oleh

Warsito, Penemu Alat Terapi Kanker Tinggalkan Indonesia. Benarkah?

Mantan Presiden RI BJ Habibie (kiri) memberikan penghargaan Bacharudin Jusuf Habibie Technology Award (BJHTA) ke-8 kepada ilmuwan Dr Warsito Purwo Taruno (tengah) pada Kamis, 20 Agustus 2015, atas penemuan teknologi Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT). (CNN Indonesia/Hani Nur Fajrina)
Mantan Presiden RI BJ Habibie (kiri) memberikan penghargaan Bacharudin Jusuf Habibie Technology Award (BJHTA) ke-8 kepada ilmuwan Dr Warsito Purwo Taruno (tengah) pada Kamis, 20 Agustus 2015, atas penemuan teknologi Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT). (CNN Indonesia/Hani Nur Fajrina)

JAKARTA I Warsito Purwo Taruno, penemu alat terapi kanker Electro-Capacitive Cancer Therapy (ECCT) disebut-sebut ingin meninggalkan Indonesia.

Dugaan itu muncul pasca Warsito menulis tentang rencana kegiatannya di luar negeri selama beberapa waktu.

“Warsawa adalah kota kelahiran Marie Curie, fisikawan, penemu Polon dan Radon. Satu-satunya wanita yang meraih Nobel dua kali, pionir radio terapi 100 tahun lebih yang lalu. Sekarang, kami memulai pelatihan ECCT internasional pertama untuk pengobatan kanker dari tempat pertama kali Curie Intitute of Oncology, Warsawa didirikan,” tulisnya.

Setelah menggelar pelatihan di Polandia, Warsito juga akan melalukan pelatihan di Amerika Serikat, Kanada, Australia, Sri Lanka, Rusia, Uni Emirat Arab (UEA), Arab Saudi, India, Singapura, dan Malaysia.

Tulisan itu tentu saja mengundang tanya banyak pihak, karena tak sedikit ilmuwan Indonesia yang justru bisa lebih bekarya di luar negari. Namun Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Muhammad Nasir memastikan ini belum terjadi pada Warsito.

“Warsito itu belum ke luar negeri. Sekarang saja saya juga pakai alatnya beliau dalam kaitannya bagaimana untuk pengurusan badan,” kata Nasir setelah menghadiri peresmian Universitas Pertamina di Jakarta, Kamis.

Menurut Nasir, pihaknya juga sudah membicarakan dengan Kementerian Kesehatan terkait izin klinik dan penggunaan alat terapi tersebut.

“Besok (Jumat, 12/2) saya juga akan bicarakan secara detil dengan Kemenkes supaya jangan sampai peneliti-peneliti Indonesia itu hengkang dan mencari tempat yang lebih menguntungkan bagi mereka, saya ingin jaga betul,” ucap Nasir.

Selain itu, Nasir juga ingin menyampaikan kepada Presiden Joko Widodo dalam kaitannya bagaimana melakukan sinkronisasi hasil-hasil penelitian dengan kementerian-kementerian terkait.

Sebelumnya, Plt Kepala Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan Tritarayati mengatakan hasil evaluasi tim review menunjukkan alat terapi kanker ECCT yang dikembangkan Warsito belum bisa disimpulkan keamanan dan manfaatnya.

Tim pengkaji tersebut terdiri dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, dan Komite Penanggulangan Kanker Nasional.

“Penelitian ECCT akan dilanjutkan sesuai dengan kaedah pengembangan alat kesehatan sesuai standar,” kata Tritarayati dalam konferensi pers terkait dengan riset klinik Edwar Technologi milik Warsito di kantor Kemenkes, Jakarta, Rabu (3/2).

Menurut Tritarayati, penelitian tersebut akan dikembangkan melalui “pipeline” pengembangan alat ECCT per-jenis kanker.

“Mulai dari pra-klinik sampai dengan klinik sesuai dengan kaedah cara uji klinik yang baik dengan difasilitasi dan disupervisi oleh Kemenkes dan Kemenristekdikti,” ucap Tritarayati yang juga Staf Ahli Menkes Bidang Medikolegal itu. (CNN)

Komentar

Berita Lainnya