oleh

[ARTIKEL] Prank Sampah : Lelucon Tak Beradab

Ditulis oleh : Salim Saputra, S.Pd.I., M.Pd.I. 

Beberapa hari ini kita disuguhkan sebuah pemberitaan yang tidak enak, bahkan dianggap tidak manusiawi, seorang YouTuber dengan sifatnya yang selalu mencari sensasi demi meraup like terbanyak sebagai tanda suka dari para pengikutnya, yaitu prank atau candaan memberi bingkisan sembako kepada kaum marjinal: transpuan di Kota Bandung, Jawa Barat. 

Berdalihkan Ramadan, bulan yang mana orang berusaha menjadi pionir dalam kebaikan dikotori oleh tersangka dengan membawa beberapa bingkisan sembako yang berisi sampah dan batu batu ke mobilnya untuk dibagikan kepada kaum marjinal yang rerata keluar pada malam hari. 

Bagi si pelaku, candaan atau prank ini untuk “membasmi” mereka yang termarjinalkan tersebut. Dengan itu, ia berharap akan memberikan efek jera bagi mereka yang “merusak” kesucian bulan puasa. 

Tak dipungkiri lagi perilaku tidak beradab ini menuai kecaman dari khalayak ramai, dia pun menjadi tersangka dan terjerat pasal berlapis tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dengan hukuman selama 12 tahun penjara.

Ramadan memang menjadi ajang umat muslim untuk berburu pahala. Sebagai bulan magfirah yaitu mendapatkan ampunan dari Allah SWT, dalam Ramadan ini pula semua amal kebaikan yang diperbuat mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Rasulullah saw. bersabda: “setiap amal anak Adam dilipatgandakan pahalanya. Tiap satu kebaikan, dilipatkan 10 kali lipat hingga 700 kali lipat.” (HR Bukhari Muslim). 

Di antara amal kebaikan itu adalah bersedekah, “barang siapa memberi makan orang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR. Ahmad).

Namun berbeda dengan kasus yang menyita perhatian netizen ini, kecaman yang dilayangkan khalayak ramai kepada sang YouTuber sungguh sangat beralasan. Adalah sebuah kebiadaban ketika pemberian sedekah itu dilakukan pada Ramadan di tengah pandemic yang diikuti dengan sebuah penghinaan, yaitu pemberian bingkisan yang hanya berisi sampah dan batu batu kepada kaum transpuan. Sekali lagi ini tidak dapat diterima walau pun niat si pelaku hanya untuk lelucon demi meraih jempolan para netizen.

Allah SWT. berfirman: “perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Mahakaya lagi Maha Penyantun.” (QS.2:263). 

Hikmah yang didapat pada ayat ini adalah kita harus mengedepankan perkataan baik ketika bersedekah. Tidak diiringi oleh hina dina, caci maki, serta sumpah serapah atau sikap yang tidak mengenakkan kepada orang yang ingin diberi. Kalau pun kita tidak dapat memberi, maka ucapkanlah permintaan maaf supaya orang tersebut tidak tersakiti hatinya.

Dalam Tafsir Jalalain yang berkaitan dengan QS. 2:263 dijelaskan : (perkataan yang baik) atau ucapan yang manis dan penolakan secara lemah lembut terhadap si peminta (serta pemberian maaf) kepadanya atas desakan atau tingkah lakunya (lebih baik daripada sedekah yang diiringi dengan menyakiti perasaan) dengan mencerca atau mengomelinya (Dan Allah Maha Kaya) hingga tidak menemukan sedekah hamba-hambanya (lagi Maha Penyantun) dengan menangguhkan hukuman terhadap orang yang mencerca dan menyakiti hati si peminta.

Sedekah  yang menyakiti hati si penerima tidaklah dapat dibenarkan. Sebagai insan biasa, hati nurani kita menolak mentah-mentah ketika kita menyaksikan kejadian ini. Allah pun begitu, tidak akan memberikan ganjaran pahala apa pun kepada si pelaku. Tidak ada catatan amal kebaikan ketika sedekah itu diiringi oleh sifat yang dapat menyakitkan perasaan si penerima. Amalan sedekah seperti ini diibaratkan tanah di atas batu licin kemudian disiram hujan lebat hingga hilang tak berbekas.

Allah swt. berfirman: “hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menghilangkan (pahala) sedekah kalian dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS.2:264). Na’uzubillah.*

Komentar

Berita Lainnya