KAYUAGUNG I Praktik pungutan liar (pungli) di Kabupaten OKI Masih Marak. Kali ini, menimpa para petani di Desa Serigeni, Kecamatan Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Mereka mengeluhkan adanya pungutan dalam penerimaan bantuan benih padi, pupuk dan pomi (semacam perangsang padi biar tumbuh cepat) dari Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman dan Holtikultural.
Amri ketua kelompok tani harapan baru desa Serigeni mengatakan setiap kelompok tani mendapatkan bantuan berupa benih padi dan rata-rata per petani mengambil sebanyak 3 kampil, berikut pupuk dan pomi. Untuk mendapatkan bantuan tersebut pihaknya harus mengeluarkan dana sebesar Rp15 ribu per kampil.
“Pada 2016 lalu per kampil dipungut uang Rp5ribu pada tahun ini setiap petani diharuskan membayar Rp15ribu per kampilnya dimana dalam satu kampil beratnya sekitar 5kilo,” jelasnya.
Menurutnya, hingga kini para petani belum mendapatkan penjelasan peruntukan biaya tersebut. Petugas tidak memberikan keterangan saat menyerahkan bantuan dan meminta setoran. ”Bukan persoalan jumlah uang, tapi masalahnya pungutan tersebut resmi atau tidak,” bebernya.
Kata Amri, jumlah anggota kelompok tani yang diketuainya tersebut sebanyak 40 orang masing-masing anggota diwajibkan menebus bibit bantuan tersebut Rp 15ribu per kampil. “Kami hanya menyalurkan bantuan dari dinas, terkait pungutan uang itu urusan Oknum pejabat diatas pak,”terangnya.
Hal senada juga dikeluhkan Komar yang juga anggota kelompok tani desa Srigeni kampung III dirinya membenarkan terkait pungutan sejumlah uang untuk menebus bantuan bibit dari dinas pertanian. “Memang untuk mendapatkan bantuan benih tersebut para anggota kelompok tani diwajibkan membayar sejumlah uang tapi saya tidak tahu untuk apa resmi atau tidak saya tidak tahu,”jelasnya.
Welli Tegalega SH,Ketua Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM) OKI, menyayangkan kejadian tersebut. Menurut Welly benih untuk petani itu merupakan bantuan bersubsidi yang merupakan program dari pemerintah berupa benih padi. “ Jadi kalau ada pungutan sejumlah uang terhadap petani itu namanya pungli karena bantuan itu gratis,”jelasnya.
Welly meminta pemerintah dalam hal ini Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman dan Holtikultural untuk menyelidiki permasalahan dan keluhan para petani ini jangan sampai kejadian ini dibiarkan berlanjut. “Pungli seperti ini harus segera diberantas jangan dibiarkan karena merugikan para petani kalau ada oknum dinas yang bermain segera ditindak.”cetusnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, tanaman, dan holtikultural OKI, Syarifuddin mengatakan, untuk benih bersubsidi petani dibebankan untuk membayar biaya Rp12500 bukan Rp15ribu. Sementara untuk benih dari kegiatan jaringan irigasi gratis. “Kalau per kampil petani membayar Rp15ribu itu silahkan minta kembalikan uangnya dengan Gapoktannya masing-masing yang jelas karena itu tanggungjawab kelompok tani masing-masing,”jelasnya.
Kalaupun ada dari pihak dinas yang memungut dana tersebut kata Syarifuddin, silahkan buktikan dirinya memastikan akan memenjarakan oknum tersebut. “Saya rasa kalau dari dinas tidak ada kalaupun ada akan saya penjarakan,”tegasnya. (Romi)













