oleh

Pria ini Kembangkan Budidaya Lele Dengan Sistem Bioflok

IMG_20160416_152617_1KAYUAGUNG I Teknologi pengembang biakan ikan lele kian beragam, salah satunya yang diterapkan Nur Anwar (52 tahun) warga Desa sumber hidup (SP1) Kecamatan pedamaran timur Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan adalah budidaya menggunakan sistem bioflok.

Sistem bioflok dinilai efektif, dan mampu mendongkrak produktifitas karena dalam kolam yang sempit dapat diproduksi lele yang lebih banyak. Biaya produksi berkurang dan waktu relatif lebih singkat dibandingkan budidaya konvensional.

Pria yang biasa disapa Pak Jambu ini memaparkan, budidaya lele sistem bioflok adalah suatu sistem pemeliharaan dengan menumbuhkan mikroorganisme yang berfungsi mengolah limbah budidaya itu sendiri menjadi gumpalan kecil (floc) yang bermanfaat sebagai makanan alami ikan.

Menurutnya, pertumbuhan mikro organisme dipacu dengan cara memberikan kultur bakteri non pathogen (probiotik), dan pemasangan aerator yang akan menyuplai oksigen sekaligus mengaduk air kolam. Sehingga akan ada efisiensi pakan pabrikan yang selama ini 70% menjadi komponen biaya produksi, dan menghindari tumbuhnya jamur/bakteri penyebab kematian ikan akibat hama penyakit yang tumbuh dari endapan kotoran dan sisa pakan di kolam.

“Yang jelas sistem ini dapat meningkatkan produktivitas panen ikan yang tinggi,” ungkapnya.

Katanya, pengembangbiakan ikan lele sistem bioflok yang dilakukannya ini sudah dijalani sejak tiga tahun lalu. Bahkan dirinya sempat mengalami jatuh bangun dalam prosesnya. ” Saya juga belajar hingga ke bogor dan sukabumi yang merupakan kiblat budidaya ikan dengan mengikuti berbagai pelatihan di sana,”jelasnya.

IMG_20160416_152630_1Awalnya, kata Pak Jambu dirinya melirik potensi agribisnis ini di tengah keberadaan perkebunan sawit dan karet masyarakat yang harganya fluktuatif. “Lele bisa menjadi alternatif ketika harga karet fluktuatif atau sawit beberapa tahun kedepan akan replanting (peremajaan tanam),” jelasnya.

Kata Jambu, adanya pabrik kelapa sawit PT. telaga hikmah (sampoerna agro) juga cukup menguntungkan karena limbah solidnya bagus untuk pakan ikan. “Dukungan lainnya seperti peralatan usaha dari program pemberdayaan masyarakat (CSR) PT Sampoerna sangat membantu,” ungkapnya.

Kini upaya Pak Jambu mulai membuahkan hasil dengan bermodalkan uang Rp 20 juta dutambah CSR PT Sampoerna Agro Rp 30juta. Kini, dirinya mampu mengahasilkan sebanyak 1 ton ikan setiap panennya dari total 6 kolam bioflok, dengan benih sekali tebar satu kolam isinya 5000 benih, atau total 30.000.

“Untuk saat ini hasil panen terserap untuk konsumsi harian masyarakat Pedamaran timur apalagi ada hajatan. Bahkan hasil panen pun tidak mencukupi,” jelasnya.

Helmi abidin GM Plantations area 2 Sampoerna Agro mengatan,
Saat ini dibawah supervisi Nur Anwar atau paj Jambu ada 4 kolam binaan dan diharapkan jumlahnya terus bertambah termasuk animo masyarakat membeli bibit unggul lele mutiaranya.

Menutnya, dedikasi Motor penggerak pembangunan desa seperti Pak Jambu dan support Kades Sumber hidup serta warganya ini patut diapresiasi. ” Kita dari pihak perusahaan akan terus memperkuat terus sinerginya sehingga saling memberi manfaat agar masyarakat dan perusahaan dapat hidup berdampingan,”ungkapnya.

Sistem bioflok ini sebenarnya sudah lebih dulu di kembangkan di negara negara maju seperti Brazil, Australia, Jepang. Di Indonesia khususnya di Kabupaten OKI masih langka orang yang mempopulerkannya. (Romi Maradona)

Komentar

Berita Lainnya