oleh

[ARTIKEL] Ramadan Peduli di Tengah Pandemi

Oleh : Salim Saputra, S.Pd.I., M.Pd.I. 

Kehadiran Ramadan sudah memasuki tahap sepuluh kedua. Kehadirannya memang berbeda dengan sebelumnya, dia hadir di tengah pandemi corona virus atau covid-19 yang melanda seluruh penjuru dunia. Hingga kini, dalam pemberitaan secara dunia lebih dari 3,5 juta kasus yang positif terinfeksi covid-19 dan ada ratusan ribu jiwa yang meregang nyawa.  Pun di Indonesia, korban positif makin bertambah menjadi sebelas ribuan kasus, lebih dari delapan ratus di antaranya meninggal dunia.

Kebijakan pemerintah untuk memutus mata rantai wabah ini dengan menerapkan istilah physical distancing atau social distancing bahkan ke tahap pembatasan sosial berskala besar sangat berdampak kepada masyarakat menengah ke bawah: berkurangnya penghasilan bahkan hilangnya pekerjaan yang menyebabkan kemiskinan selama pandemi ini berlangsung. Ada juga yang memaksakan diri untuk terus bekerja, namun beresiko tinggi tertular penyakit epidemik jika tidak menggunakan alat pelindung diri yang aman.

Manusia diliputi rasa takut dan tak dapat berbuat apa selain berikhtiar menjaga kesehatan serta memohon kepada Yang Mahakuasa untuk segera dikeluarkan dari wabah yang mematikan ini. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” (Q.S. 2: 155-156)

Ramadan sebagai bulan ukhuwah hadir di tengah pandemi. Rasa persaudaraan antar manusia seharusnya lebih dari biasanya tanpa memandang ras, suku, dan agama, semua kita menjadi pelopor untuk saling bantu membantu meringankan beban sesama. Tidak ada lagi cerita orang yang berpunya memborong habis stok makanan di sebuah swalayan, sedangkan orang yang tak berpunya hanya dapat melongo dari rumahnya yang mulai kelaparan.

Lihatlah orang di sekitar kita, masih ada pemulung dan petugas persampahan yang tidak dapat lepas dari pekerjaannya. Penumpukan sampah, termasuk sampah masker di komplek perumahan atau di pembuangan akhir membuat mereka sangat rentan terhadap penyebaran virus corona. Pun bagi pedagang kecil di pasar basah yang selalu berhimpitan dengan masyarakat pasar membuat mereka tidak dapat menghindari keramaian. Maka sesungguhnya istilah physical distancing atau social distancing merupakan kemewahan yang tak dapat mereka rasakan demi mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Yusuf Burhanuddin dalam bukunya “Misteri Bulan Ramadan” mengungkapkan, selain upaya seorang mukmin mendekatkan diri pada pengawasan Allah swt (muraqabatullah), hikmah dan keutamaan puasa Ramadan lainnya adalah menumbuhkan empati sosial di tengah pandemi. Islam mengajarkan kita sebagai umatnya untuk selalu mengasihi dan menyayangi sesama umat manusia. Hal ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa kasih sayang dan empati terhadap sesama di dalam hati kita. Terlebih Ramadan adalah sebaik-baiknya masa dimana orang yang berpunya dapat merasakan penderitaan kaum papa. 

Tetap ulurkan tangan di sela-sela ibadahmu di bulan mulia ini. Memberi makan kaum papa di tengah pandemi ini adalah sebuah kebajikan yang luar biasa. Perhatikan bagaimana keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang menggabungkan antara memberi makan dengan amalan lainnya padahal dia berpuasa yang termaktub dalam sebuah hadis riwayat Muslim melalui Abu Hurairah. 

Rasulullah saw bertanya kepada para sahabat, “siapakah di antara kalian yang pada hari ini berpuasa?” Abu Bakar menjawab, “saya.” Beliau bertanya lagi, “siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengiringi jenazah?” “Saya,” jawab Abu Bakar. Beliau kembali bertanya, “siapakah di antara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin?” Abu Bakar mengatakan, “saya.” Lalu Beliau bertanya lagi, “siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengunjungi orang sakit.” Lagi-lagi Abu Bakar menjawab, “saya.” Maka Rasulullah saw pun bersabda, “tidaklah ciri-ciri itu terkumpul pada diri seseorang melainkan dia pasti akan masuk surga.”

Hadis tersebut benar-benar terasa sangat dekat dengan kondisi kita yang kini berpuasa Ramadan di tengah pandemi. Kita tidak tahu apakah masih akan ada korban berjatuhan lagi setelah ratusan yang sudah meninggal dunia. Maka kita tidak boleh tenggelam hanya khusyuk beribadah di bulan Ramadan ini tanpa memikirkan orang di sekitar kita. Apakah masih ada orang di sekeliling kita yang tidak mempunyai makanan? Apakah ada jiran tetangga kita yang masih terbaring sakit? Atau bahkan masih ada kabar dari tetangga tentang kematian karena penyakit epidemi ini. Lakukan kebaikan semampu kita: menjadi relawan kesehatan, membantu penggalangan dana, memberi makanan, mengunjungi orang sakit, atau bahkan mengantar jenazah, yang sudah barang tentu ini semua harus dilakukan sesuai dengan standar kesehatan yang berlaku.

Kehadiran Ramadan di tengah pandemi ini dapat menyadarkan kita bahwa diri ini bukanlah siapa-siapa. Tiada daya dan upaya kecuali pertolongan Allah. Karena puasa juga mengajarkan pengorbanan luhur, semua yang dimiliki sejatinya bukan milik kita. Maka Dialah yang berhak memberi dan mencabut semua kenikmatan itu kapan saja. Dengan beribadah walau di rumah saja, tetap kita panjatkan doa agar penyakit epidemik ini segera berakhir dan kita dapat melalui Ramadan ini dengan khusyuk. Amin. *Penulis adalah Dosen Universitas Riau Kepulauan Batam

 

Komentar

Berita Lainnya