau sudah dibumbui sekitar 30-35 per kilo. Kendala kita sekarang itu ada di pemasaran. Karena masing-masing pelaku usaha pecel lele itu kadang sudah ada tempat langganan. Jadi sejauh ini hanya gunakan medsos untuk pemasarannya,” jelasnya. (Devi)

Komentar

Berita Lainnya