oleh

Petani Karet di Sumsel Alami Penurunan Produksi Hingga 50 Persen

PALEMBANG – Saat ini pasar global kekurangan supplai karet dari negara negara produsen karet.

Kepala Dinas Perkebunan Sumsel melalui H Rudi Arpian SP MSi Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Sumsel menyebutkan industri ban multinasional sudah sangat merasakan adanya shortage supply karet alam di pasar global.

“Hal ini disebabkan sejak bulan Juni 2021 tadi Karet memasuki musim gugur daun atau trek. R ata rata produksi petani karet Sumatera Selatan mengalami penurunan produksi 40-50 persen,” ungkap Rudi.

Akibat kurangnya supply TSR20 dipasaran, sehingga harga menguat. Karena dipasar dunia ada beberapa pemenuhan kontrak yang mengalami delay shipment.

Sementara permintaan karet dari Cina, India, Eropa dan Amerika makin meningkat

Namun ini masih sementara sifatnya, karena covid gelombang 3 sdg membayangi Eropa dan Amerika. Kalau masalah covid teratasi peluang kenaikan lebih tinggi akan lebih besar.

“Untuk petani Sumatera Selatan saat ini dapat digunakan untuk bergabung di UPPB terdekat atau segera membentuk UPPB baru jika sdh ada luasan areal 100 Hektar,” t

Dengan bergabung di UPPB petani dapat memperbaiki mutu dengan menyeragamkan umur simpan karet, menyeragamkan bahan pembeku anjuran dan tidak merendam atau mencampur dengan bahan bukan karet.

“Dengan demikian petani akan mendapatkan selisih harga Rp.3 – 4 ribu per kg dibandingkan dengan menjual sendiri sendiri,” jelasnya. (Romi)

Komentar

Berita Lainnya