Agri Farming

Teater Potlot Serukan Budaya sebagai “Panglima” Lansekap Berkelanjutan

247
Screenshot_2017-03-25-20-14-59_1
Petani berkebun di lahan yang terus menyempit dan rusak. Salah satu adegan dalam Rawa Gambut Teater Potlot. Foto Devi Setiawan

PALEMBANG I AGENDA pertunjukan “Rawa Gambut” dan diskusi budaya oleh Teater Potlot di sejumlah kota di Sumatera, dimulai dari Palembang, pada 23, 24 dan 25 Maret 2017. Mereka mengusung isu penyelamatan lingkungan hidup dengan pendekatan lansekap berkelanjutan dengan budaya sebagai “panglimanya”.

“Kita mendukung upaya penyelamatan lingkungan hidup di Indonesia yang terus mengalami kehancuran dengan pendekatan lansekap berkelanjutan. Namun kita menginginkan budaya sebagai panglima dalam menjalankan lansekap berkelanjutan tersebut,” kata Conie Sema, penulis dan sutradara “Rawa Gambut” Teater Potlot, seusai diskusi budaya dan lingkungan dengan tema “Lansekap Budaya sebagai Model Integrasi Ekologi dan Ekonomi berdasarkan Spirit Prasasti Talang Tuwo” di Galeri Cipta, Taman Budaya Sriwijaya, Jakabaring, Palembang, Jumat (23/03/2017).

“Tapi untuk mewujudkan hal tersebut berjalan optimal, kita perlu konsolidasi budaya,” ujarnya.

Keinginan Teater Potlot mendapatkan dukungan. “Saya kira pembangunan di Indonesia yang selama ini menggunakan semangat ekonomi dan politik telah gagal, peradaban kita terus terkikis bersamaan dengan kian habisnya kekayaan alam kita,” kata Ridzki R. Sigit, direktur Mongabay Indonesia, saat menyampaikan pemikirannya.

Kebakaran rawa gambut yang bukan hanya menghancurkan kekayaan alam, juga manusia dan peradabannya. Foto Devi Setiawan.

Masyarakat yang seharusnya menjadi subjek pembangunan, posisinya berubah menjadi objek pembangunan. Tidak heran, bentang alam akhirnya banyak dikuasai aktifitas ekonomi dibandingkan untuk kehidupan manusia bersama lingkungannya.

Kerangka budaya berdasarkan spirit Prasasti Talang Tuwo milik Kerajaan Sriwijaya, sangat menarik sebagai pintu masuk revitalisasi kebudayaan di Indonesia. “Tentunya harapan kita dari spirit prasasti tersebut akan melahirkan manusia-manusia yang arif terhadap lingkungan hidup,” katanya.

Ridzki pun mengapresiasi pemerintah Sumatera Selatan yang akan mengembangkan Green Growth dengan spirit Prasasti Talang Tuwo. “Moment penyelenggaraan Asian Games 2018 di Palembang dapat dijadikan sebagai ajang pembuktian konsep tersebut,” katanya.

“Para penggiat budaya seperti kawan-kawan Teater Potlot juga harus didukung sehingga akan melahirkan ‘potlot-potlot’ yang lain di Indonesia,” ujarnya.

Yenrizal Tarmizi dari UIN Raden Fatah Palembang mengatakan, salah satu nilai yang didapat dari Prasasti Talang Tuwo yakni menciptakan manusia yang sadar lingkungan, khususnya yang turut memikirkan masa depan bumi.

“Menurut saya kita perlu melahirkan manusia-manusia Talang Tuwo, sehingga kekayaan alam di Indonesia terus lestari yang akhirnya memberikan kemakmuran bukan hanya terhadap manusia, juga makhluk hidup lainnya,” kata Yenrizal, yang juga aktif di Tim Spirit Sriwijaya untuk Pelestarian Lingkungan Hidup.

Tanpa Kecemasan

David Ardhian dari proyek KELOLA Sendang (Sembilang-Dangku), sebuah proyek lansekap berkelanjutan di wilayah Kabupaten Musi Banyuasin dan Banyuasin, Sumsel, dengan luas wilayah sekitar 1,6 juta hektare, sangat mengapresiasi pertunjukan “Rawa Gambut” yang dipentaskan Teater Potlot pada Hari Bumi berdasarkan Prasasti Talang Tuwo pada Kamis (23/03/2017) malam.

David menangkap tiga pesan dalam pertunjukan tersebut. Pertama, kerusakan rawa gambut di wilayah pesisir timur Sumatera bukan hanya merusak ekologi, juga merusak identitas budaya masyarakat lokal.

“Ibu Bumi” yang terluka saat kebakaran berlangsung di rawa gambut. Foto Devi Setiawan

Kerusakan rawa gambut terkait dengan relasi kekuasaan. Gambut bukan ruang kosong, tapi gambut dipenuhi kepentingan. Tapi masyarakat tidak masuk dalam bagian dalam mengelola gambut.

Ketiga, melalui pertunjukan tersebut Teater Potlot menawarkan narasi baru yakni yakni “membangun gambut tanpa kecemasan atau ketakutan”.

Terkait dengan proyek KELOLA Sendang, kata David, pihaknya memang menginginkan adanya berbagai masukan terkait dengan budaya, sehingga proyek ini tidak mengalami keterpecahan karena ego sektoral. “Alam harusnya dilihat dalam perspektif yang utuh. Pendekatan budaya memang tepat, sebab membuat kita melihat alam sebagai satu kesatuan yang utuh, tidak terpecah.”

“Tapi pertanyaan pentingnya, apa yang ditawarkan dari lansekap berbasis budaya itu? Kita memang membutuhkan banyak masukan dan gagasan dari kawan-kawan pekerja budaya, sehingga lansekap berkelanjutan KELOLA Sendang itu berjalan seperti harapan kita, seperti yang diamanahkan raja Sriwijaya dalam Prasasti Talang Tuwo,” ujarnya.

Pekerja budaya Palembang Syamsul Fajri, menyatakan upaya Teater Potlot tersebut juga harus didukung oleh pendidikan sejarah mengenai Kerajaan Sriwijaya. “Kita harus sadar jika di masyarakat pemahaman sejarah Sriwijaya belumlah baik. Masih banyak yang tidak tahu siapa saja raja Sriwijaya, apalagi amanah-amanahnya. Jadi upaya menjadikan spirit Prasasti Talang Tuwo sebagai upaya perbaikan lingkungan hidup, juga harus dibarengi dengan pendidikan sejarah Kerajaan Sriwijaya, sehingga kesadaran itu benar-benar akan lahir,” katanya.

Pekerja seni Toton Dai Permana, mengharapkan pendidikan lingkungan hidup yang berdasarkan pendekatan budaya ini harus diutamakan pada kelompok pelajar atau generasi muda.

“Saat kita tidur, ada ribuan guru yang tidak kita kenal, mengendepankan spirit ekonomi atau politik terus mengajari anak-anak kita, terutama melalui media informasi, ” kata Toton beranalogi.(ROMI)

Exit mobile version