“Kami membuat kegiatan membaca selama 15 menit setiap hari. Siswa boleh memilih buku yang disukainya di sudut baca kelas. Bila dalam 15 menit buku tersebut belum selesai dibaca, mereka boleh membawanya kerumah,” papar Basri pada acara Kopi Darat Pendidikan yang diselenggarakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdikbud dengan dukungan ACDP (Analytical and Capacity Development Partnership), di Jakarta (12/10/2016).
Pada setiap Sabtu, sekolahnya juga membuat kegiatan khusus membaca selama 1 jam pelajaran. Kegiatannya diisi dengan member kesempatan kepada siswa untuk menulis dan menceritakan hasil bacaannya. Mereka menceritakan secara bergantian di panggung prestasi yang dibangun oleh sekolah. Pada kegiatan tersebut, sekolah memberikan sertifikat kepada siswa yang dapat menceritakan dengan baik buku yang dibacanya. Pada akhir semester, sekolah juga menyiapkan piala untuk siswa yang menjadi pembaca buku terbanyak.“Pada semester lalu, Aisyah siswa kelasV yang memenangkan lomba. Aisyah membaca 130 buku dalam 6 bulan,” kata Basri.
Menyediakan dan memperbarui buku-buku bacaan, menurut Basri adalah bagian terpenting untuk menumbuhkan minat membaca siswa.Dia membuat beberapa cara untuk menyediakan buku-buku bacaan yang menarik untuk siswanya, yaitu membeli buku dengan menggunakan dana BOS, menghubungi alumni untuk menyumbang buku bacaan, memanfaatkan dana alokasi umum (DAK) dari APBD, mendatangkan perpustakaan keliling dua kali dalam sebulan, setiap minggu koleksi buku bacaan di sudut baca kelas saling bertukar, dan membuat kerjasama dengan sekolah terdekat untuk saling tukar buku.
”Dengan buku-buku yang selalu diperbarui, ketertarikan siswa untuk membaca menjadi meningkat,” katanya lagi.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sidrap Nur Kana’ah SH MSi, yang juga menjadi salah seorang narasumber menyebut banyak sekolah di Sidrap telah berhasil mendorong minat membaca siswa.
Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Sidrap sudah melaksanakan gerakan literasi sekolah(GLS) sejak Oktober 2015.Tim GLS juga sudah dibentuk di tingkat kabupaten dan kecamatan.“Sekolah-sekolah di Sidrap telah mendapatkan pelatihan dan pendampingan dari USAID PRIORITAS. Hal ini yang membuat program budaya membaca dapat berjalan baik,” tukasnya.
Program budaya baca ini juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, di antaranya Dandim 1420 yang membantu melalui program motor baca sebanyak 7 unit. Motor baca tersebut membantu menyediakan buku-buku bacaan yang menarik di sekolah-sekolah yang ada di pelosok dan tidak terjangkau mobil perpustakaan keliling.
Keberhasilan program budaya baca di Sidrap, mendapat apresiasi dari DrSupriano, Direktur Pembinaan SMP Kemendikbud. ”Saya member apresiasi pada keberhasilan program membaca di Sidrap. Program 15 menit membaca telah meningkatkan minat membaca siswa di sekolah dasar karena membaca pondasi kuatnya harus ada di sekolah dasar,” katanya di sela-sela acara.
Sementara Hanna Chaterina George, ketua umum asosiasi pekerja informasi sekolah Indonesia (APISI), menyoroti pentingnya pemberdayaan pustakawan sekolah.
Menurutnya, perpustakaan sekolah tidak akan bisa maju kalau pustakawan tidak memiliki keterampilan.”Kita harus kreatif membuat anak menjadi senang membaca. Perpustakaan adalah jantungnya sekolah. Karena itu perpustakaan harus memiliki program yang membuat anak enjoy membaca,” tukasnya. (ril)