oleh

Forwaka Siap Dampingi Wartawan Lapor Polisi Terkait Pengancaman Pemilik Daging Beku

PANGKALPINANG | Ketua Forwaka Ngadianto Asri dengan tegas akan mendampingi dua wartawan TV di Babel . Pria yang akrab disapa Pak Nga ini mengecam perbuatan yang dilakukan oleh Mca, wanita diduga pemilik daging beku yang saat ini ditahan oleh Balai Karantina Kelas II Pangkalpinang. 

Mca bersama seorang pria bule yang diduga suaminya, dikabarkan telah mengintimidasi Merry Yanti yang adalah wartawan Antara TV dan Haryanto untuk menghapus rekaman liputan dan tidak menanyangkan berita tentang daging beku impor diduga illegal tersebut.

Menyikapi itu, Ngadianto mengatakan bahwa dirinya bersama seluruh reka-rekan sesame pers di Forum Wartawan Kejaksaan siap mendampingi Merry Yanti dan Haryanto untuk melapor ke Polisi.

Dijelaskannya saat dijumpai oleh wartawan di kediamannya di Air Mesu Sabtu (21/12/19) petang, Merry dan Haryanto saat itu meliput berita terkait ditahannya 235 daging beku impor tanpa dilengkapi sertifikat yang ditahan Balai karantina. Saat liputan berita tersebut disaat bersamaan pihak pemilik daging beku tersebut yakni Mca dan pria bule yang diduga suami juga sedang menjalani pemeriksaan oleh pihak karantina. Namun usai liputan kedua reporter TV tersebut didatangi oleh Mca dan Pria bule. Saat itulah keduanya diminta Mca untuk menghapus video dan tidak menanyangkan berita.

“Ini bukan perkara main-main. Ini adalah ancaman bagi kebebasan pers. Jelas indikasinya apa yang dilakukan oleh Mca itu adalah pelanggaran pasal 4, UU Pers No 40 tahun 1999. Di sana disebutkan Kemerdekaan Pers dijamin sebagai hak asasi warga negara. Yang dimaksud dalam pasal ini seperti tertulis pada bagian penjelasan, adalah Pers bebas dari tindakan pencegahan, pelarangan dan atau penekanan agar hak masyarakat untuk memperoleh informasi terjamin,” tegas Ngadianto.

“Sanksinya diatur pada UU Pers No 40 tahun 1999 pasal 18, bahwa siapa saja yang dengan sengaja melakukan tindakan yang mengakibatkan terhambatnya kemerdekaan pers, dipidana penjara paling lama 2 tahun atau denda paling banyak Rp 500 juta. Dan mengingat ini adalah masalah serius bagi eksistensi insan pers, maka kita dari Forwaka siap untuk mendampingi kedua rekan kita tersebut untuk melapor ke Polisi, dan mengawal perkara ini,” timpalnya.

Dalam pengakuan yang dirilisnya melalui pesan Whatsap, Merry Yanti menuturkan kronologis kejadian. Bermula saat Merry Yanti usai meliput berita tentang Balai karantina Kelasa II Pangkalpinang menyita sebanyak 235 Kg Daging beku Impor asal Australia, pada Jumat (20/12) siang. Saat liputan tentang daging impor asal Australia yang diduga tanpa Dokumen tersebut, Merry Yanti tidak sendiri, ia bersama Haryanto yang merupakan reporter MNC TV Babel.

Usai liputan, mengambil video berita, keduanya kemudian didatangai oleh Mca dan seorang pria bule yang diduga adalah suami Mca. Lantas keduanya meminta agar Merry dan Haryanto untuk tidak memberitakan masalah daging beku yang disita oleh Balai Karantina tersebut. Namun permintaan itu ditolak, dan keduanya mengancam akan melaporkan Merry dan Haryanto dengan dalih telah mengambil gambar atau video tanpa izin. Kedua nya pun sempat memotret ID card atau kartu pers kedua. Sebelum kemudian pergi. (dedy)

Komentar

Berita Lainnya