OKI – Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) mengoptimalkan peran Masyarakat Peduli Api (MPA) dalam mencegah dan menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah rawan. Masyarakat dilibatkan mulai dari upaya pencegahan, patroli dan deteksi dini, hingga pemadaman awal serta pelaporan kejadian kepada pihak berwenang.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi Pemkab OKI untuk mempercepat respons di tingkat desa, terutama di wilayah dengan tingkat kerawanan karhutla tinggi dan sangat tinggi. Berdasarkan Peta Sebaran Desa Rawan Karhutla Kabupaten OKI, terdapat 107 desa yang masuk dalam kategori rawan.
Dari jumlah tersebut, 61 desa berada dalam kategori kerawanan tinggi dan sangat tinggi. Desa-desa tersebut tersebar di lima kecamatan, yakni Tulung Selapan sebanyak 17 desa, Pangkalan Lampam 12 desa, Cengal 12 desa, Sungai Menang 11 desa, dan Pampangan 8 desa.
Di tingkat desa, MPA berperan melakukan sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat mengenai pencegahan karhutla, patroli di kawasan rawan, serta pemantauan untuk mendeteksi potensi munculnya titik api. Jika terjadi kebakaran, MPA dapat melakukan pemadaman pada tahap awal sesuai kemampuan dan sarana yang tersedia.
Setiap kejadian kemudian dilaporkan secara berjenjang kepada kepala desa dan pihak berwenang agar penanganan dapat segera ditingkatkan sesuai dengan kondisi di lapangan.
Bupati OKI Muchendi Mahzareki mengatakan, keterlibatan masyarakat menjadi penting karena mereka berada paling dekat dengan wilayah yang berpotensi terjadi kebakaran.
“Karhutla harus dicegah dan ditangani sejak dini. Penguatan peran masyarakat di wilayah rawan penting agar ketika ada titik api, bisa segera diketahui, dilaporkan, dan ditangani sebelum meluas,” ujar Muchendi saat meninjau lokasi karhutla di Desa Pulau Beruang, Kecamatan Tulung Selapan, Selasa (6/10/2026).
Optimalisasi peran MPA juga didukung dengan kesiapan sarana pemadaman darat. Sejumlah peralatan yang disiagakan antara lain penggaruk api (fire rake), pemukul api (fire beater), pompa jinjing, pompa punggung (jet shooter), selang pemadam, nozzle, wire connector, dan sepatu bot.
Ketersediaan peralatan menjadi penting mengingat kondisi geografis OKI yang memiliki bentang wilayah luas. Sejumlah desa dan kawasan rawan juga berada cukup jauh dari pusat pemerintahan kabupaten sehingga kecepatan respons di tingkat tapak menjadi penting.
“Sarana harus memadai agar respons di lapangan lebih cepat dan pemadaman dapat dilakukan sebelum kebakaran berkembang,” kata Muchendi.
Pelibatan MPA di tingkat desa menjadi bagian dari penanganan karhutla yang melibatkan berbagai unsur. Pemkab OKI sebelumnya juga menyiagakan personel gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Manggala Agni, TNI, dan Polri.
Selain itu, terdapat 176 Kelompok Tani Peduli Api (KTPA) yang dibentuk perusahaan di sekitar area konsesi masing-masing untuk mendukung upaya pencegahan dan penanganan kebakaran.
Dengan pola tersebut, penanganan karhutla dilakukan secara berlapis. Masyarakat menjadi bagian dari deteksi dan respons awal di tingkat desa, sementara penanganan dapat diperkuat oleh BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, perusahaan, dan unsur terkait lainnya sesuai dengan skala kejadian.
Muchendi mengatakan pengendalian karhutla membutuhkan keterlibatan seluruh unsur karena api dapat berkembang cepat apabila tidak segera ditangani.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Masyarakat, perusahaan, TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, dan seluruh unsur di lapangan harus bergerak bersama. Semakin cepat api diketahui dan ditangani, semakin kecil risiko meluasnya kebakaran,” ujar Muchendi. (*)
